SINGAPORE, didn’t impress me much!


Boleh dibilang bahwa perjalananku kali ini ke luar negeri, ke Singapore, adalah sebuah keberuntungan. Kemarin, 25 Juni 2012, aku ke sana. Lewat Batam. Kurang lebih, setelah 1 jam menyeberangi selat Malaka, mengantri untuk kelengkapan surat-surat dan pemeriksaan paspor di imigrasi, aku sampai di Singapura. Tepatnya di Singapore Cruise Center.

Dan… di titik itu, dimulailah perjalananku mengelilingi negara yang luasnya 12 kali kota Probolinggo ini dengan menggunakan sebuah bus wisata sederhana nan meriah.

Well, titik terdampar saya yang pertama adalah Merlion Park. Landscape yang terletak di tepi sungai ini, kalo di Probolinggo mungkin mirip sama Nomad di halaman Museum Probolinggo. Di sana para wisatawan biasanya berfoto-foto di depan sebuah patung kepala singa raksasa (karena badannya berbentuk ikan) yang dari mulutnya mengeluarkan air. Bedanya sama Nomad, mungkin karena (ya itu tadi) letaknya di bantaran sungai yang luas dan bersih, bangunan di sekitarnya juga gedung-gedung tinggi dan serba modern, jembatan yang kokoh, apalagi… ditambah dengan prestige kalau itu di luar negri, lambang negara itu pula… jadinya ya WOW, selebihnya… biasa saja. Didn’t impress me much. Hehehehe…. I still love Indonesia. J I still love jalan Braga, Malioboro dan Suroyo tentunya. J

Lalu, bersama guideku yang nama dan karakternya (terutama culas bin cerewetnya) mirip di tokoh kartun Upin Ipin, Kak Rose, aku menyusuri trotoar dan jalanan hingga tiba di Rumah Coklat. Mungkin menurut Makcik Rose, ini adalah pusat oleh-oleh terbaik di Singapore. Kalo dibilang, mungkin di Probolinggo, itu aku kayak diajak ke “Le-Ollena”nya Om Puguh atau ke Pusat Oleh-Oleh Kerupuk Tengiri-nya Ko Ming Ho di Aloon-Aloon. J

Masih… it’s didn’t impress me.

Next Destination, Bugis Jungtion…. ealah, ini mah mirip Pasar Turi. Kalau di Probolinggo, mungkin sama kali ya sama Gotong Royong. Makcik Rose menerangkan kalau di sini aku bisa menawar harga. Tapi herannya, ketika aku berbelanja, kenapa semua barangnya kok fix prize ya??? Harga Mati. Langsung mati gaya gw. Ga bisa ditawar.

Atau… mungkin mereka tau ya kalo aku ini turis? Atau mungkin, karena ini adalah kunjungan pertamaku ke Sings ini, jadinya aku masih ga tau dan belum paham di mana letak toko-toko yang bisa ditawar dan memberikan harga yang murah.

Intinya, gw mending belanja di KDS aja dah. Murah, ga usah ditawar lagi. Hahahaha….

Dari Bugis, guideku mengajak ke Orchard Road. Kawasan perbelanjaan elite di sono. Yaaa… macam dr. Soetomo lah kalo di Probolinggo. J

Di sini aku jadi inget The Beatles yang berfoto menyebrang jalan di Abey Road, Inggris Raya sana. Ga mau kalah sama John Lenon, dkk. aku juga berfoto di sana. Sambil menyeberang jalan tentunya. Hehehe…

Yang ini, lumayan mengesankan lah.

Selanjutnya aku naik KRM “Nort East Line” to Pungol 7. Ga nyaman. Terlalu cepet. Betapa begitu cepatnya semua yang ada di negara ini. Masa’, cuma dapat dua jepretan foto aku sudah turun. L

Turun di deket Mustofa. Sebuah pusat perbelanjaan bagi umat Muslim. Males. Dah ga punya duwit. L

Dari kawasan “entahlah” ini, aku ke Universal Studio. Nah, di sini dah ga mungkin dibohongi lagi (selain di Merlion Park tentunya) kalo aku dari Singapore. Udah deh, semua sodara dan temen-temen deketku yang liat fotoku via Instagram ber-WhatsApp semua untuk minta oleh-oleh. Hedewww…. semakin kerelah aku di sana. Hihihihi…

Last destination-ku di hari itu aku gunakan untuk melihat Song of The Sea di Sentosa Island. Ada banyak pilihan (transportasi) sebenarnya. Tapi kali kemarin, dari Universal, aku naik monorail. Perasaanku, sama seperti pas naik KRM. Terlalu cepat. Cuma dua jepretan, aku sudah kembali didepak dari kereta sialan ini. Well, gimana mau merenung merenung kucing menikmati pemanadangan dan keasyikan naik kereta ini?! Oh, shittt!! L Lagi-lagi semuanya harus berlari.

Hehehe… maklumlah, tipikal orang Indonesia. Seneng santeeeeei…

Akhirnya bener-bener sampai di Sentosa Island untuk menyaksikan pertunjukan Song of The Sea. Teeeetttt…. tepat jam 6 petang waktu Singapore (atau sekitar pukul 5 sore waktu Probolinggo) pertunjukan dimulai. Ealaaah, ternyata Song of The Sea tak ubahnya dengan pertunjukan Operet Bobo di Dufan atau TIM, ataauuuu… pertunjukan operet yang aku saksikan bersama dengan teman-temanku waktu liburan ke Trans Studio Bandung setahun yang lalu. L

Kecewa. Aku kira Song of The Sea itu seperti apa. Kalau dari judulnya kan harusnya “Nyanyian Lautan”. Laut yang bernyanyi. Berarti nih laut nantinya dipakai atau dimanfaatkan sebagai alat musik, pikirku. Akan ada alunan nada yang entah bagaimana caranya akan keluar dari deru lautan tersebut. Nyatanya… oh, nooo….. a very BIG NO! Cuma perpaduan antara operet, air mancur dan laser. L L

Bener-bener membuat penonton kecewa. L Mayangan City mah juga bisa kalau pertunjuakan seperti ini. L

Singapore itu lho, kok juga cek bangga seh sama etnisnya yang cuma 4 (ekspatriat, Melayu, Cina, India) itu?! Duh, kita lho sudah wajar kalo di Indonesia. Berjibun. Seabraeg. Jangankan ngitung etnis satu negara yang terdiri dari beragam suku dan budaya yang tersebar dalam 32 provinsi ini, satu kota kecil macam Probolinggo saja, kota yang luasnya ga lebih dari luasan ibukota Jakarta ini, sudah 4 etnis sendiri. Lha gimana kebanggaan kita kalo satu negara kita kumpulin dan diadu banyak-banyakan koleksi ragam budaya sama sono… ya ga ada apa-apanya lah. J

Sedikit curhat, pengalaman ke Singapore ini, sedikit banyak mungkin sama dengan yang aku rasakan ketika pertama kali ke jakarta dulu. Disappointed. Ya, aku kecewa. Waktu itu, bayanganku tentang Jakarta adalah seberapa besar dan mengagumkannya Monas dan Bundaran HI itu.

Ya, yang satu terkenal karena memang sebagai simbol dari ibukota itu sendiri, sedang yang satunya kukenal akrab dari televisi sebagai tempat strategis dari para demonstran dalam menggelar aksinya. Ternyata… begitu sampai sana… ow oow ooowww… a BIG NO (again). Biasa bangeeett… Masih lebih kerenan empang nenek gw lah, di kampungnya, di Wai Ambon sono.

Well, gimana BonX? Masih tertarik untuk ke luar negeri? Ke Singapore lagi, BonX?!

Ga deh. Aku cinta Indonesia. J

.

.

.

.

.

.

.

Tapi… kalau bulan depan ada yang ngajak ke Thailand, boleh laaaahhhh….. Hehehehehehehehe. (tby)

2 Responses to “SINGAPORE, didn’t impress me much!”

  1. Kalau đι singapore terdapat CHINATOWN mungkin đι KOTA TERCINTA terdapat kampong ARAB. He he😀

  2. Andaikan đι KOTA TERCINTA terdapat KRM “Nort East Line” mungkin KOTA KITA mirip SINGAPORE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: