AGAMA, TUHAN, SPIRIUALISME KRITIS DAN 100 HARI KEPERGIAN OPA


Tak terasa sudah 100 hari Opa pergi meninggalkan kami. Ia naik ke Sorga. Mengakhiri pertandingannya dengan baik.

Rumah ini, Letjes, kali ini mengepul. Tungku-tungku menebarkan beragam bau harum masakan. Bukan bermaksud untuk apa… kami tak membenturkan dengan apa yang dimaksud dengan syariat agama dengan adat, dengan nilai-nilai budaya yang berlaku dalam masyarakat.

Karena kami pasti tahu, bahwa sejatinya agama itu demikian, nilainya selalu benar salah, selalu hitam dan putih. Ia, dapat saya pastikan, (aturannya) tak pernah berubah. Beda dengan budaya, dengan adat. Karena sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa budaya adalah hasil dari proses cipta, karya dan karsa manusia. Di mana nilai-nilai itu, pastinya dapat mengalami penyusutan maupun pengembangan, mengalami generalisasi… spesialisasi… ameilorasi… maupun penyorasi.

Intinya kami, dengan mengadakan “selamatan” ini hanya sekedar mengucap syukur bahwa kami (keluarga Kippuw – Teterisa) boleh pernah merasakan kehadiran dan kasih sayang Opa dalam kehadiran kami. Di samping itu, kami juga mensyukuri karya penyertaan Tuhan dalam kehidupan kami dimana sampai detik ini, kami, keluarga lepas keluarga boleh hidup rukun dan saling menyayangi satu sama lain.

Ngomong soal agama, tentang Tuhan, tentang spiritualisme, semalam (akhirnya) aku menceritakan kisah Sang Pemangkas Rambut itu kepada adikku, Seba. Sekedar sharing, bahawa dulu aku juga pernah mengalami masa-masa yang sama dengan apa yang dirasakan adekku saat ini. Masa-masa krisis spiritualitas. Masa-masa menyangsikan kehadiran Tuhan dalam kehidupanku.

“Bagaimana kau mau merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupanmu, kalau selama ini kau tak mau mendekat padaNya?”

Tidak. Saya tidak menyalahkan mereka yang semula mengambil jalan Atheis. Seperti Marx, seperti Nietzsche, Freud atau Einstein. Tapi terus terang, kita sebenarnya dapat belajar pada mereka, pada pengalaman hidup mereka, yang di akhir kehidupannya, menurut tulisan tangan pada journal harian mereka sendiri, akhirnya mereka mengakui kehadiran dan campur tangan Tuhan dalam kehidupan mereka.

Ketimbang menjadi Atheis, kusarankan kepada adikku itu untuk menjadi seorang Spiritualisme Kritis.

Jalan mereka, para penganut Atheis itu, kurasakan hanyalah sebentuk perlawanan terhadap rutinitas-rutinitas, terhadap ritual-ritual, terhadap ibadah-ibadah yang cenderung membosankan, “menyesatkan” dan terkotak-kotak. Mereka-mereka ini adalah para ahli, para ilmuwan yang tentunya memiliki pola berpikir yang berbeda dengan orang awam. Mereka sudah tidak lagi berpikir bahwa setelah A adalah B. Bagi mereka, setelah A bisa C atau D. Tentunya mereka tak ingin tersekat-sekat. Tak ingin terkotak-kotak. Ilmu mereka saja sudah menembus semua itu, ya tentunya hal itu juga berlaku pada pola pikir mereka. Namun sayang, mereka mengambil jalan yang salah dengan menisbihkan arti “Tuhan”.

Seorang Spiritualisme Kritis tak seperti itu. Seorang Spiritualisme Kritis percaya akan TUHAN, ia beribadah dan beragama tapi tak terjebak pada RUTINITAS dan RITUAL.

Menurutku, dalam tatanan keberagamaan masyarakat awam (istilah yang saya gunakan sebagai kata ganti terhadap masyarakat yang memiliki ilmu agama yang masih rendah atau awam soal agama) memang nilai-nilai ibadah, nilai-nilai keagamaan memang harus diajarkan dalam bentuk rutinitas,  dalam bentuk ritual yang ketat. Sebab, sebagaimana proses belajar, bukankah kita harus melalui fase-fase menjadi seorang beginer dan intermediet dulu sebelum menjadi seorang expert?! Harus ada tahapan-tahapan cara-caranya dulu, langkah-langkah yang bertahap sebelum orang itu menjadi expert. Sebagaimana kita sekarang bisa dalam sehari membaca novel yang tebalnya beratus-ratus halaman, tentunya dulu kita lalui dengan mengeja, membaca dan menghafalkan abjad tunggal terlebi dahulu.

Saya, seperti apa yang senantiasa saya katakan sebelum-sebelum ini, tetap yakin bahwa agamah hanyalah JALAN. Jalan untuk “meraih” dan “berbincang” denganNya. Bahkan “menjadi satu” denganNya. Manunggaling kawula gusti.

Dan ketika kita sudah menjadi satu denganNya, apakah kita masih perlu jalan itu?

Dan kita sudah menjadi satu denganNya seperti para sufis, tentunya bentangan-bentangan, batasan-batasan dalam beragama tadi akan runtuh. Kita tak lagi membutuhkan “agama” karena kita telah menjadi satu denganNya. Semacam kita memiliki tombol shortcut pada layar komputer kita. Atau semacam kita menggunakan jalan tol dalam sistem perhubungan untuk memperdekat jarak dan waktu.

Well, ketika menulis ini saya sadar bahwa tak semua orang (mungkin banyak) orang tak akan bersetuju dengan saya. Seperti Rumi yang dianggap sinting saat berkata sambil membawa obor bahwa dirinya akan membakar Sorga. Seperti Copernicus yang terancam hukuman pancung saat ia mengatakan bahwa Matahari-lah pusat tata surya kita. Seperti Galileo Galilei. Seperti da Vinci yang terusir. Atau seperti Siti Djenar yang dianggap melakukan bid’ah oleh kesembilan temannya. Tak mengapa. Ini adalah bagian dari proses berpikir saya. Proses pemahaman saya sebagai seorang anak manusia yang SERBA BIASA. Semoga saja, perbedaan cara berpikir saya ini dapat dimaklumi. Dapat ditoleransi.

Akhirnya (tak hanya kepaada adik saya, tapi terlebih juga kepada diri saya sendiri), saya cuma mampu berkata bahwa “HIDUP adalah PILIHAN”

Selamat Hari Bloger Nasional, kawan….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: