KERAPAN SAPI BRUJUL, AGENDA BUDAYA YANG BUTUH PERHATIAN KHUSUS


Meski telah berakhir, Kerapan Sapi Brujul merupakan salah satu event dalam gelaran SEMIPRO (Seminggu di Kota Probolinggo) 2012 yang patut diapresiasi tinggi. Bagaimana tidak, meski semangat yang diusung dalam tema SEMIPRO tidak secara lugas menjelaskan melestarikan lokalitas budaya, namun Panitia SEMIPRO masih setia menghadirkan kekayaan potensi Kota Probolinggo di dalamnya.

“Kerapan sapi (brujul, red.) mencapai masa kejayaan di sekitar tahun 1985. Kurang lebih dari sekitar tahun 85’ sampai 90’an lah,” ujar Hasim Irawanto, Ketua Panitia Kegiatan Kerapan Sapi Brujul, saat ditemui Suara Kota di tempat kerjanya Kamis lalu (19/7).

“Dulu kalau ada orang sunatan atau manten, kerapan sapi itu ditanggap. Dikarciskan. Lapanganan kerapnya ditutup dengan sesek, dan yang mau nonton harus bayar,” terang Hasim, menggambarkan suasana kejayaan pelaksanaan kerapan sapi brujul.

“Lalu, (kerapan, red.) sapi brujul jadi vakum sejak peristiwa carok yang melibatkan peserta dan panitia penyelenggara, bahkan sampai menewaskan petinggi kelurahan Curahgrinting waktu itu. Kerapan (sapi brujul, red) baru ada, baru diaktifkan kembali, di tahun 2009. Pada event perdana SEMIPRO,” kisah pria yang kini, sehari-hari beraktifitas sebagai salah satu staf di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Probolinggo ini.

Boleh dibilang, Hasim Irawanto adalah orang yang mengenal secara rinci, seluk-beluk, perkembangan dan sejarah munculnya kerapan sapi brujul di Kota Probolinggo sebab dirinya terlahir dari keluarga kerapan. Dalam darahnya mengalir tradisi kesenian kerapan dari sang ayah, H. Mansyur. Seorang penggagas lahirnya Kerapan Sapi Brujul di Kota Probolinggo (tahun 1984).

Kerapan Sapi Brujul merupakan salah satu ciri khas (atau potensi andalan) yang dimiliki Kota Probolinggo. Karena bebeda dengan kota-kota lainnya (seperti Sampang, Sumenep, Jember, Lumajang bahkan Kabupaten Probolinggo) yang menggunakan sapi merah sebagai sapi kerapan, kerapan sapi brujul benar-benar menggunakan sapi brujul (atau sapi yang biasa dipakai untuk membajak sawah) untuk kerapan.

Hasim sendiri mengaku sudah mencintai kesenian budaya ini sejak dirinya masih duduk di sekolah menengah pertama.

“Saya ikut kerapan dari tahun 1993. Sejak masih duduk di kelas 2 SMP. Saya selalu senang setiap kali diajak ayah untuk kerapan,” akunya jujur pada Suara Kota.

“Saat itu yang ada hanyalah kerapan kambing dan sapi merah saja. (Kerapan, red.) sapi brujul kan sudah vakum di tahun 1990. Mangkannya, saya langsung bersedia, dan jujur saya bangga, ketika saya mendapat kehormatan dari Pemerintah Kota Probolinggo, lewat Dispobpar (Dinas Pemuda, Olah Raga, Budaya dan Pariwisata, red.) Bapak Walikota langsung menintruksikan kepada pada saya untuk menghidupkan kembali Kerapan Sapi Brujul,” kenang Hasim.

Belajar dari pengalamannya sebagai, tentunya banyak perbaikan yang dilakukan oleh Hasim saat dirinya dipercaya sebagai ketua panitia. Tercatat mulai dari waktu pelaksanaan, hadiah lomba, penonton, juri dan pengamanan pun tak luput dari pantauannya.

“Masih belum sapi brujul. Awalnya sebagai ketua pelaksana kegiatan kerapan kambing. Tahun 2005. Sejak dipercaya sebagai panitia, sebagai ketua panitia, saya langsung merapikan waktu pelaksanaan. Jadi lebih rapi dan lebih cepat. Jadi gak ada istilahnya peserta yang terlalu lama menungu kapan lomba dimulai. Kalau misalnya ada peserta yang terlambat, atau tidak sesuai dengan jadwalnya ya kita diss,” tegas pria kelahiran 25 September 1979 ini.

“Dari unsur hadiah, hadiah saya sesuaikan dengan ajang atau kompetisinya. Agar tidak merugikan peserta. Juri benar-benar saya orangkan. Kita beri honor yang sesuai agar tidak terjadi kecurangan atau sogokan selama pertandingan berlangsung. Sedang pengamanan di dalam lokasi kerapan, di samping polisi, kami serahkan pula urusan keamanan ini kepada anggota TNI,” lanjut Hasim.

Memang, selain sapi brujul, sebagaimana kita ketahui bersama, kerapan kambing juga merupakan ciri khas budaya Kota Probolinggo.

“Di kota lain, adanya kambing balapan. Kambingnya dikerap satu-satu. Sehingga namanya bukan lagi kerapan tapi balapan. Tidak seperti di (Kota, red.) Probolinggo, kambingnya digabung dengan klelesan sehingga formasinya sama dengan kerapan sapi.” jelas pria yang saat ini tinggal di Lawean ini.

Meski terbilang sukses, terhitung dengan semakin banyaknya partisipasi peserta, diakui Hasim masih ada kendala dan kekurangan dalam pelaksanaan event Semipro kemarin.

“Lapangan. Sejak GOR Kedopok dibangun, pelaksanaan kerapan sapi dan (kerapan, red.) kambing kan pindah. Kemarin tempat pelaksanaannya (Kec. Kedopok, red.) terlalu masuk ke dalam. Sehingga dampaknya pada jumlah pengunjung,” terang Hasim.

Ke depan, Hasim berharap Pemkot dapat menyediakan lapangan yang lebih representatif sebagai tempat pelaksanaan event kerapan ini. Selain itu Hasim juga berharap bahwa, sebagai ikon Kota Probolinggo, pelaksanaan event kerapan ini dapat terus dipertahankan dan dilaksanakan lebih sering.

“Saya berharap kerapan sapi brujul, dan kerapan kambing tentunya, dapat dilaksanakan lebih sering. 4 bulan sekali kalau bisa. Agar ada wadah bagi para pengerap,”harapnya.

Saat disinggung Suara Kota mengenai lapangan mana yang baik digunakan untuk menggelar kegiatan kerapan, di akhir wawancara Hasim mengungkapkan kalau lapangan di Kecamatan Curahgrinting-lah yang cocok digunakan. (tby)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: