MENJADI PEMUDA YANG TAK MENOLAK DIDIKAN


Tukang pangkas rambut itu tersentak. Bagaimana tidak, salah seorang pelanggannya yang baru saja ia pangkas rambutnya mengatakan kalau dia tidak ada. Tukang pangkas itu tidak ada. He doesn’t exist.

“Tukang pangkas rambut itu tidak ada.” Kata pelanggannya itu tegas di hadapannya.  Saya tidak pernah percaya kalau tukang pangkas rambut itu pernah ada, mungkin bisa diartikan seperti itu. Yang mana, di sebelah pelanggannya yang baru saja ia pangkas rambutnya itu, telah berdiri seorang pengemis, seorang gelandangan, berwajah kucel, tak pernah mandi, berambut gimbal dan compang-camping yang baru saja ia olok-olok terkait ketiadaan TUHAN dalam kehidupan ini.

Ia ingat, sesaat lalu pelanggannya itu bertanya: “Kenapa kau bilang bahwa Tuhan itu tidak ada?”

“Kau lihatlah pengemis itu!” seru tukang pangkas rambut kepada pelanggannya itu. “Si gelandangan yang senantiasa mencari derma di depan kios pangkas rambutku ini. Kalau Tuhan itu ada… kalau Tuhan yang Maha Baik, Maha Adil dan Maha Kaya itu ada, mana mungkin di dunia ini masih ada pengemis?!” gerutunya berapi-api.

Ia bangga ketika mendapati lawan bicaranya itu, si pelanggannya itu, tidak bisa berkata apa-apa. Tidak bisa menyangganya saat dia berorasi, menyampaikan keyakinannya bahwa Tuhan itu doesn’t exist. TIDAK ADA.

Ia ingat, tadi pelanggannya itu hanya berkata “oh” lirih, bahkan sepertinya lebih tak terdengar lagi. Seperti sayup angin yang paling senyap. Ia melihat, sepertinya tadi pelanggannya itu hanya mengangguk, mengiyakan.

Tapi… mengapa sekarang ia berdiri di sini???

Ia, pelanggannya itu, berdiri dengan penuh keyakinan sambil tegas berkata, “Tukang pangkas rambut itu tidak ada.” Padahal tadi, jelas-jelaslah tadi ia yang memotong dan merapikan rambut pelanggannya itu.

“Kenapa?” Lalu ia bertanya kepada pelanggannya itu. Masih dengan emosi yang dapat ia redam. “Padahal kau sendiri sadar, kau sendiri tahu, bahwa baru saja akulah yang memangkas dan merapikan rambutmu itu dengan kedua belah tanganku sendiri.” Lanjut tukang pangkas rambut itu.

Dengan  tenang sang pelanggannya itu menjawab, “Kalau tukang pangkas rambut itu ada, kenapa masih saja ada orang berambut gimbal seperti yang ada di sebelahku serakang ini?” Tanyanya.

Tentu saja tukang pangkas rambut itu marah. Ia emosi. Ia tidak terima dikatakan seperti itu. Apalagi oleh pelanggannya sendiri.

Lalu dengan emosi yang masih meletup-letup dalam dirinya, dia menjawab. Hampir seperti berteriak-teriak. Dengan angkuh, dengan tajam: “Tentu saja dia tidak rapi sepertimu! Dia gimbal dan awut-awutan! Dia compang-camping! Bagaimana dia bisa memiliki rambut yang rapi dan lembut seperti yang kau punya kalau… meskipun dia berada dekat denganku… meskipun dia mencari derma dengan menumpang pada pojokan kios pangkasku… kalau dia tidak pernah datang kepadaku, memohon, meminta tolong kepadaku untuk memangkas dan merapikan rambutnya.”

“Itulah Tuhan.” Jawab pelanggannya singkat.

Sontak ia pasi. Amarah tukang pangkas rambut itu yang semula meluap mendadak reda. Bibirnya terkatup, terbuka, kemudian terkatup lagi.

******

“Bagaimana mungkin kau akan merasakan kasih karunia dan keberadaan Tuhan bila kau tak pernah menghampiriNya, mengetuk pintuNya dan benar-benar meminta tolong kepadaNya.”

Inilah kisahku. Kisah tentang Pemangkas Rambut itu yang kemarin lusa kukisahkan kembali pada adikku itu.

“Tadi ku angkuh, kini heran: Tuhan besarlah rahmatNya.” KJ 39: 1

Ibadah Minggu pagi ini juga bercerita soal kamum muda. Sebagaimana lirik lagu Bang Haji, Rhoma Irama: “Darah muda darahnya para remaja. Yang selalu menang sendiri, walau salah tak peduli. Darah mudaa…..”

Tapi benarkah hanya orang muda yang seperti itu? Hanya orang muda yang darahnya berapi-api? Yang walau salah tak peduli akan kesalahannya?

Titus 2: 1-6 menjawabnya: Menjelaskan tentang kewajiban orang tua, pemuda dan seorang hamba. Intinya, para tetua memang berkewajiban untuk mendidik, untuk mengajar dan memberi contoh suri tauladan. Sebaliknya yang muda, jangan merasa menang sendiri. Merasa paling benar sendiri. Dengarkanlah didikan para tetua itu. “Kuasailah dirimu sendiri dalam segala hal.”

Hal ini juga ada pada Kitab Perjanjian Lama, Amsal 16:32, yang berbunyi: “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirnya melebihi orang yang merebut kota.”

SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA, Kawan…

Jadilah selalu pemuda yang setia pada Tuhan, dan pemuda yang tak pernah menolak didikan dan pengajaran yang baik

Advertisements

2 Responses to “MENJADI PEMUDA YANG TAK MENOLAK DIDIKAN”

  1. nice post kawan. salam sejahtera.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: