Dream’s Book 2012, My Inspiration*)


I feel complete. Saya merasa lengkap. Sebab… impian saya sepanjang tahun 2012 ini rasanya sudah tercapai semua di awal tahun ini (baca: Februari 2012). Impian saya, sejak dahulu, yang selalu saja ingin menjadi penulis, tahun ini sudah tercapai, bahkan saya sudah menghasilkan 2 buku sastra: sebuah novel berjudul LAN dan sebuah kumpulan kisah berjudul Barang yang Sudah Dibeli Tidak Dapat Ditukar Kembali. Untuk urusan perkerjaan, alhamdulillah, puji Tuhan… saya sudah mendapatkan pekerjaan yang sreg, sesuai dengan hobby dan hati saya. Kegemaran saya. Apalah yang lebih membahagiakan di atas dunia ini jika kita bisa bekerja dan menjalankan hobby atau kesukaan kita secara bersama? Pekerjaan yang sesuai dengan hobby dan kecintaan kita? Karena pada dasarnya, bukankah untuk menghasilkan sesuatu yang maksimal, kita harus mencintai apa yang kita lakukan dan apa yang kita kerjakan. Sebagaimana yang kawan ketahui, bahwasannya saya bekerja sebagai staff Humas di Pemkot Probolinggo. Sebuah jenis pekerjaan yang tugas dan tanggung jawabnya adalah dunia yang saya cintai: MENULIS. Di sana saya bertugas untuk menulis naskah sambutan walikota, menulis beberapa sambutan pejabat daerah, menulis berita tentang kemajuan atau agenda kegiatan Kota Probolinggo, serta mengelola beberapa media yang dimiliki oleh pemkot, seperti: tabloid Suara Kota, Majalah Link-Go dan website Pemkot.

Sejak saya masuk di sana, menjadi staff Humas, salah satu kewajiban yang juga harus saya emban adalah siaran di Radio Suara Kota Probolinggo 101,7 FM. Menjadi announcher. Well, dan ini benar-benar sebuah pengalaman baru bagi saya. Boardcast adalah dunia yang benar-benar baru bagi saya. Dan rupanya seruuuuu…!!! Saya belajar banyak hal di sini, terutama komunikasi. Sebab, kalian tau sendiri lah, kalau dulu saya tuh benar-benar orang yang gagu… orang yang ga bisa ngomong. Nervous banget kalau disuruh ngomong, apalagi kalau harus ngomong di depan audience yang banyak. Brrrrrrr… Tangan keringetan dan basah. Blank. Pikiran lantas langsung blank. Hehehehe.

Untuk cinta…. saya rasa, saya juga sudah menemukan rumah untuk pulang. Rumah yang selalu setia menanti kehadiran dan kepulangan saya. Rumah dimana saya bisa benar-benar menjadi diri saya sendiri, seutuhnya. J Cinta adalah jalan untuk pulang.

Selanjutnya, impian saya untuk bisa berkeliling Indonesia tanpa mengeluarkan biaya sama sekali juga sudah tercapai. Apa lagi yang saya inginkan?? Entahlah, rasaya saya sudah puas dengan pencapaian saya di tahun ini.

Di dunia pendidikan pun, impian saya untuk bisa mengamalkan ilmu akademik saya, yang notabene sarjana pendidikan, sebagai anggota termuda di Dewan Pendidikan Kota Probolinggo juga sudah keturutan. Jadi, apa lagi?

#TarikNafas

Tapi terus terang, ketika saya lalu berpuas diri terlebih dahulu, berarti saya menjadi pribadi yang mandeg. Pribadi yang gitu-gitu saja. Dan saya tidak ingin hal tersebut terjadi. Sebab betapa merugilah saya pastinya jika saya hari ini menjadi saya yang sama dengan hari kemarin. Apalagi kalau nantinya ternyata saya mandeg dan menjadi saya yang lebih buruk dari hari kemarin.

Untuk itu, di tengah jalan ini, saya malah (baca: harus) semakin memacu kreatifitas saya. Membarternya. Saya ingin kembali bertaruh dengan tantangan. Membekali diri saya dengan target-target baru yang sebelumnya tak ada, yang tak saya sertakan sebagai resolusi saya di awal tahun.

Akhirnya setelah berpikir matang, inilah hal-hal yang saya tetapkan untuk mengisi daftar resolusi saya di tahun ini. Maaf, saya tidak mengatakannya daftar impian, sebab menurut saya… kalau impian itu hanya diimpikan tanpa kita  pernah bangkit dan berbuat sesuatu untuk mewujudkannya. Sedang resolusi… adalah daftar impian, daftar keinginan-keinginan dimana kita bangkit, berusaha, berbuat sesuatu untuk meraih dan mewujudkannya. Untuk itulah, saya saya lebih sreg menggatakannya sebagai daftar resolusi saya di tahun ini.

Pertama, menyelesaikan karya antologi puisi saya, yang berjudul Biru Magenta, bersama seorang kawan, Ratna Satyavati. Selanjutnya, pertengahan tahun saya saya akan mulai menggelar pembacaan pre-editing untuk draff novel kedua saya, Lita dan Orang Gila, bersama para pakar di bidang sastra dan juga teman-teman yang saya percaya. Dan untunglah berkat proyek nekat #Januari50K bersama beberapa orang penulis Kampung Fiksi, draft novel tersebut sudah rampung dan tinggal memperbaiki detail-detailnya saja.

Di bidang ini, tentunya (baca: setidaknya) saya ingin meraih Katulistiwa Literary Award atau sebagai sastrawan yang diundang di dalam gelaran Ubud Writers & Readers Festival 2012 yang digelar di Ubud-Bali, bulan Oktober tahun ini.

Kedua, (semoga) tahun ini semakin banyak saja karya-karya cerpen saya yang masuk di media-media nasional macam Jawa Pos, Kompas, Media Indonesia, dll. Andrei Aksana, hadapilah lawanmu ini. Hehehehe…

(Ketiga). Aku ingin pergi ke tempat-tempat bersejarah yang ada di atas bumi ini. Ke Negeri di Atas Awan (baca: Puncak Ijen) bersama sejARaHwan; Dukuh Girah – Kediri, Warok – Ponorogo, Pantai Puger – Jember, hingga ke reruntuhan Trowulan yang ada di Mojokerto; negara atau kota-kota wisata dunia yang kaya akan sejarah: Paris, Venice, London, Mt. Tivis, Jepang, Dubai, Roma dan Yerusalem; merasakan khidmatnya upacara 17 Agustus di Puncak Semeru; atau sekedar jalan-jalan ke Universal Studio di Singapore dan mengunjungi salah seorang paman yang tinggal di Leiden, Belanda.

Ingin bisa nyetir mobil. (Keempat)

Dan… kelima, saya temukan jawaban ini ketika kemarin ada seorang teman, melalui telepon, bertanya kepadaku, apa yang kamu bayangkan 20 sampai 30 tahun lagi. Seperti apa kamu ingin menjalani kehidupanmu? Sambil memejamkan mata dan membayangkan, aku ingin diriku sudah menapakkan jejak kakiku di pulau Dewata, Bali. Aku membayangkan bahwa diriku sudah tinggal di sana. Di sebuah desa di wilayah kabupaten Negara. Tinggal di sebuah rumah yang sederhana bersama istri dan anak-anakku. Rumah mungil dengan halaman yang luas nan hijau, yang berdiri di dekat sebuah pura. Sebuah pura yang setiap saat mengalunkan syahdu mantra-mantra puja, aroma dupa dan bunyi gemericing lonceng dan gamelan. Juga percik air suci. Aku membayangkan diriku mengajar sastra dan ilmu-ilmu semiotik di salah satu universitas negeri yang ada di sana. Membayangkan, mengantarkan istriku bekerja dengan berjalan kaki, melewati sawah dan pematang yang terhampar di kiri dan kanan jalan. Oh, sungguh indah. Membayangkan menjemput anak-anak kami sepulang sekolah. Well, tentu saja, ketika mereka masih bersekolah di sekolah dasar. Aku juga membayangkan bahwa diriku punya sebuah rumah singgah, bagi anak-anak jalanan, anak-anak yang tumbuh tanpa mengenal orang tua mereka sama sekali, dan anak-anak berkebutuhan khusus. J

Tentunya, di balik semua impian dan kesuksesan itu, saya ingin bisa berbagi dengan lebih banyak orang. Sebab bagi saya, apalah arti kesuksesan bagi saya bila hanya saya sendirilah yang sukses. Bukankah kesuksesan tidak terletak pada seberapa suksesnya diri kita sendiri, melainkan berapa banyak orang lain yang sukses yang lahir dari kesuksesan kita? Impian saya adalah itu. Impian yang lebih esensial dari impian-impian yang ada, bahwa dengan keberadaan saya, saya bisa menginspirasi generasi muda Kota Probolinggo untuk bisa berprestasi lebih hebat daripada saya. Semoga!!!

*) tulisan ini memenangkan lomba menulis blog yang diselenggarakan oleh Binggo (Blogger Probolinggo) dengan tema INSPIRASI

Advertisements

One Response to “Dream’s Book 2012, My Inspiration*)”

  1. What an inspiring note. Emang bener… Bahwa pekerjaan terbaik adalah hobi yang dibayar. Sukses, mas…! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: