SEWINDU: PENGENALAN TASARO AKAN MAKNA CINTA


Judul Buku                 : SEWINDU: CINTA ITU TENTANG WAKTU
Jenis                             : Faksi / Inspirasi
Penulis                         : Tosaro GK

Penerbit                       : Metagraf, imprint Tiga Serangkai
Cetakan                        : Pertama, Maret 2013
Tebal                             : x + 382 halaman
ISBN                             : 978-602-9212-78-8
Peresensi                    : Stebby Julionatan *)

aku, Tasaro GK dan resensi Sewindu

aku, Tasaro GK dan resensi Sewindu

Pada suatu titik, Sewindu: Cinta Itu tentang Waktu mengubah pandangan saya tentang penulis, tentang profesi Penulis. Dalam benak saya selama ini terpacak sebuah dogma bahwa penulis yang benar-benar penulis (baca: penulis yang bagus secara kualitas), haruslah orang yang serba “hebat”. Lulus dengan nilai cumlaude dari sebuah perguruan tinggi negeri ternama, punya seabreg prestasi akademis yang menbuat nyinyir bibir siapapun, serta –prestasi sederhana yang paling terlihat adalah- punya posisi tawar yang tinggi di bidang pekerjaan yang pernah atau sedang ia geluti. Tapi ternyata saya salah. Saya (baca: lumayan) salah besar. Tasaro tidak termasuk bagian dari orang-orang yang hebat itu meskipun kita tahu banyak karya-karya hebat yang telah lahir dari guratan penanya.

Dia, Tasaro, hanyalah anak ndeso, asli Gunung Kidul. Tak punya prestasi yang tinggi-tingi amat saat sekolah, malah cenderung sering jadi korban bullying di SMP. Tasaro tak diterima di SMA Negeri, dia lulus SMA dengan nilai ijasah yang juga masih pas-pasan, nggak lolos UMPTN… dan lain sebagainya. Klop lah pokoknya. Apes banget si Tasaro ini. J

Rupanya menulis memang bukan soal tingginya prestasi yang kita miliki sebagai penulis, bukan soal banyaknya kata-kata aneh bin sukar yang bisa kita tuangkan dalam secarik kertas, kata-kata puitis yang serba gagap menyentuh batin. Menulis… (belajar dari pengalaman Tasaro), tulisan tulisan yang baik (baca: berkualitas) lahir dari kejujuran dan ketulusan untuk berbagi.

Sejak kecil Tasaro memang memiliki pandangan yang unik soal pendidikan. Soal sekolah. Menurutnya, sekolah bukan soal hapalan semata, bukan soal angka-angka semata… tapi  lebih kepada pemahaman tentang kehidupan. Ini terlihat pada:

Sayangnya, standar pendidikan, apalagi belakangan, tertalu memuji otak kiri. Standar kepintaran anak diukur dengan angka-angka semata (pelajaran Matematika, pen.). Angka-angka yang entah kapan dipraktikkan. Maunya berbasis teknologi tapi praktiknya menghafal lagi-menghafal lagi. Sekarang dengan pemahaman akan realitas itu, saya jadi mengaerti, mengapa saya tidak tertarik dengan sekolah normal. Kecuali saat SD, karena dulu banyak sekali punya kawan. (hal. 290)

atau pada:

Terutama saya yang sejak kecil meyakini nilai rapor tidak akan pernah menentukan masa depan saya. Saya selalu yakin jauh di masa depan nanti akan ada ruang bagi orang-orang seperti saya. Orang-orang yang tidak terlalu suka dengan matematika. Hahaha” (hal. 291)

Alhasil, itulah kenyataannya. Tasaro berhasil menemukan (bahkan kini menciptakan) ruang bagi orang-orang sepertinya: Ruang bagi orang-orang yang tak suka matematika. Ya, seperti yang telah dijanjikanNya, Tuhan senantiasa memelihara orang-orang yang memeluk mimpinya. Orang-orang yang mau gigih berusaha. Mereka, yang mau berikhtiar untuk mewujudkan cita-citanya.

cover depan Sewindu

Sewindu, buku Cinta Itu tentang Waktu ini, adalah sebuah buku non fiksi yang semula diniatkan Tasaro dan istrinya, Alit, sebagai hadiah pernikahan bagi keponakan mereka, Dian. Buku non fiksi setebal 382 halaman ini terbagi dalam dua bab besar (Tasaro menyebutnya Bagian). Bagian Satu, bercerita soal pengalaman pada masa-masa awal pernikahan mereka, sedang Bagian Kedua adalah selang delapan tahun (sewindu) dari masa-masa penuh keriuhan tersebut.

 Intinya sih, menceritakan keseharian kami setelah menikah. (hal. 158)

Dengan ilustrasi-ilustrasi indah nan penuh warna yang dibuat oleh Bayu, Tasaro bercerita mengenai hal-hal remeh seputar kehidupan delapan tahun pernikahannya. Bagaimana dia harus riwa-riwi antara Bogor-Cirebon, membagi waktu antara pekerjaan dan keluarganya, bagaimana dia akhirnya keluar dari Pondok Mertua Indah dan mendapati istananya senriri, bagaimana masing-masing mereka, Tasaro dan Alit, belajar menjalankan fungsinya (baca: tugas dan tanggung jawab mereka) sebagai suami istri, menantikan kelahiran putra pertama mereka, bersama-sama menghadapi kehilangan yang menyakitkan, menyaksikan tahap demi tahap bayi tersebut hadir dalam pelukan mereka, sampai pada soal bagaimana pendidikan anak-anak mereka kelak.

Hal-hal remeh yang sangat kontemplatif sebab Tasaro menuliskannya dengan penuh kejujuran.

Dari 36 bab yang disajikan, bab yang paling saya sukai adalah Dua Pemakaman. Meminjam istilah Kafka, bab tersebut sungguh seperti “kapak” yang menghantam “laut beku” dalam diri saya. Lama saya termenung setelah membacanya. Tergoncang. Tidak bisa tidur. Bagi saya pribadi, dalam bab tersebut Tasaro “mengajarkan” mengenai arti penting sebuah penerimaan. Tentang pemahaman bahwa kita ini hanyalah alatNya, alat dari semesta yang mestinya dipakai untuk selalu mengerjakan kebaikan. Tasaro mengajarkan pada saya akan arti kesiapan. Sebab siapa saja akan mengalaminya: Meninggalkan ataukah ditinggalkan.

Lebih lanjut, saya suka akan ide-ide Tasaro untuk menghadiahi buku bagi siapa saja yang memiliki hari istimewa. Saya juga suka idenya mengenai “1000 jamaah”. Kesederhanaan yang “luar biasa”, (sekali lagi) menurut saya.

Apakah kesemuanya luar biasa?

Memang…. harus jujur saya akui, tak kesemua bab berpendar luar biasa. Terkadang, dari 36 bab berisi hal-hal kecil seputar pengalaman hidup yang ingin Tasaro bagikan dengan kita sebagai pembacanya, ada bagian-bagian yang bagi saya terasa membosankan. Seperti pada Dia Mencintai yang Saya Cintai, lebih dari 5 halaman Tasaro teru- menerus bercerita soal kawan-kawannya. Kita disuguhi banyak nama teman-teman Tasaro (si A, si B, si C) yang muncul sekelibatan tanpa kita kenal jauh dan terlibat lebih dalam pada emosional tokoh-tokoh tersebut. Atau pada bab Kampoeng Boekoe, dimana Tasaro merasa perlu untuk menyajikan contoh leaflet yang dulu pernah dia bagi-bagikan kepada warga di kompleks perumahannya. Di titik ini saya merasa bosan dan melewatkannya.

Cinta… bagi banyak seniman ia adalah “amunisi” bagi karyanya. Termasuk Tasaro. Dalam Sewindu, cinta mengejawantah menjadi rentang waktu yang menguji komitmen mereka, Tasaro dan Alit, akan ikrar suci pernikahan. Sewindu, Cinta Itu tentang Waktu, adalah rentang waktu delapan tahun perjalanan pernikahan Tasaro dan Alit yang begitu mempesona.

Sebagai penutup (resensi ini), ijinkanlah saya mengutip kembali apa yang dituliskan Tasaro:

Sebab mencintai pada tingkat yang solid adalah komitmen. Terkadang, rasa terombang ambing dan membuat bimbang. Ada waktunya kata-kata mesra sudah terkunci dan sulit dikeluarkan lagi. Namun, ketika komitmen itu terjaga.  Keinginan untuk membangun kehidupan yang  berarti terus dijalani, itulah cinta. (*)

 

*) Stebby Julionatan adalah penyuka dan penikmat sastra yang tinggal di Jawa Timur.
**) resensi ini ditulis dalam rangka mengikuti lomba resensi buku Sewindu karya Tasaro GK yang diadakan oleh Penerbit Tiga Serangkai. Informasi detail lomba resensi, silahkan klik di http://www.tigaserangkai.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: