BAGAIMANA SEHARUSNYA BERCINTA DAN PATAH HATI DENGAN CARA-CARA YANG HUMANIS


Sebuah review buku Barang yang Sudah Dibeli Tidak Dapat Ditukar Kembali

oleh Yeti Kartikasari Lestiyono

 

 

Penulis: Stebby Julionatan.

Editor : M Said Hudaini Kadmi

Bayumedia Publishing 2012

 

Jujur dan apa adanya. Begitu kesan pertama ketika membaca 13 kisah dalam buku yang ditulis sahabat saya Stebby Julionatan. Tadinya saya berfikir buku ini adalah sebuah novel. Tapi ternyata, kumpulan cerpen serta puisi yang terpisah namun menurut saya, saling bertalian.

 

Stebby memulai kisah dengan setangkup puisi bertajuk Ku Nanti Hujan di Pucuk Musim Kemarau. Sebuah judul puisi romantis yang mulai bait pertama hingga terakhir terasa begitu dramatis. Ada semacam harapan, doa, kepasrahan, penantian dan cinta sekaligus rindu yang diramu Stebby dalam enam paragraf. Sepertinya, Stebby paham betul bagaimana mengaduk-aduk emosi pembaca sekaligus penikmat puisi untuk ikut merasakan aroma berupa-rupa perasaan sang penulis dalam satu waktu.

 

Ku nanti rintihan awan di buta pagi

Saat kelelawar melahap semua cahaya

Dari permainan kartu nasib semalam,

Dimana orang-orang merapal mantra dalam ronda

Mengoyak kebahagiaan dari gumpalan awan

Lalu disulam di sarung mereka

 

Pada judul ”Lebih Baik Kau Tulis Surat Cinta untuk Buku-Bukumu Itu”, sebuah judul provokatif dan “terkesan” sinis.

 

Menceritakan seorang perempuan yang ”sadar” bahwa hidup ternyata tak butuh rayuan kata-kata gombal seperti masa remaja. Saat ia bertekuk lutut di kaki seorang laki-laki yang digambarkan sebagai pecinta buku-buku sastra. Yang memenuhi seluruh lemari kaca rumahnya dengan buku sebagai harta mahal dalam rumah tangga mereka.

Ternyata, penyesalan selalu datang terlambat, begitu yang dirasakan wanita dalam cerpen Stebby. Bahwa ia menyadari, menikah dengan pujangga adalah sebentuk kesalahan. Karena ternyata menikah dengan pujangga tak menjanjikan apa-apa.

 

Dalam cerpen ini, Stebby ingin mematahkan idealisme laki-laki yang diceritakan oleh si wanita. Dengan gayanya, Stebby mencoba “melucuti” si laki-laki pujangga itu bahwa ternyata kecintaannya pada buku, karya sastra ternyata tak bermakna apapun ketika ia menikah.

 

Tak selalu sebuah kisah memiliki akhir bahagia atau susah. Itu yang Tertangkap dalam cerpen Barang yang Sudah Dibeli Tak dapat Ditukar Kembali, yang juga menjadi judul dalam buku Stebby. Si penulis rupanya mencoba tak hanya memainkan emosi pelaku dalam ceritanya tapi juga sekaligus membawa si pembaca dalam pergulatan tanya. Setidaknya seperti yang saya rasakan sebagai pembaca.

 

Stebby mencoba melukiskan kisah percintaan sepasang Adam Hawa dengan gaya bahasa penuh romansa, sekaligus intrik dan rasa pahit plus misteri.

 

Sampai pada baris-baris di penghujung cerita bahkan hingga saat review ini saya tulis, masih bergelinjang pertanyaan, apa yang kiranya sesuatu yang disembunyikan si tokoh perempuan dalam keranjang bamboo setiap usai bercinta?

 

Kemudian pada cerpen Cukup di Jalan Suroyo Saja Bersamamu, Stebby mencoba menghadirkan romansa bagi pembaca terutama yang pernah melintasi Jalan Suryo, di tengah kota Probolinggo. Membaca cerpen ini, ingatan saya kembali menelusuri eksotika jalan yang menghadirkan suasana cinta itu. Stebby dengan detail memotret satu persatu apa saja yang dapat dinikmati di Jalan Suroyo, dengan bumbu-bumbu cerita cinta. Tidak melankolik tapi cukup romantic. Pengharapan sederhana seorang pecinta untuk dapat menikmati hari, tak perlu jauh-jauh sampai ke Jalan Braga, Bandung, cukup di Jalan Suroyo, namun hati mereka saling bertaut.

 

Pada kisah ke 12, Stebby menghadirkan lagi puisi yang puitis, dan jelas kepada siapa puisi itu ditujukan. Puisi bertajuk Aku Ingin Jadi Biru di Langit Mimpimu itu, ditulis denga pilihan kata yang penuh cinta khas lali-laki yang tengah kepayang cinta.

 

Kentara sekali, bahwa yang ditulis adalah semacam kerinduan dengan aroma pengharapan sekaligus curahan hati. Stebby menuliskan kegalauannya dengan sangat elegan tanpa meninggalkan romantisme. Agaknya, disinilah kekuatan tulisan Stebby yang penuh bunga-bunga dan bersayap.

 

Harusnya, ada 13 kisah dalam buku ini, namun nyatanya hanya ada 12 kisah. Uniknya, Stebby menyerahkan kisah ke 13 pada sidang pembaca untuk menuliskan.

Dari keseluruhan tulisan yang diramu Stebby, secara pribadi, saya angkat jempol. Stebby cukup piawai bagaimana menjelmakan kata-kata menjadi cinta, rindu, patah hati, kecewa dan getir sekaligus tanpa menjauhkan diri dari eleganitas dalam berkarya. Stebby menghadirkan parade sastra, cerpen sekaligus puisi dan meraciknya menjadi semacam ode bagi sidang pembaca.

 

Lepas dari ending cerita yang terkadang menggantung dan tidak tuntas, rasanya saya harus sepakat bila tidak selalu kisah berakhir dengan gamblang.

Membaca buku Stebby, seolah membungakan rasa cinta dalam jiwa bagaimana seharusnya bercinta dan patah hati dengan cara-cara yang humanis. Membaca Stebby, berarti siap-siap jatuh cinta dan merasakan pernak-perniknya dengan beragam rasa.

 

 

“Maka jatuh cintalah, dan nikmati segala rupa rasanya”

 

Rumah Hijau, rumah bertumbuh, 19 Juni 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: