DONGENG SEBAGAI MEDIA MENDIDIK ANAK


JUDUL BUKU         : CERITA CALON ARANG
PENULIS                  : Pramoedya Ananta Toer
PENERBIT               : Lentera Dipantara
EDISI                         : Cetakan 5, Mei 2007
TEBAL                      : 92 halaman
ISBN                           : 9789799731210
PERESENSI             : STEBBY JULIONATAN *)

 

Dongeng merupakan cerita zaman dahulu yang aneh-aneh atau cerita yang tidak terjadi. Dongeng diceritakan terutama untuk hiburan walaupun banyak juga melukiskan tentang kebenaran, berisikan pelajaran (moral), bahkan sindIran. Pengisahan dongeng mengandung harapan-harapan, keinginan-keinginan dan nasehat baik yang tersirat maupun yang tersurat. (Poerwadarminto dalam Handajani, 2008: 13)

Dongeng pada hakekatnya adalah sebuah media, sebuah sarana untuk mendidik anak. Lewat dongeng, anak dikenalkan pada berbagai karakter manusia lewat kisah-kisah yang menarik, bahkan tak jarang juga dipenuhi dengan hal-hal atau kejadian-kejadian yang bersifat ajaib (baca: berbau supranatural atau sakti), kisah-kisah yang mengajarkan tentang kebaikan dan kebajikan melawan kejahatan atau angkara, kisah-kisah yang pada akhirnya mengajarkan kepada anak-anak kita untuk memupuk karakter baik itu dalam dirinya.

Cerita Calon Arang karya Pramoedya Ananta Toer ini pada dasarnya adalah cerita rakyat (baca: dongeng) yang beredar di masyarakat Jawa (khususnya Jawa Timur) dan juga Bali. Di dalam cerita ini dikisahkan Calon Arang, sosok perempuan tua, janda, yang penuh dendam, yang gemar meneluh dan haus darah.

Calon Arang ini memang buruk kelakuannya. Ia senang menganiaya sesama manusia, membunuh, merampas dan menyakiti. Calon Arang berkuasa. Ia tukang teluh dan punya banyak ilmu ajaib untuk membunuh orang. (hal. 11)

Calon Arang merasa berbahagia bila telah menyakiti dan menewaskan orang-orang yang dibencinya. Dan kalau orang-orang yang dibencinya telah mati mereka bersenang-senang merayakan kemenangan.

Tiap-tiap waktu murid-murid harus berkeramas. Yang dipergunakan mengeramasi rambut adalah darah. Darah itu adalah darah manusia juga. Karena itu rambut murid-murid Calon Arang lengket-lengket dan tebal. Kalau mereka sedang berpesta tak ubahnya dengan sekawanan binatang buas. Takut orang melihatnya. Kalau ketahuan ada orang mengintip, orang itu diseret ke tengah pesta dan dibunuh dan darahnya dipergunakan keramas. (hal 23-24)

Calon Arang memiliki seorang putri bernama Ratna Manggalih. Tak seperti sang ibu, Ratna Manggalih sangat baik perangainya. Namun sayangnya, meski memiliki perangai yang baik, tak ada seorang pun yang mau berkawan dengan Ratna Manggalih. Gadis-gadis Dusun Girah (dusun di mana Calon Arang dan anaknya tinggal) lebih memilih menghindarinya. Tak seorang pun yang mau mendekatinya. Mereka, para gadis-gadis ini, takut nanti kalau mereka salah mulut, mereka bakal membuat marah Calon Arang dan mendapatkan celaka.

Konflik dalam Cerita Calon Arang ini sendiri bermula saat Ratna Manggalih memasuki usia menikah. Tak ada seorang pemuda pun yang mau melamarnya. Ditambah lagi, tatkala Calon Arang mendengar dari murid-muridnya sendiri bahwa anak kesayangannya itu kini telah menjadi buah bibir, buah percakapan orang-orang Dusun Girah, karena Ratna Manggalih masilah perawan di usianya yang lebih dari 25 tahun. Bagaimanapun juga, Calon Arang adalah seorang ibu yang memiliki welas asih terhadap anaknya. Sejak detik itu, Calon Arang menjadi semakin murka. Ia ingin membunuh orang sebanyak-banyaknya suapaya puas hatinya.

Atas ijin Dewi Durga (sang Dewi Kehancuran), teluhnya semakin menyebar. Tak haya di seputar Dusun Girah, tapi semakin meluas hingga ke wilayah Daha yang lainya.

Prabu Erlangga selaku penguasa Daha mulai gusar sebab semakin hari semakin banyak penduduknya yang mati karena teluh Calon Arang. Tak hanya penduduk, para prajurit Erlangga pun banyak yang kena teluh. Singkat cerita, Erlangga pun mengutus Mpu Baradah, orang yang saleh dan taat beribadah, untuk menumpasnya.

Kembali ke dalam definisi dongeng sebagai sebuah media penyampaian pesan moral (kebaikan melawan kejahatan) kepada anak, Cerita Calon Arang karya Pramoedya sendiri pun tak lepas dari hal tersebut. Pertempuran antara kebaikan (dalam cerita ini digambarkan melalui sosok Mpu Baradah) melawan kejahatan (Calon Arang).

Kisah tentang Calon Arang ini sendiri, kali ini, dituliskan Pramoedya secara utuh, secara lugas, secara sederhana dan tanpa embel-embel bahasa kias atau makna idiom yang terlalu rumit, seperti umumnya karya sastra atau karya-karya Pramoedya yang lain. “Menulislah kisah yang sederhana dengan cara yang luar biasa, atau menulislah kisah yang luar biasa dengan cara yang sederhana.” begitulah ujar begawan sastra Jawa Timur, Suparto Brata, ketika memberikan panduan bagi “murid-murid”nya dalam pengajaran sastra . Dalam buku ini, sejak awal menulisnya, Pramoedya sadar untuk siapa ia menulis. Untuk siapa kisah ini ia tujukan.

Buku ini disusun sebagai buku anak-anak, agar bisa membangkitkan cerita lama pada mereka. Di samping itu mungkin pula jadi bahan-bahan informasi bagi murid-murid Sekolah Menengah, karena dalam pelajaran sejarah kesusastraan Hindu-Jawa hanya disebut nama-nama belaka, sementara yang terpenting: pengajian isi, diabaikan sama sekali. Tulis Pramoedya dalam Kata Pengantar-nya (hal. 8)

Tak heran jika, dengan kesederhanaannya itu, untuk selanjutanya Pram (panggilan akrab Pramodya Ananta Toer) mendapat protes keras dari kaum feminis yang menganggap Pramoedya memojokkan kaum perempuan. Pram dituding terlalu sarkas menggambarkan perempuan pembunuh. Perempuan yang buas yang murid-muridnya dipaksa berkeramas dengan darah manusia. Dan mereka senang melukan pesta dengan tumbal korban-korbannya mrip binatang buas. Sebagai resensor, saya memahami hal tersebut. Tapi sayangnya, protes tersebut salah alamat. Seharusnya mereka, kaum feminis tersebut, mengalamatkannya kepada Prabu Erlangga.

Dongeng menceritakan suatu kebenaran dengan cara lain (tulis Ayu Utami dalam Lalita. 2012: 104). Sesederhana apapun kisahnya, dongengnya, itu tak berarti bahwa penulisan kisah ini sendiri tak lepas dari unsur-unsur politis. Bagaimana pun, boleh jadi, dongen ini dihembuskan karena pada kenyataannya Erlangga tidak (baca: kurang) mampu menundukkan Girah menjadi salah satu wilayah perdukuhannya. Agar tak merusak figur dan pencitraannya, maka diciptakanlah sosok Calon Arang, “si pemberontak” itu menjadi sosok yang jahat. Termasuk untuk mempertahankan sistem patriarkal yang masih gagah bercokol di kala itu (baca: tahun Caka 1462).

Bagi Pram sendiri, saya sepenuhnya yakin, bahwa penulisan kisah ini pun adalah refleksi keadaannya kala itu. Tak lepas dari unsur-unsur politis. Penggambaran Calon Arang yang kejam, yang bengis dan yang selalu menekuk lawan-lawan politik yang mengkritknya, adalah gambaran (Presiden) Soeharto dan Orde Baru. Calon Arang adalah gambaran Soeharto dalam benak Pram. Bagaimana dulu, Pram dengan Lekra-nya dibabat habis, dibungkam, di masa pemerintahan Orde Baru. Hingga Pram harus menjalani 14 tahun kehidupannya (di masa Orde Baru) di dalam penjara tanpa proses pengadilan yang jelas.

Begitulah tulisan, sejatinya ia adalah kegelisahan penulisnya sendiri yang menceritakan sebuah kebenaran dengan cara yang berbeda.

Unsur politis (baca: kebenaran cerita) mungkin juga dikarenakan kisah Calon Arang ini terjadi di Blora, yang tak lain adalah tempat lahir Pramoedya Ananta Toer sendiri. Lewat penceritaan Calon Arang ini, pastinya penulis memiliki sebuah idealisme yang samar tertangkap oleh pembaca, bahwasannya Pram ingin mengangkat tanah kelahirannya dalam sebuah cerita yang tulis. Sebuah khasanah atau budaya lokal-lah yang ingin ia junjung tinggi dalam penceritaan Calon Arang ini.

Di sini saya melihat, sebenarnya Pram sangat bangga dengan Blora, tanah kelahirannya ini.

Kata Wurare sebenarnya adalah Wurara. Dan oleh mulut rakyat yang kurang memahami bahasa, nama ini berubah-ubah menjadi Wrura, Wlura, Blura, akhinya kini menjadi Blora. Jadi tempat kediaman Mpu Bharadah adalah Blora pada waktu sekarang. (Toer. 2007: 7)

Bukan mengagung-agungkan Pram sebagai penulis Indonesia yang namanya beberapa kali disebut sebagai nominator peraih Nobel, tapi lewat Cerita Calon Arang inilah saya melihat bahwasanya, lewat dongengnya ini, Pram sejatinya mengajak kita, anak-anaknya, para generasi muda bangsanya, untuk selalu mencintai budaya kita sendiri. Karena sejatinya, kalau kita mau menggali dan mencintainya, budaya kita ini, budaya Indonesia ini, adalah budaya yang sangat kaya dan adi luhung. (tby)

*) peresensi adalah Penulis Muda Berbakat 2007, pencinta buku yang juga menulis sebuah novel bergenre surealis remaja berjudul “LAN” dan sebuah kumpulan kisah “Barang yang Sudah Dibeli Tidak Dapat Ditukar Kembali”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: