Luncurkan Karya Kedua, Stebby Angkat Tema Cinta (full version)


RADAR BROMO – Gaung penulis di Kota Probolinggo semakin nyaring terdengar. Seiring dengan peluncuran karya salah satu penulis muda kota setempat, Stebby Julionatan.

Warga Jrebeng Lor, Kecamatan Kedopok Kota Probolinggo ini, kemarin (14/4) melaunching buku yang berjudul Barang yang Sudah Dibeli Tidak Dapat Ditukar Kembali.

Mengambil lokasi di Kantor Radio Suara Kota Probolinggo, acara launching sekaligus bedah buku tersebut dihadiri puluhan orang dari dunia pendidikan Probolinggo. Mulai dari siswa, para guru hingga pejabat Dinas Pendidikan (Dispendik).

Stebby Julionatan mengatakan, launching dan bedah buku kali ini diadakan untuk menanamkan kegemaran menulis dan membaca sastra di Kota Probolinggo. Sebab menurutnya, karya sastra yang dihasilkan warga setempat masih sangat minim. Berbeda dengan kota lainnya seperti Surabaya dan Malang.

”Dunia sastra di kota ini belum berkembang. Bahkan, saya sering kali kesulitan mengumpulkan penulis-penulis di kota ini,” kata Stebby saat ditemui sebelum acara.

Staf Humas dan Protokol Pemkot Probolinggo itu mengungkapkan, karyanya kali ini merupakan kumpulan cerita pendek (cerpen). Dimana, buku tersebut mengandung kisah tentang cinta dan pengatahuan yang tidak dapat dipisahkan.

”Rasio dan hati itu harus berjalan seimbang. Tidak dapat berjalan hanya mengikuti logika kita saja. Dan juga sebaliknya. Itulah yang ingin saya sampaikan melalui buku ini,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu pembicara dalam bedah buku ini, Yonathan Rahardjo menyatakan, melalui karyanya, Stebby mampu menulis hal biasa dengan cara tidak biasa. “Ia menulis dengan hati nurani. Tidak terpaku pada landasan teori dan metodologi. Dari referensi saya, cara Stebby menulis banyak digunakan oleh penulis-penulis di dunia sana. Saya berpesan pada semuanya, jangan takut menulis, menulislah  sesuai kejujuran hati nurani,” kata Yonathan.

Pria penulis buku berjudul Lanang itu menyebutkan, buku tulisan Stebby kali ini lebih banyak membahas tema populer, yaitu cinta. Meski demikian, Yonathan menegaskan, yang perlu dicontoh dalam buku ini adalah cara penulisannya. “Sebab buku ini ditulis dengan kejujuran hati nurani,” pungkansya. (mas/qie)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: