ENRICO, SEBUAH PERJALANAN PERSONAL AYU


 

ENRICO, SEBUAH PERJALANAN PERSONAL AYU

JUDUL BUKU    : CERITA CINTA ENRICO
PENULIS             : AYU UTAMI
PENERBIT          : KPG (KEPUSTAKAAN POPULER GRAMEDIA)
EDISI                    : CETAKAN I, FEBRUARI 2012
TEBAL                 : 244 + iv halaman
ISBN                     : 9789799104137
PERESENSI       : STEBBY JULIONATAN *)

Bertahun-tahun menjadi orang percaya, kita senantiasa hanya memposisikan diri sebagai “Domba yang Hilang”, domba yang tersesat dari kawanannya. Sebagai domba yang selalu minta dicari dan diperhatikan oleh Tuannya. Tapi, pernahkan kita mencoba untuk memposisikan diri sebagai kawanan domba yang ditinggal Tuannya karena ia, Sang Pemilik kawanan domba itu, terlampau sibuk untuk mencari domba yang hilang itu? Dan tak lagi menyadari keberadaan “Sang Domba yang Baik nan Penurut” itu?

Saya rasa tidak. Kita tidak pernah (baca: jarang) berpikir seperti itu. Tapi rupanya kecerdasan dan kreativitas Ayu (Ayu Utami, pen.)  telah melampaui hal tersebut. Hal yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Ayu telah lebih dulu menyentuh ranah itu.

Seharian “Sang Domba Penurut” menunggu di padang yang terbuka. Kehausan, kelaparan dan bahkan mungkin penuh ancaman dari hewan buas yang siap memangsanya. Ia harus bertahan sendirian di padang itu. Dan jauh di dalam hatinya, ia bingung, kapan Tuannya itu akan datang.

Itulah kisah Enrico. Pria bernama asli Prasetya Riksa, mantan kekasih (karena saat ini telah menjadi suami Ayu Utami) ini, lahir bersamaan dengan Pemberontakan PPRI. Ia sudah menjadi bayi gerilya sejak usia satu hari.

Kerabatnya tak lepas dari Peristiwa ’65. Enrico menjadi aktivis di ITB pada era Orde Baru sebelum gerakan mahasiswa dipatahkan. Enrico adalah pria yang merasa dikebiri oleh rezim Soeharto dan merindukan tumbangnya Soeharto. Akhirnya ia melihat peristiwa itu bersamaan dengan ia melihat perempuan (baca: Ayu) yang menghadirkan kembali sosok yang ia cintai sekaligus ia hindari: Ibunya. Tuannya

Ayu mengakui, Cerita Cinta Enrico adalah kisah cinta dalam bentangan sejarah Indonesia sejak era pemberontakan daerah hingga Reformasi. Dan, sebagai penggemar karya-karya Ayu, saya sepakat kalau Cerita Cinta Enrico tidaklah sefenomenal Saman, tidak secerdas Bilangan Fu, dan mungkin juga tak seeksotis Manjali dan Cakrabirawa. Tapi terus terang, Cerita Cinta Enrico adalah kisah yang begitu personal. Kisah yang jujur.

Meski sudah sedikit luntur, Cerita Cinta Enrico masih menampilkan sisi-sisi feminisme yang kerap diusung Ayu:

Aku siap mati. Tapi aku tidak membayangkan bahwa para mahasiswi siap mati tak hanya untuk cita-cita luhur, tetapi juga untuk melindungi kami, teman-temannya. Aku selalu merasa bahwa perempuan sering jauh lebih tangguh daripada laki-laki. Dan mereka memikirkan kehidupan, bukan kegagahan. Tapi kaum perempuan berbuat demi kehidupan. Lelaki sering berbuat untuk egonya sendiri, sedang perempuan berbuat untuk orang lain. Tiba-tiba aku teringat Sanda, kakakku, yang menyelamatkan aku dari serangan ayam hidam pemakan anak kecil. (hal. 135)

Atau pada:

Ia juga satu-satunya pacar yang secara tegas. Mengatakan bahwa ia tidak mau menikah dan tidak ingin punya anak. Kenapa ia tidak mau menikah? Katanya karena selama ini perempuan terlalu ditekan oleh nilai, keluarga dan masyarakat untuk menikah. Harus ada pembebasan dari itu. Lagi pula, tambahnya, ia tidak setuju bahwa suami adalah dengan sendirinya memimpin istri. Hukum perkawinan Indonesia menjadikan suami kepala keluarga, dan ia tidak mau itu. Itu bukan urusan negara, katanya. Soal siapa yang memimpin, atau apakah perlu ada pemimpin dan pengikut, itu urusan pasangan yang kawin. Kenapa tak ingin punya anak? Katanya, kalau ia warga Australia, Norwegia, atau Eskimo, atau negeri yang liberal dan penduduknya sedikit, barangkali ia masih mau punya anak. Tapi Indonesia sudah banyak anak. Konon hampir sepuluh ribu bayi lahir tiap harinya di Indonesia. (hal. 198)

Apa coba ungkapan tidak ingin menikah karena tidak ingin dijajah (baca: ditindas oleh lelaki) itu kalau bukan sikap yang feminis?! J Dan… bagaimana juga pemberontakan Ayu terhadap dogma, terhadap agama, khususnya hubungan seks antar manusia. Kopulasi:

Ketika “tokoh” A dan Enrico kembali bersetubuh untuk kesekian kalinya, Enrico bertannya kepada A, apakah A tidak merasa berdosa? Di titik ini A kembali mencecar keyakinan dan ketahanan orang-orang “beriman” melalui Enrico.

“Kalau kita baca keseluruhan Alkitab, kita tahu bahwa praktik seksual selalu berubah dari zaman ke zaman. Dan umat Tuhan hidup di dalam praktik zamannya. Contoh paling gampang, di Perjanjian Lama poligami adalah praktik wajar. Di Perjanjian Baru itu tidak diterima lagi. Tapi, ada yang lebih radikal daripada itu. Kamu pikir Abraham tidak menyerahkan Sarai istrinya tidur dengan Firaun agar nyawanya selamat?” (hal. 202)

“Kesimpulanku: kita tidak bisa melihat seks secara hitam putih dan berdasarkan rumusan hukum saja. Paling tidak, dalam Alkitab ada dua jalur: hukum dan kisah. Hukumnya boleh hitam putih. Tapi kisahnya tak pernah begitu. Pengalaman manusia jauh lebih rumit daripada hukum.” (hal. 204)

“Sejujurnya, menurutku seks itu tidak pernah sakral. Hanya pastor zaman ini yang bilang begitu. Sebab, mereka tidak punya kemewahan untuk berkata jujur dan mereka harus menjaga perasaan umat…” (hal. 209)

Dan sepertinya masih banyak lagi keyakinan (atau mungkin bisa disebut pembelaan) Ayu yang lainnya dalam dalam sub bab Too Good to be True. Tapi, rupanya ini tidak berarti bahwa Ayu membenci agama, atau orang yang tak beragama.

Meskipun ia tidak mengagung-agungkan seks… tidak menganggapnya sakral, tidak juga menganggapnya satu-satunya kenikmatan di muka bumi ini… tak punya rasa bersalah… Tapi, ternyata aku mulai mengetahui perbedaan kami.

Suatu hari kami melayat saudaraku yang meninggal dunia… kulihat ia (Ayu) memejamkan mata dan berdoa. Orang biasa mengheningkan cipta di depan jenazah, paling tidak untuk basa-basi. Jadi, semula kupikir ia juga begitu. Tapi aku tahu juga dia, seperti ibuku, sulit berbasa-basi. Apalagi yang meninggal bukan orang yang ia kenal. Dia bisa berdiri di belakang saja kalau mau. (hal. 198-199)

Sebab Ayu lebih senang pada konsep agama yang humanis ketimbang yang dogmatis.

“…Buat saya, kegunaan agama adalah memahami adanya dosa dan struktur dosa. Sehingga, kita lebih rendah hati mengakui bahwa kita tidak pernah bersih dari cela dan kekurangan. Agar kita sadar diri bahwa ita tidak akan pernah sempurna. Bukan agar kita terobsesi untuk bersih dari dosa…” (hal. 208)

Saya sepakat. Barangsiapa yang tidak memiliki dosa, silahkan menjadi pelempar pertama batu perajam. Justru karena kita semua berdosa, seharusnya kita tidak lagi terobsesi pada dosa dan tidak dosa, dan lebih menggunakan energi untuk berbuat baik bagi orang lain.  

Dalam Cerita Cinta Enrico, prinsip-prinsip Ayu, untuk senantiasa melajang juga diuji. Tapi bukan Ayu namanya kalau tidak bisa mencecar dan mempertahankan prinsipnya. Bersama Enrico, rupanya Ayu menemukan jalan keluar yang baik untuk permasalahan ini, pernikahan. Win – Win Solution.

…”Semua yang kukritik mengenai perkawinan bersumber dari satu hal. Yaitu tidak setaranya relasi antara perempuan dan lelaki. Di luar perkawinan, perempuan mendapat tekanan sangat besar untuk menikah. Tapi, di dalam perkawinan, ia ditempatkan dalam posisi subordinat. Lelaki menjadi pemimpin… Nah, kalau relasi seperti itu diubah, maka sesungguhnya aku tak punya keberatan lagi pada perkawinan… (lagian) aku ternyata baru tahu bahwa dalam hukum perkawinan Katolik tidak ada itu ayat yang menyatakan sumai menjadi kepala keluarga atau pemimpin keluarga. Aku baru beli Kitab Kanonik-nya.” (hal. 231)

Bagi saya, secara pribadi, mungkin senang sekali pasti rasanya menjadi Enrico, mantan kekasih Ayu Utami ini. Lelaki yang begitu berarti dalam kehidupan Ayu, sehingga Ayu tergerak untuk memfiksikannya. Bisa dekat dengan orang se-keren Ayu saja rasanya dah untung, apalagi sampai ditulis dan dibuatkan biografi perjalanan hidupnya. Mendadak saya jadi iri pada sosok Enrico.

Tentunya di balik setiap pujian dan kekaguman saya terhadap sosok Ayu, saya harus bisa bersikap objektif. Cerita Cinta Enrico pun tak lepas dari kekurangan. Ia mendogma (baca: bertutur) kita berulang, hingga terkadang kita merasa bosan dengan penuturan Ayu. Apa yang sudah ia kisahkan di awal, bisa ia ulangi lagi di pertengahan atau di akhir bab. Padalah kita sudah tahu atau mengingatnya dengan sangat baik. Cerita Cinta Enrico juga tak luput dari kesalahan detail yang menurut saya agak mengganggu. Diceritakan Enrico membeli kondom di apotek di Padang pada sekitar tahun 1973. Apakah memang pada saat itu kondom sudah dijual bebas? Dan kalau memang demikian, apakah bebas diperjualbelikan pada anak usia 15 tahun?

Tentunya hanya Enrico dan Tuhan yang tahu. J

*) Peresensi adalah Penuli Muda Berbakat 2007 yang juga menulis novel LAN dan kumpulan kisah Barang yang Sudah Dibeli Tidak Dapat Ditukar Kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: