MONUMENTALITAS AMBA DALAM DUNIA SASTRA TANAH AIR*)


Judul Buku                : Amba, Sebuah Novel
Jenis                               : Novel
Penulis                         : Laksmi Pamuntjak
Penerbit                      : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan                       : Pertama, Desember 2012
Tebal                            : 494 halaman
ISBN                              : 978-979-22-8879-7
Peresensi                   : Stebby Julionatan *)

 

Di Pulau Buru, laut seperti seorang ibu: dalam dan menuggu. Embun menyebar seperti kaca yang buyar, dan siang menerangi ladang yang diam. Kemudian malam akan mengungkap apa yang hilang oleh silau.

Tapi, sesekali, sesuatu bisa terjadi di pulau ini –sesuatu yang begitu khas dan sulit diabaikan– dan orang hanya bisa membicarakkannya sambil berbisik, seperti angin di atas batu yang terus-menerus membalun dan menghilang melalui makam orang-orang tak dikenal. Dan di jajaran lembah di baliknya, seolah melalui puisi dan tenung, ada cerita yang diam-diam menjelma.

Seperti kisah Amba dan Bhisma ini.

*****

Begitulah paragraf pembuka kisah Amba yang dikisahkan oleh Lakmi Pamuntjak dalam novel ini. Sungguh memukau, bukan?!

amba layout

Ya, bagi mereka yang masa kecilnya terbiasa dengan cerita Mahabarata tentu sudah tak asing lagi dengan kisah cinta segitiga antara Amba, Bhisma dan Salwa. Bagaimana Amba yang semula menghendaki Bhisma, sang ksatria pemenang sayembara, mempersunting dirinya, harus menelan kekecewaan lantaran Bhisma sudah terlanjur mengucapkan kaulnya di hadapan para Dewata untuk hidup berselibat demi sang Ayah (baca: Raja Sentanu) dan kedua adik tirinya. Pun demikan yang terjadi ketika Amba memutuskan untuk kembali pada Salwa. Sayang, mantan tunangannya itu sudah kepalang malu, harga dirinya pun telah turut terkoyak, dan Salwa pun turut mencampakkan Amba.

Itulah titik tolak buku setebal hampir 500 halaman ini. Mengambil akar dari kisah pewayangan Mahabaratha yang di-retouch, diceritakan kembali oleh Laksmi dengan mengambil latar masa pergolakan di Indonesia tahun 1965 (baca: Peristiwa G30S PKI).

Amba yang hadir sebagai salah satu karya sastra yang kuat di penghujung tahun 2012 lalu, kisahnya sendiri berangkat dari usaha pencarian Amba (tahun 2006) akan sosok mantan kekasihnya Bhisma, yang tidak ikut pulang setelah semua tahanan gelombang terakhir dibebaskan dari Pulau buru di tahun 1979. Bhisma hilang, tidak ada kabar mengenainya atau keberadaannya.

Tapi setelah gelombang terakhir lepas jangkar pada 20 Desember 1979, Bhisma lenyap. Manalisa merasa telah melihat setiap wajah yang menaiki sekoci-sekoci menuju kapal. Hanya 41 orang yang jadi rombongan penghabisan itu; tak mungkin ada yang luput dari perhatiannya. Tapi wajah Bhisma tak ada di sana. Laki-laki sakti dari pedalaman Buru itu, yang selama ini merasa serba mengetahui, hari itu merasa telah bertemu dengan tandingannya. Bhisma telah meninggalkan Buru untuk menata ulang hidupnya di Jakarta, dan dia melakukannya melalui sihir. (h. 63)

Tentunya bukan perkara gampang mencari sosok Bhisma yang serba misterius itu. Dokter lulusan Leipzig, Jerman Timur itu, rupanya sudah menjelma menjadi semacam Resi. Orang yang dituakan dan disucikan di tempat pembuangannya, Buru. Untungnya, dalam usaha pencarian Bhisma itu, Amba banyak mendapatkan bantuan. Terutama dari Samuel, seseorang “asli” Buru, tapi yang bukan dari Buru.

Samuel besar di Buru tapi apakah ia dibesarkan di sana adalah soal lain. Yang jelas, selama bertahun-tahun orang tuanya menyingkir ke Belanda setelah RMS ditumpas pemerintah di tahun 1950. Namun, umur delapan dia kembali ke Indonesia. (h. 25)

Kisah Amba, dalam novel ini, adalah kisah yang sederhana: Kisah Amba yang meninggalkan tunangannya, Salwa, untuk mengejar dan meraih cinta “sejati”-nya, Bhisma. Tapi tak juga lantas bisa dikatakan bahwa Amba-nya Laksmi Pamuntjak ini adalah novel yang biasa-biasa saja. Di dalam novel yang terbagi ke dalam 7 bab besar ini, Laksmi Pamuntjak mampu meramu kekuatan setting, kedalaman referensi, keragaman diksi dan prosa liris menjadi suatu kesatuan yang menarik. Laksmi, mampu menghadirkan interpretasi yang luas serta berlapis lewat diksi dan prosanya. Pergulatan batin para tokohnya, perkembangan emosi dan pemikiran mereka digambarkan secara dinamis. Laksmi mampu membuat tokohnya “menua” seiring dengan penambahan tahun dalam latar cerita.

Tapi, rupanya hal itu juga yang menyebabkan munculnya lubang pada novel ini. Buku yang kekuatan prosa lirisnya mempesona pembaca sejak awal bab ini, terbilang rumit bagi pemula. Kedalaman referensi Laksmi tentang kekelaman zaman itu, yang kurang liat menyatu ke dalam kisah, menyebabkan lelah dan kebosanan. Terutama bagi generasi yang lahir setelah tahun 80-an, generasi yang hanya memandang peristiwa itu tak lebih dari sekedar ritual upacara bendera setengah tiang atau hapalan pada saat ujian sekolah.

Kekurangan lain, masih seputar penggunaan prosa liris yang mungkin keberadaannya memang dimaksudkan penulis untuk kepentingan estetik, pada beberapa bagian terasa janggal.

Samuel tak yakin apakah momen itu menuntut kebesaran hati atau sesuatu yang lain. Ia pelan-pelan melepaskan pelukannya. Tiba-tiba ia merasa malu sekali. Ia merasa telah berkhianat. “Kamu perlu istirahat,” katanya.

Kembalilah ke kamarmu, ke kamarmu yang biru. Kembalilah ke ingatanmu, aman dan dalam.

Tapi, tak disangka, Amba bersandar pada lengan kirinya. Cahaya temaram, tapi Samuel bisa melihat bulir air matanya.

“Kamu orang baik, Samuel,” katanya. “Tak banyak orang baik di dunia ini. (h. 72)

Tanpa penjelasan sebelumnya, tiba-tiba kata “kamar” itu menyeruak begitu saja di dalam cerita.

Pada ada sisi karakter, karena semua karakter yang dibangun Laksmi adalah karakter yang cerdas (baca: uberman), maka membaca Amba seperti senantiasa membaca Laksmi pada setiap tokoh. Seperti mendengar Laksmi yang sedang bercakap-cakap dengan dirinya sendiri lewat karakter yang lain, bukan melebur atau lekat pada tokoh. Bukan bahasa yang melekat pada karakter. Maksudnya, tak ada beda antara ketika Amba tengah bercakap ibunya dengan Dr. Wasis yang tengah bercakap dengan Samuel.

Novel yang menurut pengakuan penulisnya, dibutuhkan waktu 11 tahun untuk menyelesaikannya ini, terasa cerdas karena Laksmi dengan gampangnnya menaut dan mencerabut kisah-kisah Mahabarata, khususnya kisah percintaan antara Amba dan Bhisma, di dalamnya.

Sebagai contoh, Amba dalam novel ini tetaplah Amba, putri sulung yang memiliki dan juga iri kedua saudara perempuannya, Ambika dan Ambalika. Tetapi Amba dalam novel ini bukanlah putri raja Karsi. Amba dalam novel ini adalah anak Sudarminto, kepala sekolah sebuah sekolah dasar di Kadipura yang tergila-gila pada Serat Centhini, Wedhatama, dan puisi-puisi Jawa lainnya.

Seperti dalam kisah Mahabarata, Amba akhirnya juga tidak berjodoh dengan Salwa, yang sudah dipacarinya sejak dia berkuliah di Jogja. Begitu uniknya cinta, hingga terkadang ia datang begitu saja tanpa pernah bisa ditebak dan dijelaskan asal-usulnya. Amba, yang saat itu mencoba mengatasi kejenuhannya pada perkuliahan dan hubungannya dengan Salwa, berangkat ke Kediri untuk bekerja di Rumah Sakit Sono Walujo sebagai penerjemah. Tiba-tiba, tanpa alasan yang jelas, mendadak Amba begitu saja jatuh cinta pada Bhisma, lelaki yang dilihatnya muncul secara misterius di halaman belakang rumah sakit, pada tautan pertama mata-mata mereka.

Tapi di novel ini, Bhisma tidak menolak Amba. Bahkan, Bhismalah yang pertama kali memerawani Amba sebab Salwa, dalam novel ini digambarkan sebagai pria yang menjaga kehormatan perempuan, senantiasa menjaga kesucian Amba sampai pada saat pernikahan mereka kelak. Di kisah ini, bukan penolakan Bhisma yang membuat Amba tercerabut dari Bhisma, tapi hilangnya Bhisma pada saat penyerbuan di Universitas Res Publica. Ia ditangkap aparat, diciduk dan lantas dilarikan ke Buru.

Bagaimanapun, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, bagi saya pribadi, Amba adalah sebuah karya yang cukup monumental untuk menutup tahun 2012 lalu. Sedikit menyitir apa yang disampaikan oleh penyair Sitok Srengege pada endorsment yang terdapat pada cover belakang Amba, monumental dalam artian, inilah karya yang kembali mengukuhkan bahwa novel Indonesia bukan hanya (novel yang, pen.) berisi bualan dan khayalan semata, melainkan novel yang cerdas dan bernas, yang sekaligus memenuhi kesebandingan antara estetika dan informasi. Amba menjadi monumental bukan karena kerumitan (baca: keindahan) prosa lirisnya atau karena kedalaman referensi yang dimiliki Laksmi, tapi karena kesederhanaan kisahnya yang (mencoba) mengajarkan kita untuk senantiasa menolak lupa dan belajar sejarah. (tby)

*)tulisan ini dimuat di majalah Link-Go edisi 2, tahun 2013.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: