KADO NATAL YANG MENGESANKAN


@Puncak Menara, sebuah catatan kecil di Awal Tahun 

AKHIRNYA BERTEMU JAMBU AIR

wif ayu

Aku kira pujian tampil ketika acara Lan Fang (baca: Tribute to Lan Fang) kemarin sudah cukup mengesankan bagiku, menjadi sebuah kado, hadiah Natal terindah, yang menjadi penutup paling manis di tahun ini.

Tapi siapa sangka, nasib berkata lain. Tuhan membawa saya pada suatu putaran keberuntungan yang lain, yang lebih besar tentunya.

Aku (akhirnya) bertemu Ayu Utami (a.k.a. Jambu Air), penulis favoritku. Tidak hanya bertemu, tapi kami juga hang out dan makan malam bareng di Timlo Jempol. Cihuyyyy….

#ketjupBundaSanie

Well, segalanya memang bermula dari acara di Lan Fang. Di sana aku bertemu dengan Sanie B. Kuncoro, yang selanjutnya aku panggil dengan sebutan Bunda Sanie. Bagaimana tidak?! Gimana aku nggak memanggil beliau dengan sebutan “bunda”?! Lha wong beliau tuh dah mulai menulis di Anita sejak jaman aku belum lahir. Sekitar tahun 80’an. Maka, dengan kata lain beliau ini sebenarnya dah ……. (silahkan diisi sendiri titik-titiknya ya…, karena aku nggak berani ngisi. hehehehe…. peace, Bunda.), tapi masih terlihat muda dan sangat cantik. Sungguh, aku mengagumminya.

Dan pertemanan kami pun dimulai.

Menginjak akhir tahun, aku bilang kepada Bunda Sanie kalau di akhir tahun aku dan keluarga ada acara ke Jogja. Mau merayakan Natal atau Tahun Baru di sana.

“Bun, kalau ke Jogja aku boleh mampir ya???” tanyaku ketika itu.

Maka permintaanku pun dikabulkannya. Malah dalam inboxnya kepadaku beliau bilang, “Kalau ke Solo mending tanggal 27 aja, Steb. Ada Ayu’ bedah buku di sini. Aku moderatornya.”

Whaattt????!!! Ayu”?! Ayu’ Utami, Bun?!

Serasa hatiku terjun dari ketinggian 3000 kaki ketika itu. Seperti ikutan bunggie jumping di Legian. Wow… really??!!! Aku masih mencubit-cubit pipiku. Menamparnya. Memeriksa kesadaranku. Oucth, sakit!

Beneran. Tak seberapa lama dari pemberitaan itu, Bunda Sanie pun men-tag aku pada photo banner acaranya tersebut.

Cihuuuuyyyy….. Aku harus ke sana. Harus! WAJIB!!

Akhirnya rencana pribadiku pun berubah. Keluargaku sih tetap dengan rencananya Natalan ke Jogja, tapi aku-nya melenceng ke Solo. Sendirian. Memenuhi undangan yang sudah dibentangkan Bunda Sanie dengan tangan terbuka.

Acara Natalan bersama keluarga aku belokkan menjadi acara Natalan bersama para penulis senior ini. Hehehe… Terima kasih banyak, Bunda Sanie.

Maka dimulailah perjalananku ke Solo. Tepat pada tanggal 26 Desember, sehabis Ibadah Natal Kedua dan siaran, sekitar jam 9 malam, aku berangkat.

TAK HANYA BERSAMA JAMBU AIR

Di Solo aku tinggal di rumah Bunda Sanie.

Wow… for my first immpression, sungguh rumah yang mengagumkan! Apalagi perpustakaan pribadinya, yang juga (kurasa) adalah ruang kerja beliau, adalah sudut yang paling kusuka dari rumah itu. Dan betapa beruntungnya saya, aku tidur di situ. Di sudut favoritku itu.

“Rumah ini sangat ART!” gumanku.

Well, di Solo aku juga bertemu dengan Bunda Nita (Nita Tjindarbumi, yang kebetulan memang sama-sama menginap di rumah Bunda Sanie) dan Bunda Astuti (Astuti Parengkuh). Keduanya juga adalah penulis-penulis senior. Salam takjim saya juga untuk beliau berdua.

Seharian bersama mereka (Bunda Sanie B. Kuncoro, Bunda Nita Tjindarbumi, Bunda Astuti Parengkuh dan Ayu Utami) sungguh membuatku banyak belajar. Belajar pengalaman mereka menulis tentu saja.

Di acara itu (baca: bedah buku Lalita) saya juga banyak bertemu dengan teman-teman penulis yang lain, yang semula hanya saya kenal lewat media jejaring sosial facebook ini. 🙂

Akhirnya… saya bertemu dengan Mas Han Gagas dan Rantinah Sastra. 🙂

Senang berkenalan denganmu secara langsung, Mas…, Ranti…. 🙂

AKU ADALAH ORANG YANG BERUNTUNG

Biar saja orang bilang saya norak, atau mungkin beliau-beliau ini (baca: bunda Sanie, bunda Nita, bunda Astuti dan Ayu Utami), ketika membaca notes saya ini, juga bilang saya norak. Saya tak peduli. Karena kenyataannya memang begitulah perasaan yang berkecamuk di hati saya saat itu. Saya norak-norak abis! Hehehehe.

Saya bener-bener seneng. Titik!

Istilahnya, mungkin saya penulis yang baru turun gunung, baru turun dari tempat pertapaan dan baru pertama kali lihat kota. Hahahaha…

Saya merasa, saya adalah pungguk yang beruntung. Pungguk yang beruntung, yang secara nggak sengaja ketumpahan serbuk peri dan akhirnya bisa terbang ke bulan. 🙂

Terima kasih, Tuhan… (kau memberiku kesempatan bertemu mereka)

Kali ini, menutup notes saya di awal tahun ini, mungkin ada sedikit renungan yang ingin saya bagi seputar keberangkatan saya ke Solo di penghujung tahun 2012 lalu. Intinya, bagi saya…. “(sepertinya) Yang terpenting bukanlah bagaimana kita bisa (akhirnya) bersahabat dan diterima dalam pergaulan mereka. Tapi bagaimana kita bisa menerapkan ilmu yang sudah bersedia meraka bagi dengan kita dengan tangan terbuka. Termasuk membuat mereka bangga… bahwasannya kita memang layak menjadi sahabat meraka. Layak mengidolakan mereka.”

Selamat Tahun Baru 2013….

Ijinkanlah aku (sekali lagi) mengucapkan terima kasih. Terima kasih banyak, bunda Sanie B. Kuncoro

#CatatanPerjalanandiAwalTahun.

mengantri tanda tangan Ayu Utami….

Advertisements

One Response to “KADO NATAL YANG MENGESANKAN”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: