KISAH KETIGA BELAS DOROTEUS BRYAN AGUNG


Kasih Ibu

 

Amarahku tak lagi terbendung. Uang kiriman bulan ini terlambat lagi. Uang iuran kelas, biaya asrama, biaya sekolah, dan berbagai beban yang harus kutanggung kembali bertumpuk. Mungkin memang sudah nasibku sebagai pelajar luar daerah, harus pandai mengatur keuangan, uang menjadi barang penting. Uang mungkin bisa menjadi Tuhan, Tuhan yang baru bagiku. Getir bibir menahan iri terhadap teman yang mendapat kiriman rutin. Kadang si jahat berdesir dalam benakku untuk berpanjang tangan, mengambil apa yang bukan menjadi hakku. Namun hatiku tak menghendakinya. Aku hanya bisa diam. Terkatup. Hatiku miris merasakan hidup di perantauan. Ingin rasanya pulang dan merasakan hidup nyaman di dekapan ibuku. Sudah 3 tahun aku hidup di Probolinggo, kota perantauanku dengan sejuta ragam kehidupan, kota yang terkenal dengan seribu taman yang menghiasi tepi lajur perkotaan, kota yang mampu memikatku dalam pesonanya, melupakan kota kelahiranku Banyuwangi. Namun Kota inilah yang membuatku mengenal beratnya kehidupan. Vita Est Mitia, Hidup adalah perjuangan. Ibuku sudah tak lagi bisa diharapkan. Aku sudah terpasung dalam beban yang mengunci diriku.

Aku  tak habis pikir,  sudah berulang kali aku meminta, berusaha mengingatkan Ibuku akan keadaanku.

“Sabar dulu ya, le.. Nanti Ibu coba usahakan”

Sabar… Sabar… Sabar… Nanti.. Nanti.. Hanya ada kata itu yang terucap dari mulut Ibuku. Nanti kapan..? Setiap ucapanmu tak memberi kejelasan atau secercah penghiburan bagiku. Mendinginkan sahara batinku. Me

Mungkinkah karena aku anak laki-laki tertua sehingga dianggap mampu dalam finansial?Atau pengeluaranku yang paling besar dibandingkan kedua saudaraku sehingga aku tak lagi menjadi prioritas? Ahh persetan.. Kalau begini caranya, Tidak hanya beban keuangan yang akan menjerumuskan diriku, Beban pikiran dan mental akan menjadikan diriku pelajar yang tak belajar. Aku masih ingin belajar dan berprestasi.

***

sepatuku menghantar diriku menuju Toko Buku Togamas Probolinggo, menuju apa yang bahkan tidak aku sangka akan merubah masa depanku. Maksud utamaku menuju Togamas hanya menghantar teman yang berbelanja. Namun, dalam keadaan finansial yang di bawah garis kesejahteraan, aku menemukan buku BARANG YANG SUDAH DIBELI TIDAK DAPAT DITUKAR KEMBALI dalam barisan buku. Nama STEBBY JULIONATAN yang terpampang mengingatkanku akan acara bedah buku di SMAN 1 Probolinggo yang kuikuti sebelumnya. Bingung bercampur ingin aku melihat buku karya Stebby. Aku tidak membawa uang sama sekali. Dengan kecewa aku pulang, melepas semua harap untuk bisa mendapatkan buku itu. Sirna sudah. Selama perjalanan aku hanya tertunduk dan membayangkan kisah-kisah yang tidak dapat aku baca.

“Kok diam aja dari tadi? Kamu kenapa, yan..?” bahkan tanya dari temanku tak sanggup aku jawab. Kecewa. Aku sudah larut dalam kekecewaan. Andaikan aku punya uang. Ini semua salah Ibu Hidupku susah karena Ibu! Batinku berdesir. Teringatku kisah seorang anak durhaka yang dikutuk menjadi batu. Akankah aku juga menjadi batu karena kedurhakaanku?

Tiba-tiba tanganku ditarik. Ditarik oleh temanku untuk melangkah kembali menuju Togamas.

“Belilah buku yang kamu inginkan. Aku tak ingin kamu pulang dengan kekecewaan hanya karena sebuah buku.” Ujarnya seraya mengulurkan uang kepadaku. Aku tidak mau menerimanya. Aku juga mengerti kondisi keuangannya. Ia tak lebih baik dariku.

“Kok kamu malah diam. Ambil saja. Ini untuk kamu. Aku mendapat uang ini dari keluargaku, bukan dari hasil tabunganku sendiri. Jadi terimalah. Aku segera menuju rak impianku. Rak tempat buku BARANG YANG SUDAH DIBELI TIDAK DAPAT DITUKAR KEMBALI berbaris rapi bersama buku yang lain. Menuju ke kasir dan membayarnya. Lalu pulang dengan senyum terkembang. Mendekap buku yang aku inginkan.

Non Multa Sed Multum, Tidak banyak tetapi baik. Setelah membaca semua kisahnya. Semenanjung Asa adalah kisah yang amat menarik dan aku merasa familiar dengan alur kisah itu. Tapi mengapa harus berakhir menyedihkan? Memang sudah terjawab bila membaca keseluruhan isi buku. Sudah merupakan komitmen awal penulis untuk setia dengan akhir yang menyedihkan. Berkomitmen dengan aliran. Seperti banyak tokoh ysng telah mendunia. Seperti Juan Pablo Picasso dengan abstrak. Seperti Nelson Mandela dengan seruan persamaannya. Seperti Sir Henry Dunant yang berjuang akan kemanusiaan. Begitu pula Stebby Julionatan yang telah berkomitmen dalam cerita berakhir sedih. Kelak dunia pasti akan mengakuimu.

Sudah 6 bulan lebih aku tidak pulang. Tidak bertemu dengan Ibuku. Dalam hatiku aku amat rindu dengannya. Kisah semenanjung asa membuatku teringat akan Ibuku yang Jauh dariku. Seakan berada di seberang pulau yang jarang bisa kukunjungi. Seperti Pulau Gili. Pada akhir semester aku memperoleh Rangking 1 Paralel IPS. Bebanku seakan perlahan terangkat. Aku mendapat beasiswa dari sekolah untuk 1 semester. Akhirnya masa liburan tiba. Aku bisa pulang dan mengunjungi Ibuku yang berada jauh disana. Aku pulang, bu. Pulang dengan membawa prestasi yang ingin kupersembahkan pada ibu. Menuju Gili impianku.

Kasih ibu kepada beta

Tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi

Tak harap kembali

Bagai sang surya menyinari dunia

                Aku hanya bisa menangis dan mencium tangan ibu. Sirna sudah segala kebencian padanya selama di perantauan.

“ Aku pulang, bu.. Maafkan aku bila terlalu menuntut Ibu setiap bulan dengan berbagai beban biaya”Ibuku hanya bisa diam dan menangis. Ibuku sudah tua. Dirinya tak lagi kokoh menopang segala beban seperti  yang masa mudanya dulu. Kehidupannya hanya untuk membiayai ketiga anaknya yang bersekolah, meraih asa dan cita. Merasa senang saat anaknya berprestasi, hanya bisa mengelus dada bila terlibat masalah. Mungkin hanya itulah yang bisa diberikan untuk anak-anaknya, aku dan kedua saudaraku. Berjuang dan bekerja tanpa mengharap balasan dari anak-anaknya. Cahayanya tak akan habis. Bahkan bila ia meredup termakan usia kelak. Terima kasih Ibu. Terima kasih Semenanjung Asa. Terima kasih Stebby Julionatan. Inspirasi dari kisahmu membuatku ingin terus berkarya, berprestasi dan makin mencintai Ibuku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: