PEREMPUAN, TERUSLAH BERKARYA DAN MENULISLAH!


“Tidak semua orang memilki bakat dan  kemampuan untuk menulis, namun semua orang bisa menuangkan isi hatinya dalam bentuk tulisan”.  Demikian salah satu petikan perbincangan Link Go bersama sosok penulis perempuan, Wina Bojonegoro. Ia hadir ke Kota Probolinggo untuk berbagi ilmu bersama Komunitas Penulis (Komunlis) Kota Probolinggo.

Kegiatan ini berlangsung sederhana. Pada hari Kamis (24/1) sore, dengan duduk lesehan di halaman Museum Probolinggo, para anggota komunitas sastra ini berkumpul mendengarkan kisahnya. Banyak tulisan Wina Bojonegoro yang telah dimuat di berbagai media cetak, baik lokal maupun nasional. Dan tak jarang pula, karyanya juga dikagumi oleh sesepuh yang juga begawan sastra, Suparta Brata.

Dalam kesempatan itu Wina Bojonegoro mengajak para penulis di Kota Probolinggo tidak patah semangat apabila tulisannya masih belum laku dan belum mendapat tempat di hati pembacanya. “Semua perlu proses, seringlah membaca, berinteraksi dengan banyak orang, berbagi pengalaman dengan yang lain,” tegas cerpenis dan novelis perempuan ini.

Sejak usia sekolah dasar Wina Bojonegoro memang dikenal memiliki hobi menulis. Tulisan-tulisannya acapkali menghiasai majalah dinding sekolah, bahkan tak jarang ia menjuarai beragam lomba menulis ketika digelar lomba baik di sekolah maupun di Kadipaten Bojonegoro. Menginjak SMA Wina Bojonegoro sudah bisa merasakan memperoleh honor dari hobinya menulis cerpen. Hobi ini sempat terhenti sesaat ketika dirinya memasuki dunia kerja.

“Sebenarnya tahun 1988 hingga 1990 saya sudah aktif menulis cerpen, tapi jumlahnya terbatas. Tahun 1996 juga sudah merintis membuat novel, hanya saja masih sering bosan. Barulah di tahun 2010 hobi ini saya tekuni hingga melahirkan beberapa buku. Apalagi setelah pensiun dari pegawai Telkom,”ringkas ibu tiga anak ini seputar perjalanan hidupnya menjadi penulis.

Ia memilih profesi menulis bukan tanpa alasan. Selain menyalurkan bakatnya, ternyata ada hal yang jauh lebih penting. Menurut perempuan kelahiran Bojonegoro 10 Agustus ini, menulis adalah sarana meluapkan emosi ketika menghadapi berbagai hal.

“Menulis itu enak lho? Kita bisa jadi siapa saja dalam tulisan kita. Pingin jadi sutradara, bisa; jadi polisi, bisa; menciptakan kebahagiaan, memunculkan spirit bagi orang lain dan apa saja sesuai keinginan kita,” tutur perempuan yang pernah aktif menjadi penggerak pemberdayaan perempuan korban lumpur Lapindo di era 2007 hingga tahun 2010 ini.

Bagi Wina Bojonegoro, menulis merupakan sarana untuk meluapkan uneg-uneg di hati. Karena apabila segala permasalahan dan kejengkelan kita terhadap sesuatu, tidak disalurkan maka membuat seseorang menjadi stress, sehingga mudah sakit. Misalnya, kita jengkel dengan kondisi yang tidak berpihak pada rakyat kecil, jengkel dengan percaturan dunia politik yang tidak sehat, marah dengan keadaan sekitar dan masih banyak lagi.

“Menulis itu seperti hasrat. Sama seperti ketika kita berkeinginan untuk makan, pipis, atau apapun. Jadi ketika kondisi tidak menyenangkan ini terjadi, maka menulislah. Terutama para kaum perempuan. Kita yang seringkali galau, karena katanya kita lebih banyak menggunakan hati ketimbang pikir, maka menulislah! Dengan begitu kita bisa menyalurkan emosi, kekecewaan dan apapun yang bisa menyesatkan pikiran. Menulis itu bisa menyehatkan pikiran lho,” ajaknya bersemangat.

Selain itu profesi tersebut bisa dilakukan kapanpun. Bahkan, menulis bukanlah suatu pekerjaan yang mengganggu. Justru sebaliknya, menjadi sesuatu yang membanggakan. Para kaum perempuan bisa melakukannya sesuka hati tanpa beban.

“Perempuan jangan pernah berhenti berkarya,  jangan selalu menyesali diri dengan kondisi yang kita alami. Berbahagialah dengan dirimu sendiri, membacalah! Karena dengan membaca kita bisa membuka cakrawala pikiran dan kalau mampu, menulislah!,” pesannya dengan nada optimis sebagaimana optimisme Wina Sendiri yang berjanji akan menjadi penulis hingga akhir hayat.

Ia menuturkan, banyak tulisan dari kisah buku harian maupun oretan dari blog, yang diangkat menjadi sebuah film.  Semoga kaum perempuan di Kota Probolinggo ini juga termotivasi menuangkan kisah hidupnya menjadi sebuah tulisan. Dengan begitu selain menyehatkan dirinya, bisa melahirkan sebuah gagasan,  punya teman dimana saja dan juga bisa menjadi sebuah sumber penghasilan.

Beberapa buku tulisannya, Korsakov berisi kumpulan cerpen yang menarik untuk dibaca. Termasuk  Moonlight Sonata dan yang terbaru, The Soul Fantasia. (yul/tby)

APA HARAPAN KOMUNLIS?

Ditemui di tempat yang sama, diakui Stebby Julionatan, Penggagas Komunitas Menulis (Komunlis) Kota Probolinggo, bahwasannya upaya untuk menghadirkan sosok penulis senior Wina Bojonegoro ke Probolinggo adalah untuk meningkatkan kecintaan masyarakat Kota Probolinggo di dunia sastra.

“Sudah lama saya merndukan hal ini. Sejak jaman saya Kang Yuk (2006), ketika seringkali oleh wartawan ditanya apa yang ingin saya kembangkan di Kota Probolinggo, pasti dengan penuh rasa percaya diri dan konsisten akan saya jawab: Mengembangkan dunia menulis, dunia sastra di Kota Probolinggo. Sebab selama ini saya melihat kecintaan masyarakat Kota Probolinggo terhadap sastra masih sangat minim. Masih sedikit yang doyan baca bacaan bermutu,” ungkap Stebby.

“Contohnya ya bisa dilihat dari acara ini. Kalau di Surabaya, mau ketemu ibu yang satu ini (Wina Bojonegoro, red.) ya harus ngantri dulu. Acaranya selalu penuh sesak. Di sini, dikasih gratis, yang datang cuma segini (baca: 11 orang),” keluh mantan Kang Probolinggo yang kini juga tampak aktif mengembangkan dunia musikalisasi puisi dan musik kontemporer lewat wadah SS Community ini.

Lebih lanjut Stebby menyadari bahwa inilah yang dinamakan usaha. Bahwasannya usaha tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Perlu banyak perjuangan di dalamnya.

“Tapi terus terang, saya berterima kasih kepada Wina Bojonegoro, juga kepada teman-teman SS Community dan teman-teman yang lain yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk datang ke acara ini,” tutur Stebby.

Sebelum ini, Stebby juga telah dua kali mengadakan acara serupa, yakni mengundang dan mendatangkan penulis-penulis senior ke Kota Probolinggo.

“Kalau sebelum ini ada Yonathan Rahardjo dan Raghiel Sukriwul. Mereka kan mewakili penulis pria. Sosok maskulin. Kali ini sengaja saya mengundang Wina Bojonegoro untuk yang mewakili sosok penulis perempuan,” terang pemuda yang juga penyiar radio Suara Kota ini.

“Artinya apa? Bahwasannya di dunia menulis pun, tidak ada batasan bagi seorang perempuan untuk merasa dibatasi, untuk berhenti berkarya, untuk duduk dan mengeluh saja. Untuk menerima begitu saja keberadaannya. Menurut saya, perempuan juga harus mampu berdikari. Bahkan bukannya tidak mungkin lho perempuan juga bisa kembali menjadi pemimpin negara,” imbuh Stebby.

Di akhir wawancara Stebby juga mengungkapkan harapannya. Bahwasannya semoga Komunlis bisa terus maju, semoga kecintaan warga masyarakat kota Probolinggo terhadap sastra dan dunia menulis bisa terus tumbuh, dan goal-nya adalah tercipta karya bersama dari teman-teman yang tergabung dalam komunlis.

“Sudah ada ancang-ancang dalam benak saya, bahwasannya saya ingin menggelar acara seperti ini tiap 4 bulan sekali,” pungkasnya menutup sesi wawancara dengan Link-Go. (yul/tby)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: