KEBERADAAN KLUB BACA SEBAGAI PENGUAT PERAN MUSEUM PROBOLINGGO (SEBAGAI PUSAT KESENIAN DAN KEBUDAYAAN)


Oleh: Stebby Julionatan

 

“Semoga kedepannya, museum ini benar-benar menjadi pusat kesenian dan kebudayaan warga masyarakat Kota Probolinggo. Saya pengennya, di sini ini ada kegiatan bedah buku atau bedah film terus setiap bulannya,” itulah yang diharapkan oleh Ade Permana, Koordinator Museum Probolinggo, yang saya temui di sela-sela acara launching relief Arjuna Wiwaha dan buku Sejarah Kota Probolinggo yang berlangsung Rabu (29/9) lalu. Di mana, dalam kegiatan tersebut, juga berlangsung peresmian perpustakaan buku dan film yang dimiliki oleh Museum Probolinggo.

Tentunya, sebagai orang yang peduli atas keberadaan Museum Probolinggo, saya menilai bahwa harapan yang disampaikan oleh Ade itu sendiri bukanlah harapan yang muluk-muluk, harapan yang terlalu bombastis atau tak menapak ke bumi. Mengingat bahwa fungsi museum ini sendiri, saat ini, sejak saat awal didirikannya, telah jauh berubah dari sekedar tempat penyimpanan benda-benda purbakala menjadi wahana yang sangat entertaining (baca: menghibur) dan mendidik bagi masyarakatnya.

Jujur, saya sendiri merasakan hal itu. Ketika saya merasa jenuh dan penat dengan berbagai aktifitas saya sehari-hari, hiburan yang cukup murah namun meriah ini setidaknya mampu mengembalikan kesegaran pikiran saya. Setelah saya berputar-putar sejenak untuk menikmati koleksi-koleksi yang ada museum, dengan udara berpendingin yang sejuk dan disertai dengan komposisi musik-musik klasik yang diputar oleh penjaga museum, bukan tidak mungkin segala keruwetan dan kerumitan pekerjaan akan langsung hilang dan berganti dengan ide-ide baru untuk nan cemerlang untuk menulis dan bekerja kembali. Dan semoga, selanjutnya, keberadaan museum ini dapat terus berkembang hingga menjadi sama seperti taglinenya, sama seperti apa yang sudah terukir di bagian atap gedung museum ini, menjadi sebuah pusat kebudayaan dan kesenian.

Ingatan saya pun lantas melayang pada pembicaraan yang sama (mengenai keberadaan museum sebagai pusat kebudayaan dan kesenian, pen.) dengan Ade Permana beberapa bulan yang lalu. Ingatan saya pun melayang pada beragam kegiatan yang telah diselenggarakan oleh pihak Museum Probolinggo ini sendiri, sebut saja: pertunjukan campur sari, keroncong, hingga Jazz at the Museum; kegiatan Pameran Koleksi Unggulan Museum se-Jawa Timur; bazzar buku, silat, jaran bodhak, dll., untuk semakin menabalkan peran dan fungsi Museum Probolinggo sebagai pusat kebudayaan dan kesenian. Tapi, terus terang, bisakah seluruh kegiatan itu sekali lagi menjawab harapan Ade yang menginginkan adanya sebuah komunitas (katakanlah nanti namanya Komunitas Pecinta Museum) yang terbentuk dari masyarakat, yang dapat menggelar kegiatan bedah karya, baik itu berupa buku atau film, yang mampu menyemarakkan keberadaan Museum Probolinggo ini sendiri? Saya pesimis. Terus terang, saya sedikit sangsi. Lalu bagaimana caranya?

 

MEMULAI DARI KOMUNITAS

Sebuah kegiatan, sebuah gerakan yang memiliki keberlangsungan abadi di masyarakat itu, biasanya berasal dari masyarakat itu sendiri (bottom up). Kita tentu masih ingat, bagaimana jatuh bangunnya upaya Pemkot Probolinggo, lewat Diskoperindang, yang berusaha “menyulap” jalan Cut Nyak Dien (ex. jalan Niaga) menjadi sebuah pusat jajanan bernama Len-Jelenan. Coba kita bandingkan sekarang, keberadaan Len-Jelenan itu dengan keberadaan pasar Minggu di Loon-Aloon. Atau yang terbaru, munculnya kios-kios pedagang di jalan Brantas.

Yang pertama adalah kegiatan yang berasal dari pemerintah (from up to bottom), sedangkan dua terakhir berasal dari masyarakat itu seniri.

Dari sini kita bisa belajar bahwa, kegiatan yang berasal dari masyarakat (bottom up) cenderung menciptakan masyarakat yang memiliki “rasa memiliki”. Sehingga dengan rasa kecintaan mereka ini, tak perlu dipungkiri lagi, bahwa kegiatan tersebut akan berjalan dengan sendirinya, berjalan seterusnya, tanpa diopyak-opyak (baca: didorong) oleh pemerintah. Sebab rasa cinta mereka telah terbangun dengan sendirinya. “Lha wong iki dhuwekku, rek… iki ngon-ngonanku, yo tak rumate, tak lestariake.” Begitulah kurang lebih tanggapan mereka ketika saya bertanya.

Kembali ke soal museum, nah di sinilah perlunya pelibatan berbagai elemen masyarakat untuk menunjang keberadaan Museum Probolinggo itu sendiri sebagai pusat kebudayaan dan kesenian.

Lewat komunitas-komunitasnya yang sudah ada, komunitas-komunitas yang sudah seringkali memanfaatkan halaman museum untuk berlatih, diantaranya ada: BMX Flat Land (komunitas bikers), BBC (Bayuangga Batik Carnival), atau komunitas fotografi, museum tinggal memfasilitasi saja keberadaan mereka dengan menyediakan sarana yang mereka perlukan, take and give solution, win-win solution, untuk selanjutnya merangkul mereka untuk sesekali dapat menggelar show atau pertunjukan mereka di halaman museum (bukan di tempat lain seperti yang selama ini mereka lalukan). Dengan langkah maju dan berani seperti ini, saya optimis bahwa kecintaan itu akan tumbuh dan akan saling terjalin dengan erat.

Kesan saya, sayangnya, selama ini keberadaan mereka dibiarkan begitu saja. Tak dilirik sama sekali. Seakan jalangkung yang “datang tak dijemput, pulang tak diantar.”  Atau seperti “lo mau latihan silahkan, nggak juga nggak apa-apa.” Di sinilah, saya rasakan, perlunya kepedulian dan perhatian lebih dari para petugas museum itu sendiri untuk dapat masuk ke dalam komunitas mereka dan “mengambil hati” mereka. Setidaknya dengan jalan mengapresiasi, atau menonton latihan mereka.

 

MEMBENTUK KOMUNITAS BACA

Seorang resensor yang baik pastilah dia pembaca yang baik. “You can pee more if you drink more”, seperti itulah bunyi sebuah pepatah Inggris. Ya, bagaimana kita mau mengharapkan adanya sebuah kegiatan resensi karya, baik buku atau film, yang dapat berlangsung minimal satu kali setiap bulannya kalau tidak ada pembacanya (baca: atau penontonnya, pen.).

Memang, tak ada secuil pun informasi di internet yang saya temukan mengenai keberadaan klub baca. Bahkan dengan sebuah keyword book club pun, Wikipedia hanya menerangkan pengertian klub baca saja, yang kalau di-Indonesiakan adalah wahana / sarana bertemunya orang-orang (grup) untuk mendiskusikan sebuah buku (atau beberapa buku) yang sudah mereka baca sebelumnya.

Sebuah sumber mengenai klub baca yang saya tahu justru berasal dari buku fiksi karangan penulis muda Denmark, Mikkel Birkegaard yang berjudul Libri di Luca. Dalam balutan sebuah novel fantasi itu, di sana dikisahkan bahwa keberadaan klub baca berawal dari perpustakaan kuno di Mesir (baca: perpusatakaan Hammurabi) yang belum lama ini terbakar akibat konflik antara pemerintahan presiden Hosni Mobarak dengan kaum pemberontak.

Kembali ke soal bedah karya, Bagaimana mau ada banyak kegiatan bedah buku, kalau penulis dan sineas yang ada di Kota Probolinggo ini masih dalam hitungan jari? Bagaimana bisa ada banyak penulis dan sineas yang dimiliki oleh Kota Probolinggo kalau minat baca saja masih tergolong rendah?  (data didasarkan pada omzet Bazzar Buku yang diselenggarakan oleh Kantor Perpustakaan dan Arsip selama pelaksanaan Semipro 2011 dan Semipro 2012)

Untuk itu, mengacu kembali pada sebuah pribahasa sederhana diatas, “kalau mau kencingnya banyak, ya minum air yang banyak,” kalau mau bermunculan karya-karya sineas atau penulis-penulis Kota Probolinggo agar bisa dibedah setiap bulannya di pelataran museum, maka tidak bisa tidak, perlu merangsang minat baca masyarakat melalui keberaaan klub bacanya.

Tentunya, di sini, peran masyarakatlah yang paling dominan untuk mewujudkan sebuah cita-cita luhur tersebut. Peran dari para penggiat seni, seniman (termasuk penulis dan sineas), guru, ataupun tokoh masyarakat yang peduli akan peningkatan minat baca, peduli akan gerakan membaca untuk perubahan.

Sebab bukan tidak berguna, kemunculan Simone de Beaufoir, seorang ahli filsafat asal Perancis ini pun tak luput dari keberadaan klub baca. Dari sekedar obrolan santai di warung-warung kopi (baca: cafe) menjadi obrolan serius bertaraf seminar. Atau, kalau di Indonesia, munculnya penulis kawakan Ayu Utami, yang menyebut dirinya sebagai a critical spiritualis, juga tak luput dari keberadaan sanggar baca Salihara.

 

Menurut saya, dua langkah kecil inilah yang dapat kita bersama lakukan, antara Pemerintah Kota Probolinggo, petugas museum dan masyarakat agar kehadiran perpustakaan buku dan film yang ada di Museum Probolinggo sejak 29 September itu tidak muspro keberadaanya. Serta semakin menabalkan peran museum itu sendiri sebagai sebuah pusat kebudayaan dan kesenian yang ada di Kota Probolinggo. Jayalah pariwisata Kota Probolinggo!

 

*) penulis adalah pemerhati pariwisata dan pecinta museum.

 

Advertisements

2 Responses to “KEBERADAAN KLUB BACA SEBAGAI PENGUAT PERAN MUSEUM PROBOLINGGO (SEBAGAI PUSAT KESENIAN DAN KEBUDAYAAN)”

  1. kemarin kami secara tidak sengaja ikut bedah buku di kantor walikota. penulisnya kang abik novel cinta suci zahrana. kami baru jadi warga kota probolinngo, yang saya ingin tahu apakah ada klub baca atau klub penulis di kota ini, karna kami ingin bergabung

    • saya punya klub baca dan klub menulis. namanya KOMUNLIS. silahkan, mas Wahyudi bisa mencarinya di group facebook dan bergabung bersama kami.

      terima kasih untuk apresiasinya terhadap keberadaan komunitas menulis dan membaca yang ada di Kota Probolinggo. terima kasih juga karena sudah berkenan mampir di lapak saya. 🙂

      sukses selalu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: