SUARA KOTA GELAR ACARA LAUNCHING DAN BEDAH BUKU*)


SUARA KOTA – Suasana malam Minggu’an di Museum Probolinggo yang memang selalu ramai, malam itu (14/4) bertambah ramai dan semarak dengan adanya kegiatan launching dan bedah buku milik salah satu kru Radio Suara Kota, Stebby Julionatan.

Launching dan Bedah Buku Kumpulan 13 Kisah: “Barang yang Sudah Dibeli Tidak Dapat Ditukar Kembali” yang digelar di Halaman Radio Suara Kota (masih satu halaman dengan Museum Probolinggo, red.) tersebut langsung menyedot banyak perhatian dari warga masyarakat, di luar undangan, yang sebenarnya hendak menghabiskan malam dengan nongkrong di halaman Museum.

Acara yang dimulai sejak pukul 19.00 WIB tersebut dihadiri oleh puluhan orang dari dunia pendidikan Probolinggo. Mulai dari siswa, para pendidik, pengawas hingga para penjabat di lingkungan Dinas Pendidikan Kota Probolinggo, hadir dalam acara tersebut. Tak cukup mereka, acara tersebut juga dihadiri juga oleh rekan-rekan Stebby, sesama penulis Probolinggo dan juga para seniman di bidang lainnya, selain penulis.

“Jarang-jarang di Probolinggo ini ada acara launching dan bedah buku seperti ini. Dan Stebby mengawalinya,” respon Ansor, salah satu pengunjung di acara launching dan bedah buku tersebut.

Bedah buku yang juga menghadirkan sosok penulis senior Yonathan Rahardjo, penulis buku Lanang, pemenang lomba penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta 2003 ini dimoderatori oleh Oke, penyiar radio Suara Kota yang suaranya sudah dikenal demikian akrab di telinga masyarakat Kota Probolinggo lewat program Cangkruk’an dan Laporo Rek!

Barang yang Sudah Dibeli Tidak Dapat Ditukar Kembali adalah buku kedua Stebby Julionatan yang tema utamanya adalah cinta dan pengetahuan.

“Cinta dan Pengetahuan tidak dapat dipisahkan. Rasio dan hati tidak berjalan seimbang. Dalam hidup manusia tidak bisa hanya mengikuti cinta saja. Atau cinta saja. Itulah yang ingin saya sampaikan melalui buku ini,” tutur Stebby di awal acara.

Yang unik, dari keseluruhan acara launching yang digelar malam itu adalah penampilan dari para penyiar Suara Kota. Masyarakat Probolinggo yang selama ini hanya mengenal Yuli lewat Kajian Islam, malam hari itu bisa menyaksikan Yuli membaca puisi. Atau, Iren yang selama ini dikenal membawakan program berisi lagu-lagu nostalgia, menyanyi dengan iringan organ tunggal Yoke. Juga penampilan pamungkas yang dibawakan sendiri oleh Stebby, dibantu oleh rekan duetnya Lina, malam itu, membawakan musikalisasi puisi yang diambil dari salah satu cerpen di bukunya yang berjudul Tisu Basah.

“Biasaya masyarakat hanya mendengar kami cuap-cuap saja. Sekaranglah saatnya kami sendiri ditantang untuk total dalam berkesenian. Untuk tampil di depan audience. Dan ini membuktikan bahwa penyiar itu juga manusia biasa. Siapa bilang penyiar itu ga nervous-an?,” canda Lina selalu EO acara tersebut.

Stebby mengungkapkan bahwasannya acara launching dan bedah buku tersebut adalah prakarsa kawan-kawannya di radio.

“Saya sangat berterima kasih terhadap mereka semua. Atas dukungan mereka. Yang tak henti-hentinya men-suport karier kepenulisan saya,” ungkap pria yang dijuluki (tabloid) NOVA sebagai Sang Filosofi Sepatu ini.

Rupanya bentuk dukungan tak hanya datang dari rekan-rekannya sesama penyiar, dalam acara spesial malam itu juga dihadiri oleh Kabag Humas dan Protokol, Gatot Wahyudi, kepala kantor di tempatnya bekerja.

Dalam kesempatan tersebut Gatot Wahyudi juga mengungkapkan rasa kebanggannya terhadap salah satu stafnya tersebut.

“Dalam hidup, sudah selayaknya manusia itu grafiknya selalu ke atas. Dan menurut saya, Stebby telah membuktikannya,” ujar Gatot Wahyudi di hadapan para undangan yang hadir.

Sementara itu Yonathan Rahardjo, dari segi sastra menilai, bahwasannya buku Stebby itu jujur.

“Buku Stebby itu jujur. Ia bercerita dengan cara yang tak biasa. Tanpa membutuhkan deskripsi-deskripsi penghubung pergerakan fisik tokoh-tokohnya, ia langsung menghujam pada pikiran dan perasaan yang dialami tokoh-tokohnya. Ini sangat jarang dilakukan oleh para cerpenis Indonesia. Kalau hal ini ditarik ke dalam kesadaran yang lebih luas, lebih kolektif, cara menulis Stebby yang masih jarang digunakan oleh para penulis Indonesia ini, mirip dengan gaya menulis yang biasa digunakan oleh para peraih nobel sastra dunia, semacam Marquez dan Hemingway” Tutur Yonathan.

Acara launching dan bedah buku ini menjadi semakin lengkap dan penuh warna dengan penampilan musikalisasi puisi karya Stebby yang berjudul Banjar Rejo, yang malam itu dibawakan oleh Shenobi Mikael dan SS Community. (R*)

*) tabloid Suara Kota edisi 133

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: