PERKEMBANGAN TEATER PELAJAR MODERN DI KOTA PROBOLINGGO


Banyak yang mengira bahwa sepeninggal Ki Probo perkembangan dunia teater modern di Kota Probolinggo bakal meredup. Namun kenyataannya “tidak juga”, sebab Ki Probo rupanya telah meletakkan akar yang kuat bagi hidup dan perkembangan dunia teater di Kota Probolinggo.

Sebagai bukti, dalam gelaran event Semipro (Seminggu di Kota Probolinggo) 2012 yang dihelat dari tanggal 23 – 30 Juni 2012 lalu, jumlah kelompok teater remaja yang mendaftar sebagai peserta dalam Festival Teater Modern melonjak tajam dari tahun lalu.

“Dari yang cuma sekedar 5 kelompok peserta, meningkat menjadi 25 pendaftar,” ungkap Moch. Abduh Ad’dai Ilal Haq, pemimpin komunitas Teater Embrio, kelompok teater remaja Kota Probolinggo, saat ditemui Suara Kota di Kampung Seni, Minggu kemarin (22/7).

“Tapi tak bisa dikatakan juga sih kalo dunia teater ini berkembang. Jalan di tempat lah istilahnya. Masih seperti ini saja. Ga maju-maju sangat, juga tidak mundur. Namun mungkin yang membuat greget dunia teater Kota Probolinggo tak tampak, terutama di tingkatan teater pelajar, adalah karena masing-masing komunitas yang ada, kurang guyup,” terang Abduh, nama panggilan Moch. Abduh Ad’dai kepada Suara Kota.

“Komunitas-komunitas teater di Kota Probolinggo ini baru tampak kalau ada event, ada lomba-lomba saja. Efeknya, ini yang disayangkan, muncul selentingan-selentingan negatif dari komunitas-komunitas di luar kalau komunitas teater di Kota Probolinggo ini adalah komunitas theater profit,” ungkap pria yang saat ini dipercaya kawan-kawannya sebagai pengganti Ki Probo untuk memimpin Kampung Seni.

Bagaimana caranya mengubah image negatif yang terlanjur melekat itu?

Rupanya pria lulusan MAN 2 Kota Probolinggo ini sudah mengupayakan beragam cara untuk mengubahnya, diantaranya: dengan latihan rutin, menyelenggarakan pementasan dan menampung aspirasi para pelaku teater di Kota Probolinggo.

“Dari Kampung Seni, kami sudah berupaya semaksimal mungkin untuk mengikis anggapan miring tersebut. Dengan beragam kegiatan tentunya. Diantaranya adalah dengan memberikan sarana bagi teman-teman yang mau berlatih, setiap hari Minggu pagi kita bisa berlatih bersama di sini (Kampung Seni, red.). Di samping itu, kami berupaya untuk lebih sering menyelenggarakan pementasan dan bertanya secara personal kepada komuniats-komunitas, khususnya komunitas teater pelajar, mengenai kendala mereka dalam menggelar sebuah pertunjukan,” terang pria kelahiran 25 Desember 1985 ini panjang lebar kepada Suara Kota.

Sudah diupayakan begitu banyak cara, lantas mengapa sepertinya belum menunjukkan perubahan yang signifikan?

“Itu dia herannya, padahal kalau ada kegiatan seperti Kemah Seni atau pementasan seperti kemarin, jumlah pengunjungnya banyak. Padahal ditiket, dengan harga Rp. 7.500,-/tiket, dari 270 tiket yang tersedia, 115 tiket habis terjual,” kenang Abdu akan kegiatan Kemah Seni yang pernah dilaksanakan di Kampung Seni pada September 2011 lalu dan kegiatan pementasan yang bekerjasama dengan STKIP Pasuruan dan Pemuda Muhammadiyah.

Dalam gelaran Semipro 2012, memang pada akhirnya, hanya 5 group saja (dari 25 pendaftar) yang tampil, tapi hal tersebut dikarenakan waktu pelaksanaan Festival Teater Modern bersamaan dengan pendaftaran sekolah dan study tour.

“Kalau dari jumlah penampilan mungkin memang tak banyak berbeda dari tahun lalu, tapi kalau dari kualitas penampilan, yang tahun ini kami rasakan kualitasnya jauh lebih baik. Kesemuanya itu karena juga didukung oleh setting panggung yang jauh lebih baik dari tahun kemarin. Untuk itu saya ucapkan terima kasih banyak kepada pemerintah yang sudah memberi kami ruang dan wahana berkesenian yang baik ini,” kisahnya.

Ditanya soal perhatian pemerintah terhadap keberadaan Kampung Seni, Abduh menjelaskan bahwa perhatian Pemkot Probolinggo lewat Dispobpar (Dinas Pemuda, Budaya, Olah Raga dan Pariwisata) terhadap keberadaan dunia teater dan kampung seni cukup besar.

“Kita sudah diberi fasilitas dan dukungan yang sangat besar dari Pemkot. Dan kita sampaikan terima kasih untuk hal itu. Sekarang tinggal kitanya saja, para komunitas teater yang ada di Kota Probolinggo ini untuk bisa mengubah image dan membawa Kampung Seni ini ke luar,” jawab pria yang saat ini masih hidup melajang ini.

“Caranya ya bermacam-macam. Mulai dari memperbaiki sikap kita sendiri di masyarakat. Menjadi contoh, bahwasannya seniman teater itu, khususnya seniman teater Kota Probolinggo, bukanlah orang yang urakan dan tidak punya unggah-ungguh. Sampai kepada, jemput bola, tampil di kampus-kampus ataupun komunitas lainnya yang ada di luar kota,” lanjut Abduh.

“Ke depan kami juga merencanakan untuk membentuk komunitas guru seni, sehingga permasalahan-permasalahan dan kendala dalam berkesinan, dalam konteks sekolah, bisa dibahas dan dicarikan jalan keluar bersama,” pungkas pria yang juga tercatat masih aktif mengajar di salah satu sekolah menengah ini, mengakhiri wawancaranya dengan Suara Kota. (tby)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: