PROBOLINGGO BUKANLAH NEGERI BADUT


(sebuah analisa kritis atas Penyelenggaraan Kang dan Yuk 2012)

Oleh: Stebby Julionatan *)

Sabtu (24/11) silam, Perhelatan Pemilihan Duta Wisata Kang dan Yuk Kota Probolinggo 2012 telah selesai digelar. Pemenangnya pun sudah terpilih. Tapi siapakah mereka? Siapakah sosok pemuda yang berhak menyandang selempang kehormatan itu? Tak banyak yang tahu. Rupanya, hanya senyap yang mengiringi jejak mereka (baca: para finalis) dari proses seleksi sampai dikukuhkan sebagai duta wisata Kota Probolinggo.

Sepinya informasi dan promosi mengenai perhelatan Kang dan Yuk ini membuat mereka tak dikenali oleh elemen masyarakat yang diwakilinya (baca: pemuda). Bahkan setelah perhelatan tersebut berlangsung, tak sedikit yang terbengong-bengong heran, dan bertanya: “Oalah, wes mari toh pemilihane? Sopo seng menang? Kok nggak onok rame-rame koyok ndisek yo?”

“Oh sudah toh pemilihannya? Siapa yang menang? Kenapa kok tidak ramai seperti dulu?” Begitulah beberapa pertanyaan masyarakat yang tertuju pada saya di angkringan, di malam yang sama dengan malam pelaksanaan grand final pemilihan duta wisata Kang dan Yuk 2012 tersebut. Terus terang, hal ini, ketidaktahuan masyarakat ini, membuat saya gelo. Kok nggak tau sih?!  Padahal setiap hari, setahu saya, Suara Kota, selaku salah satu media informasi yang dimiliki Pemkot telah memberitakannya. Tapi saya hanya bisa mbatin dalam hati. Saya hanya berpikir, mungkin mereka bukanlah pendengar radio fanatik atau memang tidak ada radio di rumah mereka.Saya berusaha membesarkan hati.

Rupanya kekecewaan saya tak hanya berhenti di malam itu saja. Masuk kerja di hari Senin (26/11), beberapa ibu yang mengetahui bahwa saya dulu pernah mengikuti ajang serupa pun bertanya hal yang sama dengan apa yang malam itu ditanyakan oleh pengunjung angkringan, “Kang Yuk sopo pemenange?”

“Kang Yuk siapa pemenangnya?” Saya pun menjawab jujur pertanyaan ibu-ibu tersebut dengan mengatakan bahwa saya tidak hadir pada acara tersebut. Saya tidak mendapatkan undangan. Lalu sebelum para ibu itu bertanya lebih jauh lagi mengenai mengapa panitia tidak mengundang saya, saya menyarankan kepada mereka untuk membaca informasinya di surat kabar yang terbit di hari Senin pagi tersebut.

Malang tak dapat dinyana, tak biasanya surat kabar lokal yang biasanya (baca: di tahun-tahun sebelumnya) cukup vokal membicarakan tentang perhelatan itu kini bergeming. Tak ada satu pun tulisan mengenai ajang Pemilihan Duta Wisata Kota Probolinggo 2012 ini. Tampak seakan perhelatan ini bukanlah suatu acara yang penting untuk diberitakan. Tak layak berita.

Apa yang salah?

Memang tak salah jika masyarakat mempertanyakannya: Mengapa gelaran kali ini tak sesemarak tahun-tahun sebelumnya? Sebab, sebagaimana kita ketahui bersama, pemenang Kang Yuk adalah salah satu ikon pemuda Kota Probolinggo yang nantinya akan mewakili Pemkot di ajang berikutnya (baca: Raka Raki Jawa Timur) dan mengemban misi khusus untuk mengembangkan sektor pariwisata Kota Probolinggo, bersama Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata (Dispobpar) selaku leading sector-nya. Namun, ketika hal ini menjadi tak layak muat di media, di manakah letak kesalahannya? Dan masih perlukah ajang seperti ini dipertahankan untuk tetap dilaksanakan?

Masih perlukah ajang ini diadakan ketika sudah tidak menarik?

Ketika disodori pertanyaan seperti di atas, sebagai pemuda, saya masih merasa bahwa ajang Kang dan Yuk ini masih perlu untuk diadakan. Sebab melalui kegiatan-kegiatan seperti ini, pemuda mempunyai wadah yang bisa menampung ide-ide kreatif mereka, menyalurkan bakat mereka dan menjadi sosok, penggerak, yang bisa dicontoh oleh sebayanya.

Lantas, di mana letak kesalahannya?

Ketika eksistensi mereka tak ter-blow up media, menurut saya ada dua hal yang patut mendapat sorotan di sini. Yang pertama, dari Kang Yuk-nya sendiri, selaku objek berita. Dimana setelah “kasus Bagas”, mereka terkesan bukan lagi figur yang tepat untuk bisa mewakili mayarakat Kota Probolinggo. Mereka bukan lagi “sesuatu” yang layak untuk diberitakan. Tak punya daya jual. Tak punya bargaining position. “Tak layak berita” dalam istilah jurnalistiknya. Yang kedua, adalah dari penyelenggara acara. Dari Event Organizer (EO)-nya. Mengapa EO yang sudah diserahi tugas dan tanggung jawab (dari Pemerintah) untuk dapat mengemas acara ini sebagus dan semenarik mungkin, bisa keluputan? Bisa “tidak menarik”?

Mari kita bahas hal ini dari yang pertama dulu, dari figur Kang Yuk-nya sendiri dan sejauh mana peran mereka (sejak awal keberadaan ajang ini di tahun 1997, dan kini sudah menginjak pemilihan yang ke-7) bagi perkembangan dunia pariwisata Kota Probolinggo?

Saya masih ingat, dalam proses seleksi dan karantina pastinya mereka ditanya: Apakah yang akan mereka lakukan ketika mereka terpilih menjadi duta wisata, Kang dan Yuk Kota Probolinggo? Pastinya, jawaban (diplomatis) mereka, termasuk saya ketika itu, adalah “untuk mempromosikan pariwisata Kota Probolinggo”.

Tapi… kembali lagi muncul sejumlah pertanyaan: Promosi yang seperti apa? Seperti apa bentuknya? Sejauh mana peran mereka? Sejauh mana kontribusi mereka dalam mepromosikan pariwisata kota?

Apakah cukup dengan menjadi pembawa nampan dan pengalung bunga seperti anggapan miring masyarakat selama ini sudah cukup mempromosikan pariwisata Kota Probolinggo? Apakah dengan menjadi MC, penyanyi dan model catwalk yang hilir mudik di berbagai panggung sudah dirasa cukup untuk mempromosikan pariwisata Kota Probolinggo?

Saya yakin, Anda dan saya akan tegas berkata: “TIDAK.” Bukan. Bukan seperti itu yang dimaksud dengan mempromosikan daerah (baca: Kota Probolinggo). Perlu tindakan nyata yang langsung menyentuh masyarakat. Melalui beragam kegiatan sosial, berperan aktif dalam kegiatan kesenian (utamanya kesenian tradisional), pendidikan, termasuk di dalamnya adalah melakukan perubahan paradigma generasi muda yang selama ini telah terbius oleh nilai-nilai pragmatis dan modernitas.

Tak ada yang salah dengan nilai itu (baca: pragmatis dan modernitas) tapi sudah menjadi tugas seorang duta wisata untuk berperan aktif dalam menjaga dan melestarikan kekayaan budaya daerah (local wisdom).

Berbicara tentang local wisdom, tentang kekayaan budaya daerah, hal ini ada kaitannya dengan poin kedua yang ingin saya bahas dalam esai ini. Bahwasannya ajang tersebut menjadi ajang yang tak menarik bagi masyarakat Kota Probolinggo dikarenakan ajang tersebut tak lagi mencerminkan ke-Probolinggo-an.

Kita mungkin sama-sama sepakat bahwasannya perhelatan duta wisata Kang dan Yuk haruslah menjadi ajang untuk mempromosikan kekayaan budaya daerah Kota Probolinggo. Tapi yang terjadi di tahun ini, bisakah kita bisa bilang bahwa acara tersebut mencerminkan ke-Probolinggo-an jika semua penyaji, juri, MC, hiburan dan lainnya yang terlibat dalam acara itu mayoritas berasal dari luar kota (baca: Malang).

Tak menjadi masalah jika kita memakai dan menggunakan tim pendukung dari luar kota, tapi apakah yang disebut sebagai “tim pendukung” itu jumlah kuotanya harus lebih besar dari “tim inti”-(baca: orang Probolinggo)nya sendiri? Saya rasa tidak. Untuk juri, saya sepenuhnya yakin, kompetensi orang Probolinggo juga tidak kalah dengan orang luar kota. Saya rasa Probolinggo bukanlah Negeri Badut sehingga EO Kang Yuk perlu bersusah payah untuk mengimpor orang-orang “pandai” bin “intelek” dari luar kota itu.

Saya juga tidak menutup kemungkinan terhadap pendapat yang mengatakan bahwasanya hal itu ditempuh (memilih juri dan pendukung acara yang berasal dari Malang) sebagai langkah penguatan terhadap hasil Kang dan Yuk 2012 ini di ajang Raka Raki Jawa Timur. Orang yang punya otak manapun pasti akan secara rasional berpikir, bahwasannya jika hal tersebut yang menjadi proyeksi Kang dan Yuk 2012 ke depannya, pastinya akan mengunakan juri-juri yang berlevel Jawa Timur. Bukannya yang berlevel Malang. Bukankah sama saja antara Malang dan Probolinggo?

Hal ini membuat saya jadi mempertanyakan kompetensi juri-juri yang digunakan di ajang Kang Yuk 2012 ini. Memang, salah satunya adalah kawan saya sendiri, Rizky Sulistyowati, Raki Jatim 2007, tapi bagaimana dengan kedua juri yang lainnya? Apakah juri yang berasal dari dunia modeling mampu menilai kapasitas otak yang dimiliki oleh calon Kang dan Yuk ini? Mengingat Kang Yuk bukanlah perlombaan modeling.

Kempali pada pertanyaan: Di mana letak kesalahannya sehingga perhelatan Kang dan Yuk Kota Probolinggo Tahun 2012 ini sampai bisa sepi dari hiruk pikuk pemberitaan media masa? Saya rasa dua hal inilah yang harus benar-benar diperhatikan oleh Dispobpar selaku leading sector di mana Kang dan Yuk ini berpayung nantinya. Mengingat Kang Yuk bukanlah perlombaan modeling yang sekali setelah diumumkan nama pemenangnya maka selesailah tugas EO sebagai penyelenggara acara. Dispobpar (beserta EO) perlu menjalankan fungsi pembinaan berkelanjutan terhadap mereka (Kang Yuk Kota Probolinggo) sampai mereka menyerahkan tugas dan tanggung jawab aktif dalam mempromosikan pariwisata kota kepada generasi berikutnya. Termasuk menyerahakan kegiatan ini kepada EO yang benar-benar concern terhadap perkembangan gererasi muda, bukan EO yang money oriented belaka.

Akhirnya, Kang dan Yuk tahun 2012 pun telah terpilih. Kang Adien (dari SMAN 1) dan Yuk Dina dari (SMA Taman Madya). Tinggal kita lihat saja nanti apakah mereka, hasil dari penyeleksian tahun ini mampu berjaya di Raka-Raki 2013. Semoga!

*) penulis adalah Kang Kota Probolinggo 2006

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: