JATIM LUNCURKAN BANTUAN PROGRAM JALIN KESRA


Dalam mewujudkan visi Masyarakat Jawa Timur yang Makmur dan Berakhlak, di tahun 2009-2014, Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, mengejawantahkannya ke dalam misi: Mewujudkan Makmur bersama Wong Cilik melalui APBD untuk Rakyat. Misi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Jawa Timur, bukan untuk segelintir orang saja. Kemakmuran Jawa Timur yang ingin diwujudkan oleh Soekarwo adalah kemakmuran bersama, terutama kemakmuran wong cilik (rakyat kecil).

Seperti yang tertuang dalam Petunjuk Teknis Klarifikasi Rumah Tangga Sangat Miskin Penerima Bantuan Jalin Kesra, Soekarwo berpendapat bahwa wong cilik atau rakyat kecil adalah subjek pembangunan yang keberadaannya tidaklah boleh terpnggirkan dari porses dan hasil pembangunan.

Keberpihakan terhadap wong cilik kemudian diwujudkan Soekarwo melalui strategi penggunaan APBD yang pro poor (berpihak pada penanggulangan kemiskinan) dan pro job (berpihak pada penciptaan kesempatan kerja).

Salah stau program APBD Jawa Timur yang bertujuan untuk menanggulangi masalah kemiskian dan menciptakan kesempatan kerja adalah Program Jalin Kesra (Jalan Lain Menuju Kesejahteraan) Bantuan Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) yang dilaksanakan mulai tahun 2010 sampai tahun 2013. Dengan program Jalin Kesra, diharapkan status rumah tangga sangat miskin yang ada di Jawa Timur dapat diangkat dan diharapkan nantinya mereka (baca: keluarga dengan status sangat miskin) benar-benar mampu keluar dari garis kemiskinan.

Selanjutnya, keberadaan program inilah yang lantas diimplementasikan oleh beberapa SKPD di lingkungan Pemprov Jatim ke dalam beberapa sektor, di antaranya: pertanian, perikanan, peternakan, usaha mikro, perkebunan dan perdagangan.

Berpijak pada latar belakang tesebut, maka pada pertengahan Januari lalu (11/1), beberapa SKPD terkait (baca: Diskoperindag, Disperta, DKP dan Bagian Kesra Pemkot Probolinggo) mendapatkan undangan dari Pemprov Jatim terkait dengan sosialisasi dan koordinasi pelaksanaan program bantuan Jalin Kesra.

“Dengan kemantapan latar belakang dan tujuan yang mulia tersebut, pertengahan Januari lalu, Pemprov Jatim mengundang beberapa SKPD terkait untuk mengikuti sosialisasi program Jalin Kesra, khususnya tentang klarifikasi pendataan RTSM.” ungkap Sekretaris Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag), Abdul Syukur, yang Senin (18/2) lalu ditemui Link-Go di tempat kerjanya

Disampaikan pula oleh Abdul Sukur bahwa dalam pertemuan singkat tersebut, Sekretaris Daerah Provinsi Jatim, H. Rasiyo, menyampaikan bahwa tahun ini Pemprov Jatim telah mengalokasikan anggaran senilai Rp 150 miliar untuk Program Jalin Kesra yang akan diberikan kepada 54.229 RTSM di seluruh Jawa Timur, berdasarkan data dari Bapemas (baca: Pendataan Program Perlindungan Sosial) di tahun 2008.

Lantas, mengapa baru di tahun 2013 ini Kota Probolinggo mendapatkan bantuan tersebut?

“Sebab tahun ini sasarannya adalah kota,” jawab Abdul Sukur, yang saat itu didampingi oleh Kabid Perdagangan, Sugeng Riyadi.

Ada 9 kota di Jawa Timur yang mendapatkan program bantuan Jalin Kesra, antara lain: Kota Surabaya, Kota Mojokerto, Kota Malang, Kota Pasuruan, Kota Batu, Kota Probolinggo, Kota Kediri, Kota Blitar dan Kota Madiun.

Lebih lanjut, Abdul Sukur menjelaskan bahwa sepenuhnya program ini adalah kewenangan Provinsi. “Diskoperindag atau dinas-dinas yang lain hanyalah pelaksana. Sehingga nantinya kalau dalam proses verifikasi (baca: klarifikasi) nanti di lapangan ada yang berbeda, wewenang untuk menggantinya ada pada Provinsi. Bukan di Diskoperindag.”

Dalam pembagian sasaran RTSM, Pemprov Jatim membagi dua kategori, yakni usia produktif dan usia non produktif. Untuk usia produktif diberi bantuan senilai Rp 2,5 juta tapi berupa barang atau hewan (seperti becak, gerobak jualan, sepeda sayur, peralatan pertukangan, mesing giling, dll.). Untuk usia non produktif diberikan bantuan berupa beras 20 kg dan uang sebesarRp 150 ribu tiap bulan selama setahun.

“Tapi untuk Diskoperindag sendiri, seperti yang telah tercantum dalam Juknis (Petunjuk Teknis, red.), sasaran progam ini adalah RTSM produktif, bukan orang per orang. Jadi, apabila nama yang tercantum dalam data awal tidak ada karena meninggal atau hal lain, maka anggota keluarga lain dapat dapat menggantikannya,” jelas pria kelahiran 16 Juli 1957 ini.

“Ada dua tugas pokok kami dalam klarifikasi. Yakni untuk memastikan rumah tangga yang terdapat pada data awal masih memenuhi kriteria RTSM dan RTSM poduktif, dan  menentukan jenis bantuan sesuai dengan potensi RTSM,” imbuh Abdul Sukur.

Diskoperindag sendiri, ada 2 bidang yang bertanggung jawab menangani proses klarifikasi terkait program Jalin Kesra, yakni: Bidang Perdagangan dan Bidang Koperasi & UKM.

Berdasarkan data yang Link Go dapatkan, ada 317 RTSM di Bidang Perdagangan yang mendapatkan program bantuan Jalin Kesra, sedangkan di Bidang Koperasi ada 225 RTSM. Sementara untuk proses klarifikasinya sendiri telah dilaksanakan sejak akhir Januari lalu sampai tanggal 5 Februari.

“Saya berharap bahwa jika nanti bantuan ini sudah benar-benar turun, masyarakat dapat menggunakan dengan baik. Jangan dijual. Digunakan sebaik-baiknya untuk usaha sehingga meningkatkan kesejahteraan kelurganya.” Harap Abdul Syukur.

Ditemui di tempat berbeda,  Kabid Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Sudiman, menjelaskan kalau pihaknya (baca: Dinas Kelautan dan Perikanan) hanya mendapatkan jatah 2 paket budidaya lele dengan terpal.

“Hanya 2. Yakni di wilayah Triwung Kidul, Pak Abdurrohim dan Jrebeng Kidul, Pak Abdurrohman. Berupa paket budidaya lele dengan terpal,” terang Sudirman.

Sementara itu Dinas Pertanian, yang meliputi bidang Pertanian, Perkebunan dan Peternakan menyatakan ada 755 RTSM yang mendapatkan bantuan Jalin Kesra. Dan 21 RTSM non produktif di Kota Probolinggo yang mendapatkan bantuan Jalin Kesra melalui Bagian Kesra Setda Kota Probolinggo. (tby)

 ***********************

 Kriteria RTSM menurut BPS

  1. Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8m2/orang;
  2. Jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan;
  3. Jjenis dinding tempat tinggal dari bambu/rumbia/kayu berkualitas rendah/tembok tanpa diplester;
  4. Tidak memiliki jamban pribadi;
  5. Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik;
  6. Sumber air minum berasal dari sumur / mata air tidak terlindung / sungai / air hujan;
  7. Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/arang/minyak tanah;
  8. Hanya mengkonsumsi daging / susu / ayam satu kali dalam seminggu;
  9. Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun;
  10.  Hanya sanggup makan sebanyak satu/dua kali dalam sehari;
  11. Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas / poliklinik;
  12. Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah: petani dengan luas lahan 500 m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan di bawah Rp 600.000,-/bulan.
  13. Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga : tidak sekolah/tidak tamat SD/hanya SD;
  14. Tidak memiliki tabungan/barang yang mudah dijual dengan minimal Rp 500.000.- seperti sepeda motor kredit/non kredit, emas, ternak, kapal motor atau barang modal lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: