KISAH KETIGA BELAS YETI KARTIKASARI


Secangkir Kopi di Suatu Senja

SELALU saja ada yang kutunggu-tunggu. Ya, sebuah moment ketika seperti mengulang jatuh cinta pertama kali seperti belasan tahun lalu. Manakala perasaan berdentum-dentum menguarkan semacam debaran aneh yang tak tereja apa maknanya. Seperti cemburu meletup-letup, tetapi indah. Seperti rindu dengan kekasih yang telah lama melewatkan malam minggu berdua saja.

Bila rasa itu bergelinjang lincah, maka satu-satunya cara adalah menepi. Ya, memilih pelahan berjingkat meninggalkan keriuhan, lalu sepasang mata ini akan menjelajah. Seperti pemburu dengan senapan angin di tangan kanan. Seperti pelukis yang rindu dengan kanvas dan kuas. Seperti pekerja kantoran yang mata dan jari-jemarinya tak pernah sejengkal berlalu dari tabung pintar yang kini dapat dijinjing dan cakap mengolah jutaan data. Aku seperti mereka yang menahan rasa cinta menahun. Sakit namun indah. Pilu tetapi nikmat. Melankolis sekaligus romantis. Setidaknya bagiku.

Berulangkali momen itu singgah dan selalu mengingatkanku, betapa beberapa peristiwa penting yang kini menjadi kenangan itu mengiringinya. Aku masih ingat, ketika beberapa tahun silam, pada suatu hari menjelang senja, engkau tiba-tiba hadir di hadapanku. Senyummu mengembang, tanganmu begitu hangat dan ah ya, kentara kurasakan aroma kerinduan memenuhi jiwamu.

Tanpa minta pertimbanganku, engkau menggenggam tanganku. Lalu mengajakku ke sebuah tempat. Sepanjang perjalanan, tak ada satupun kata meluncur dari bibirmu. Begitupun aku. Pelukan erat di tubuhmu, cukuplah kau tahu, bahwa aku pun menginginkan kehadiranmu.

Senja yang eksotis. Karena engkau dan aku dapat menyaksikan selarik bianglala meningkahi bayang matahari yang beranjak pulang. Tahukah? Itu sungguh menakjubkan, karena tak ada hujan membasahi semesta.

Mata kita sama-sama terpaku. Bukan saling menatap. Tidak. Tapi, karena sama-sama terhipnotis semburat gagah di cakrawala barat yang pelahan meredup diiringi ratusan burung-burung camar yang entah darimana asalnya. Aku tergagu, engkau mematung. Kita sama-sama larut dalam ekstase megah yang aku tak yakin dapat setiap waktu menjumpainya. Tanganmu menggenggam jemariku erat. Terasa hangat. Seperti ada yang kau alirkan dengan diam-diam. Persis ketika dua cangkir kopi tiba di meja kita. Mengepul-ngepulkan aroma wangi yang menyusup hingga nurani.

Tanpa kata-kata, kau ulurkan secangkir untukku. Alis matamu membuncah. Pipimu bersemu merah. Begitu pula bulu matamu bergerak-gerak indah. Mungkin, itu sebuah isyarat pernyataan cintamu, entahlah!

Senja itu menjadi hari terindah yang pernah kumiliki. Karena tak ada lagi pertemuan setelahnya. Aku kehilanganmu. Sedang sejak saat itu, hatiku telah berlimpah cinta. Dan kau, tidak mengizinkanku untuk mengungkapkannya. Aku seperti camar pulang yang tak (lagi) melewati megahnya matahari.  Seperti biduk yang lupa dimana meletakkan kayuhnya. Aku seperti bulan yang tak dapat berjumpa malam. Lebih menyesakkan karena bayanganmu terus menyertaiku.

Aku menyimpan rindu acapkali senja memagut indah. Seringkali ketika langit tak mengabarkan hujan, aku menyapa senja seorang diri.  Di teras rumahku, kuletekkan sebuah meja dan dua kursi. Siapa tahu engkau datang lagi seperti hari itu. Kuseduh air di dalam panci bertangkai, lalu kuracik dua cangkir kopi dengan hati-hati. Hatiku berdebar-debar ketika panci kecilku mendidih, dan rasanya ada kelegaan yang begitu nikmat, ketika dua cangkir itu terisi penuh serbuk kafein berpadu gula. Kuaduk pelan meski tak serupa barista. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa di dalam cangkir itu ada cintaku untukmu.

Senja selalu menjadi bagian romantis. Bahkan ketika sendiri. Mencecap secangkir kopi, tak peduli apakah hanya kopi hitam bercampur gula saja, atau telah bermanifestasi ke dalam coklat susu atau gumpalan cream pekat. Entah apakah dinikmati di beranda rumah atau di tepi pantai atau bahkan dari lantai lima sebuah plaza. Rasanya selalu indah. Sebab, aku tahu, sebenarnya aku tak hanya sedang menikmati nikmatnya, melainkan karena sebagian  jiwaku berada di dalamnya.

Bila senja ini adalah sebuah penantian

Maka, engkaulah yang kutunggu

Dengan rasa yang berlimpah ruah seperti pesta

Seperti mempelai menanti malam pertama

 

Bila senja ini adalah bahagia

Itu sebab engkau karenanya

yang meminang sepanjang hari dengan desir wangi

dan putik bebunga tak layu

 

Senja ini adalah romansa

Sebab engkau mendampingi

Secangkir kopiku yang beradu rasa dengan setangkai sendok gula, sedikit susu

Dan kenanganmu,……

 

Rumah hijau, penghujung Juni 2012—Sebab secangkir kopi adalah (juga) nikmat

 

 

 

Advertisements

2 Responses to “KISAH KETIGA BELAS YETI KARTIKASARI”

  1. kata-katanya bagus bgt……. mbak yeti ajarin aku…… hehehehhe

  2. Wow……..like this much……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: