NYALA API DI BUKIT SINAI


-cuhatan menjelang Pembinaan Presbiter-

“God… give me a sign, like Moses, in Sinai.”

Beberapa hari ini aku iri pada Musa.

Enak ya, Musa, ketika ia meragukan TuhanNya, ketika ia ragu apakah ia “utusan” bangsanya, membebaskan Mesir dari perbudakan, ia dikasih pengelihatan, bisa bertemu langsung dengan Tuhan dalam bentuk Nyala Api di Bukit Sinai.

Beberapa hari ini aku menunggu Pertanda.

Enak sekali jadi Damien (Pastor Damien Karras, tokoh dalam film Exorcist) yang mendapat “pertanda”, bisa berbicara pada setan, ketika keraguan iman tengah melandanya.

…. begitu lama pergulatan akan iman ini. Begitu lama Pertanda ini kutunggu.

Ternyata, “pertanda” itu ada pada buku yang selama berminggu-minggu ini saya bawa, #Nasional.is.me.
Dalam satu bab di buku karangan Pandji ini, juga diterangkan mengenai pergulatan iman Mother Teresa.
Mother Teresa?! Mother Teresa yang mengabdikan seluruh hidupnya kepada Tuhan dan umat manusia itu?

Ya, Mother Teresa yang itu.

Ternyata Mother Teresa juga mengalami pergulatan iman seperti apa yang saya rasakan saat ini. Tak hanya sehari dua hari tapi tahunan. 10 tahun beliau mengalami keraguan yang serupa.

Pandji mengetahui hal ini pertama kali dari majalah TIME, saat beliau, si Mother Teresa itu menjadi berita utama di majalah tersebut.
Dan saya kali pertama mengetahui hari ini, ketika menamatkan buku Pandji.

Maka ijinkan saya copas langsung saja kutipan beliau yang saya baca di buku Pandji.

“Where is my faith? Even deep down …there is nothing but emptiness and darkness …If there be God-please forgive me. When i try to raise my thoughts to Heaven, there is such convicting emptiness that those very thoughts return like sharp knives and hurt my very soul …How painful is this unknown pain-I have no Faith. Repulsed, empty, no faith, no love, no zeal, …What do I labor for? If there be no God, there can be no soul. If there be no soul then, Jesus, You also are not true”

Ya, KERAGUAN bisa menjadi anugerah yang luar biasa. Keraguan membuat kita mempertanyakan kembali keyakinan kita.

Beliau mendapatkan kembali keyakinannya. Dan menurut penuturan Mother Teresa, keyakinannya terhadap Tuhan jauh lebih kuat dari sebelum beliau merasakan keraguan yang luar biasa.

Ini… membuatku kembali ingat kepada apa yang dikatakan Tante Tila minggu lalu: ”Tuhan itu tidak memanggil orang yang sempurna imannya, tetapi sebaliknya. Ia yang tidak sempurna tapi siap untuk dibentuk.”

DENGGG!!! Seperti ada tamparan.

Tuhan… sepertinya kini aku mendapatkan Suluh-ku. Suluh Api-ku. Ia menyinariku. Di Jalanku.

“Hingga, mengapa engkau enggan, anakKu?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: