Sejenak Bersama Komunitas Penulis di Kota Probolinggo


Pancing Kreativitas, Beri Award Seminggu Sekali

KOMUNLIS in action

KOMUNLIS in action (Foto: Radfan Faisal / RB)

Rendahnya budaya menulis dan membaca menginspirasi dua anak muda Kota Probolinggo mendirikan komunitas. Komunlis. Begitu komunitas yang didirikan tahun 2010 itu diberi nama. Bagaimana kiprahnya?

RADFAN FAISAL, Probolinggo

RINTIK hujan mengguyur Kota Probolinggo Minggu (9/6) sore hingga larut malam. Meski begitu, kondisi itu tak menyurutkan anggota Komunlis (Komunitas Penulis) yang terdiri atas penulis kota untuk berkumpul bersama.

Sebuah warung emperan yang ada di depan kampung seni di Jl. Hayam Wuruk, Kelurahan Jati, Kota Probolinggo, mereka pilih sebagai tempat berdiskusi. Dengan secangkir kopi plus sajian mie instan, proses diskusi berlangsung gayeng. Temanya, soal rencana menggarap film indie bersama SS Community, rumah besar Komunlis.

SS Community sendiri boleh dibilang tempat nimbrung-nya beragam komunitas seni. Termasuk Komunlis.

Stebby Julionatan, salah satu pendiri Komunlis menceritakan, komunitas tersebut dibentuk pada 2010 lalu. Bersama Ahmad Fais, staf ahli Fraksi PKB di DPRD kota, ia yang merasa kesulitan mencari komunitas penulis sepakat untuk mendirikan sebuah komunitas. Jadilah kemudian komunlis seperti yang terbentuk sekarang ini.

Bercerita tentang komunlis, Stebby yang eksis hingga sekarang mulai mendekati penulis-penulis muda untuk bergabung di komunitasnya. Pelajar adalah latar belakang penulis muda yang diincar komunitasnya. Maklum, pria yang juga penyiar radio Suara Kota milik pemerintah tersebut menganggap banyak potensi yang dimiliki pelajar.

Anggota dari Beragam Latar Belakang

Bak oase di tengah gurun, keberadaan Komunlis mendapat respons positif dari sesama penulis yang ada di kota. Maklum, untuk komunitas seni lainnya rata-rata sudah terbentuk. Misalnya seni lukis, tari, teater, dan sebagainya. Sementara seni menulis sastra masih belum memiliki wadah yang menggabungkan penulisnya.

Dalam perjalanannya, Stebby kemudian bertemu dengan Natalia Ester Mikael Imakula, seorang pemusik sekaligus pendiri SS Community. Pertemuan mereka terjadi saat gelaran Jazz Gunung 2011 lalu. Bak gayung bersambut, keduanya yang merasa sevisi kemudian bergabung dalam satu wadah tersebut.

“Kebetulan saya juga tertarik dengan dunia menulis, jadi merasa klik ketika bertemu dia,” ujar pemilik nama pena Shenobi Mikael ini sambi melirik Stebby. Saat itu, Stebby yang menggelar bedah buku keduanya yang berjudul Barang yang Sudah Dibeli tidak Dapat Ditukar Kembali butuh seseorang untuk membawakan musikalisasi puisi.

Jadilah kemudian Stebby dan Shenobi berkarya bersama. Kemudian, berturut-turut mereka dipertemukan dengan penulis yang lain seperti Yeti Kartikasari yang berasal dari Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Untuk mengembangkan komunitas tersebut, ketiganya kemudian aktif menggunakan media jejaring sosial seperti facebook untuk menggaet anggota.

Jejaring sosial inilah yang merekatkan hubungan masing-masing anggota meski jarang berkumpul bersama. Maklum, rata-rata anggotanya memiliki latar belakang profesi yang berbeda. Sebagian ada yang guru, seniman, dan banyak lagi yang masih berstatus sebagai pelajar. Alhasil, dengan jejaring sosial mereka kemudian menyambung silaturahmi.

Tidak hanya menyambung persaudaraan, facebook kemudian digunakan oleh administrator yang terdiri atas pendiri Komunlis untuk membuat sebuah program unik yang diberi nama ‘Kamis Sambung’. “Degan program ini, kami berusaha berinteraksi secara intensif dengan seluruh anggota,” ujar Yeti.

Setiap pagi di hari Kamis, admin menyediakan 3 kata atau yang akrab dikenal dengan 3 mantra berisi suku kata. Tidak ada batasan suku kata yang seperti apa, admin memiliki otoritas penuh untuk menentukan 3 mantra tersebut. Dari 3 mantra itu, anggota diminta membuat sebuah kalimat – yang ini juga tidak ada batasan – yang memunculkan 3 mantra tersebut.

Hampir seluruh anggota yang berjumlah sekitar 300 orang berlomba-lomba mengirimkan kalimat terbaiknya. Maklum, untuk menggiatkan program ini, admin tidak sekadar memberikan 3 mantra tanpa reward bagi mereka yang tulisannya bagus. Sesuai dengan kesepakatan, setiap pemenang akan diberi sebuah buku sastra oleh admin.

Berarti admin harus siap dengan dana lebih untuk pengadaan buku? “Tidak juga, malah kami swadaya. Artinya, Komunlis dan program yang kita kembangkan mendapatkan support dari sesama penulis. Nah, penulis-penulis itulah yang bergantian menyumbangkan bukunya untuk pemenang program ini,” jelas Stebby.

Untuk menentukan pemenangnya, setiap malam pascaprogram ditutup, admin kemudian langsung melakukan evaluasi untuk memilih kalimat terbaik. “Ini salah satu usaha kami untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap budaya literacy,” ujar Yeti. Tak pelak, keberadaan Komunlis ini mendapatkan apresiasi dari penulis hampir di seluruh Indonesia.

Tidak hanya itu, seminggu sekali yakni hari Minggu anggota berkumpul untuk menganalisis setiap puisi atau cerpen yang dimuat di media nasional. Seperti Jawa Pos, Radar Bromo, maupun Kompas. Mereka menginginkan, anggotanya melek terhadap karya milik orang lain. Selain itu, analisis terhadap hasil karya yang diterbitkan media-media tersebut menjadi motivasi bagi anggota yang ingin karyanya juga dimuat.

Dalam kesehariannya, Komunlis yang berada dalam rumah besar SS Comunity menjalin sinergisitas yang bagus dengan komuitas yang lain. “Kami seperti saudara, artinya ketika yang satu membutuhkan yang lain siap membantu. Misalnya, Stebby mau buat buku, untuk ilustrasinya memakai anggota komunitas dari seni rupa, jika ada foto pakai fotografer dari kita. Jadi semuanya swadaya, saling bekerja sama,” ujar Ari.

Ketika ditanya terkait tujuan ke depan dari komunitas ini, mereka kompak menginginkan Kota Probolinggo menjadi salah satu kota jujukan budaya literacy. “Kita menginginkan, penulis di sini menjadikan kotanya sebagai tempat jujukan. Kalau bisa di kota sendiri, ngapain harus ke Malang atau Surabaya,” ujar mereka kompak. (aad)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: