MELONGOK PERAYAAN WAISAK DI TITD “SUMBER NAGA” KOTA PROBOLINGGO


Tepat pukul 7 malam, suara genta dan bedug bertalu menandai dimulainya prosesi suci peringatan Hari Raya Waisak 2557 BE yang berlangsung di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) “Sumber Naga” Kota Probolinggo. Prosesi suci yang diikuti oleh sekitar 500 umat Budda Threavada pada Sabtu (25/5) kemarin, berjalan dengan sangat khidmat.

Waisak atau Waisaka berasal dari bahasa Pali merupakan hari suci agama Buddha yang dirayakan pada bulan Mei pada waktu terang bulan (purnama sidhi) untuk memperingati tiga peristiwa penting, yaitu: lahirnya Pangeran Siddarta di Taman Lumbini, Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung dan menjadi Budda di Buddha-Gaya (Bodhagaya) pada usia 35 tahun, dan wafatnya (parinibbana) sang Buddha di Kusinara pada usia 80 tahun.

waisak7

memasang Hio

Dengan mengapit dupa, umat memulai ritual pada malam itu dengan prosesi sembayangan menghadap empat penjuru mata angin. Dimulai dari menghadap ke arah selatan (ke arah luar klenteng) untuk memohon berkat kepada Tuhan dan Dewa Langit, lalu menghadap ke arah klenteng (Kong Co Tan Hu Cin Jin), menghadap ke arah Sang Buddha yang berada di sisi barat, dan terakhir ke arah timur, tempat altar Kong Co Kwan Sing Tee Koen.

waisak1

tampak petugas membagikan dupa kepada para umat…

waisak4

waisak2
tampak salah seorang guru “Sekolah Minggu”, membantu para muridnya untuk menyiapkan lilin dan bunga sedap malam sebelum melakukan jalan Pradaksina
waisak3

Jalan Pradaksina….

waisak5

sujud…

waisak6

menghaturkan sembah kepada Dewa Langit…

“Tidak ada tema khusus dalam pelaksanaan Waisak hari ini. Yang penting bagi kami umat Tridharma adalah melakukan apa yang dilakukan oleh Sang Buddha. Menghindari berbuat jahat, memperbanyak kebajikan dan mensucikan hati dan pikiran,” jelas Erfan Sutjianto, aktifis Buddhish yang menjabat sebagai Ketua II (Bidang Muda-Mudi), yang memimpin ritual Waisak pada malam itu.

Lalu prosesi dilanjutkan dengan melakukan jalan Pradaksina, yaitu berjalan mengelilingi klenteng sebanyak 3 kali. Jalan yang dimulai oleh pengurus ini, diikuti oleh puluhan anak sekolah minggu dan umat di belakangnya. Mereka berkeliling klenteng sambil membawa untaian bunga sedap malam, lilin dan dupa. Dengan mengenakan seragam berwarna merah, anak-anak sekolah minggu itu juga mengikuti ritual tersebut dengan penuh khidmad. Tak lupa, umat juga membaca Parritta (doa) dalam bahasa Pali: “Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta”. Semoga semua mahluk berbahagia.

Sebagaimana diketahui, bahasa Pali, yakni bahasa India kuno selain Sansekerta. Bahasa Pali dahulu merupakan bahasa yang biasa digunakan oleh rakyat jelata dan bukan bahasa Sansekerta yang biasa digunakan oleh kaum bangsawan.

“Peringatan Waisak adalah salah satu penghormatan terhadap Buddha. Namun penghormatan yang tertinggi terhadap Sang Buddha adalah menjalankan dharma,” lanjut pria yang kerap disapa Ayong ini.

Yang penting, lanjut Ayong, adalah menghayati dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Buddha dalam kehidupan sehari-hari.

Saat ditanya harapan, Ayong berharap makin banyak manusia yang berbuat kebajikan.

“Harapannya makin banyak manusia yang berbuat kebajikan. Menghindari berbuat jahat. Sebab kejahatan yang berasal dari satu orang, nantinya akan berimbas besar bagi seluruh umat manusia,” tandasnya mengakhiri wawancara dengan Link Go malam itu. (tby)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: