yang tersisa dari KOPDAR KOMUNLIS…


Ruang Siar. Jumat, 25 Januari 2013….

nini tampil

arik tampil

wina tampil

sore ini, sekitar pukul 16.30 bunda Wina bertolak dari rumahku, menuju Pekalen, Songa, karena ada pekerjaan yang harus beliau kerjakan di sana. well, dua hari bersama beliau, aku mendapatkan banyak pelajaran berharga. tentunya… terutama mengenai dunia menulis dong (ya masak dunia bengkel? :)) .

apa itu????

eits, tunggu dulu. sebelum aku menjelaskannya, aku ingin bercerita buanyaaaaakkkkk… bercerita panjang kali lebar yang menghasilkan luas dulu. (lho?!) mengenai acara kemarin. KOPDAR KOMUNLIS.

yap, KOPDAR KOMUNLIS. KOPI DARAT KOMUNITAS PENULIS… jangan salah mengucapkan dan menempatkan (huruf) L lho. (menarik napas dalam. menghelanya. menarik napas dalam. menghelanya. melakukannya berulang-ulang kali sebelum melanjutkan cerita. :)) fiuuuuuuhhhh… (well, ini bukan suara kentut lho. tapi suara helaan napas. :))

well, akhirnya terwujud juga apa yang sudah aku cita-citakan sejak dulu. aku ingin ada wadah bagi penulis-penulis khususnya Kota Probolinggo… para pembaca dan penggemar sastra di luar forum yang berbasis syiar dan dakwa keagamaan itu agar mereka, yang di luar itu, juga bisa mengapresiasikan dirinya. KARYAnya…

well, atas dasar cita-cita (yang menurut saya) luhur tersebut, lahirlah KOMUNLIS. di tahun 2010. yang digawangi oleh mas Faiz dan saya.

tapi… dalam perkembangannya, kesibukan mas Faiz menyita banyak waktunya. sehingga beban dan tanggung jawab itu akhirnya jatuh ke pundak saya seorang diri. well, berat dong rasanya menanggungnya seorang diri? mangkannya saya sepanjang perjalanan waktu itu pula, saya mencari partner in crime.

silih bergantilah orang yang hadir dan menjadi partner in crime saya. mmm… banyak yang awalnya saya rekut dan saya harapkan bisa kerjasama dengan saya, tapi lama-kelamaan rasanya sudah tidak seazas, nggak sealiran lagi ya atas alasan itulah… akhirnya harus dengan terpaksa saya remome, saya hentikan ikatan kerjasamanya secara sepihak. (dengan seringai ala setan yang kepanasan. :)) well, untuk itu saya haturkan maaf. karena pada dasarnya yang saya inginkan, yang saya cari adalah partner adalah konsekuen dan yang konsisten untuk kemajuan kita bersama. itu saja.

notes komunlis

…. that’s why i wanna thank you for my today’s partner in crime:

temen2 SS Community (Mami Nobie, Mas Arik, Tili, Encep, Billy, Prams, Ganesh, Yoyok, Boncel, dll. *mmmm… siapa lagi ya? mudah2an segera bertambah); mbak Yeti Kartikasari dan Rifqie Riva Amalia. thanks for your support. well, ini untuk “today” lho ya, rek… TODAY. kalau besok atau lusa tiba-tiba saya berubah pikiran, saya dapet temen baru yang lebih S.I.P dan lebih T.O.P.B.G.T dari kalian, dan saya mendadak meremove kalian dari pertemanan saya, ya itu saya nggak tau. 🙂 kan katanya jodoh, rejeki dan maut itu kesemuanya ada di tangan Gusti Pangeran toh? hahahahaha…. 🙂 #peace #kaburSebelumDilemparSandal

balik lagi ke acara kemarin, KOPDAR KOMUNLIS, akhirnya… bersama bunda Wina, akhirnya terwujudlah apa yang sudah aku cita-citakan selama ini.

meski memang masih ada respon-respon negatif seperti: “kok nggak dikasih makan? atau kue? atau, kok nggak ada makanannya?”, tak apa. aku rasa respon itu adalah sebuah rasa kepedulian mereka terhadap komunitas yang sedang aku bangun ini. aku rasa itu demi kebaikan KOMUNLIS ke depannya.

tapi jujur…. kalau aku sendiri bilang, “temen-temen ini pengennya dapet ilmu apa dapet makan sih sebenarnya? kalo pengen dapet makan ya ke warung. kalo pengen dapet ilmu ya datenglah ke acaranya KOMUNLIS.” hehehehe… (ini serius lho!)

ah, sudahlah… yang penting bagi saya adalah kedepannya. bagaimana ke depannya hal-hal seperti itu bisa menjadi bagian dari perhatian dan pertimbangan. termasuk kesiapan tim dalam mengadakan acara-acara seperti ini.

untungnya ada Mas Arief dan Mas Okta… ada mBak Yuli juga… ada Suara Kota yang bisa meminjamiku peralatan sound system yang terlupa disiapkan oleh pihak Museum, ada Mami yang datang tepat waktu dengan membawa kloso-nya… untuk itu semua saya menghaturkan banyak terima kasih. sehingga apa-apa yang sempat miss bisa terhandle dengan baik. terima kasih untuk telah banyak mensuport saya selama ini.

apa sih Bonx pelajaran yang kamu dapat dari bunda Wina???? dah nggak sabar nih… kamu kebanyakan prolognya. huh!!!

tenang… tenang… nggak usah sewot gitu dong. well, okelah ini saya mulai. 🙂

inilah beberapa hal yang aku (atau KOMUNLIS) dapat dari perjalanan kami selama dua hari bersama bunda Wina Bojonegoro:

satu, mengenai bacaan. jangan baca buku-buku yang ringan. bacalah buku-buku yang berat. dalam artian bukan buku yang berat timbangannya, tapi buku yang berat menurut kedalaman isi ceritanya. sebab menurut beliau, membaca buku-buku berat itu kan nggak bisa sekali baca. butuh perenungan. banyak pengayaan baik dari segi materi dan kosakata. dan dengan hal-hal itu, pastinya akan meningkatkan kemampuan kita dalam menulis.

dua, buku adalah jejak. well, menurut beliau, macan mati meninggalkan belang, pelukis meninggalkan lukisannya, pemahat meninggalkan patungnya… nah apa yang bisa ditinggalkan bagi seorang penulis kalau bukan karyanya. buku! harus buku ya, bun?! yaa…. menurut bunda sih harus. sebab percuma kalo nulis di media mana-mana tapi tidak punya rekam jejak berupa buku. sebab buku adalah jejak. (sepertinya yang ini saya sangat sepakat!)

tiga, buatlah diskusi cerpen. “jadi… untuk komunlis, sebagai awalan, mungkin memang sedikit berat kalau mengadakan acara seperti ini setiap minggu. setiap bulan. saya paham lah itu. terutama yang jadi motor. kasihan dia aku tahu itu. harus ngurus ini itu. sana sini.” begitulah kata buda Wina… (ah, buat aku jadi tersanjung. hehehehe) “tapi kalo mau niat.. mau maju, mau terus belajar… memang harus ada suatu kegiatan yang secara kontinyu dilakukan. harus ada sesuatu yang dikerjakan. mmm… kenapa tidak memulai dari sesuatu yang kecil-kecil dulu. yang bisa dilakukan setiap minggunya. seperti diskusi cerpen?”

twiiiiinggggg…. AHA!!!! usul yang mantap, bunda….

dan mempertimbangkan masukan nomer tiga dan nomer satu, saya rasa cerpen yang didiskusikan pun adalah cerpen yang emang punya bobot. bukan cerpen yang biasa. ya biar itu tadi… biar kita punya bahan pengayaan terhadap karya kita ke depannya. aaaahhhhh… so sweat. 🙂

well, kiranya ini catatan Dodol dari penulis Longor mengenai simpulan dari acara kopdar kemarin yang ingin saya bagi… 🙂

semoga berguna!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: