KISAH KETIGA BELAS AGRIPPINA GRISELDIS JEMIMA WALUJO


Sore itu tetes hujan membasahi bumi sedikit demi sedikit. Serasa enggan untuk turun menyentuh tanah kota Bangkalan-Madura ini. Sepeda motor ku lajukan dengan kecepatan standart demi menghindari sesuatu hal yang buruk terjadi. Hati tak tenang memandangi jalanan yang basah, mengira-ngira pukul berapa saat itu.

Laporan kimia ku belum sampai di tempat dimana seharusnya ia berada sedangkan batas akhir hampir terlewati. Jantung berdegup kian keras. Seperti dentum bass drum saat melantunkan musik rock. Tempat itu masih jauh dari pandangan mata.

Pohon-pohon tinggi menyambut langkahku di antara mereka.Tanah kuburan terlihat sangat becek. Aku tak mampir ke sana. Hanya memandanginya dari sisi jalan. Tiba-tiba ku lihat rumah itu sudah ada di depan mata. Ku matikan motor ku dan melangkah memasuki halaman yang tidak luas itu.

Salam dan ketukan tangan berhamburan dan langsung hilang tertiup angin senja itu. Tak ada sahutan. Ku hampiri serambi belakangnya dan serasa pemandangan surga hadir. Laporan itu sampai di tangan yang tepat, tepat pada waktunya. Nafas legapun menyeruak. Kembali ku lanjutkan perjalanan ku ke tempat dimana seharusnya sejak tadi aku berada.

Senyum satpam yang seperti biasa menyambut kedatangan ku. Di tengah rintik hujan ini tak yang ku pikirkan selain betapa malasnya aku untuk melangkahkan kaki memasuki kelas untuk mengikuti bimbingan. Selain karna sudah terlambat, pelajaran itu pun rasanya sudah bosan ku terima. Saat hal itu menjadi perdebatan di otak ku, ku temui Della juga sedang berdiri dan menampakkan wajah enggannya untuk mengikuti pelajaran.

“Ngapain kamu?” cerocos ku

“Telat kayak kamu. Males juga. Ke CS aja yuk!”

Kepala terangguk tanda setuju.

Suasana ruang santai sepertinya tak terpengaruh oleh kedatanganku. Bosan tak terhindar dan mulai merajalela.

“Mbak, ada novel baru?” aku berharap mendapatkan bacaan yang menyegarkan pikiran karna hujan sudah tak mampu lagi.

Jujur ku akui hujan selalu dapat mengalihkan perhatian ku. Tapi untuk saat ini sepertinya daya pikatnya telah tertelan bulat-bulat oleh suasana hati yang tak menentu.

“Itu lo dek ada buku baru punyanya Pak UF”

“Bagus mbak?”

“Liat aja”

Berdiri seperti suatu keajaiban apalagi berjalan dan mengambil buku. Ohh.. Itu tak akan terjadi kalau tidak ku lihat sampul buku berjudul aneh bin ajaib itu.

‘Aneh’

Hanya satu kata yang terlintas saat itu. Ku pandangi buku pertama itu dan ku alihkan mata ku ke buku kedua. ‘Jalan Kepiting’ kumpulan puisi tak begitu membangkitkan semangat membaca ku. Tapi setelah ku lihat nama pengarangnya ‘Umar Fauzi Ballah’ yang tak lain adalah si pemilik buku dan guru ku, ku baca juga akhirnya.

“Dek, kok gak masuk?”

“Ah bapak. Dari tadi dicariin gak ketemu ketemu. Mau minjem buku pak.”

“Oh iya. Tapi yang Jalan Kepiting tak pinjem dulu ya? Ada perlunya.”

“Oh okey”

Akhirnya hanya satu buku yang ku pegang. Penasaran, ku buka juga lembar demi lembar nya. Oh tidak, itu kesalahan terbesar ku hari itu. Buku itu menarik mataku untuk menelusuri setiap kata demi katanya. Unik, menarik, lucu, apalagi kata yang dapat ku gambarkan untuk menjelaskan betapa menariknya buku ini.

‘Barang yang Sudah Dibeli Tidak Boleh Dikembalikan’

Bab demi bab mengalir begitu saja seiring dengan mengalirnya beban pikiran ini satu demi satu. Dua belas bab terlewati tanpa ada halangan sedikitpun. Bahasa nya mengalir indah membuat siapapun yang membacanya dapat dengan mudah memahaminya. Sampai akhirnya ku temukan bab terakhir buku ini.

“Lho kok?”

Tertulis disana untuk mengirimkan cerita sendiri mengenai bab KETIGA BELAS itu. Tanpa pikir dua kali, ku catat alamat email dan format penulisan yang tertera disana.

Beberapa hari kemudian, ku lakukan apa yang ingin ku lakukan itu. Sangat menyenangkan dapat mengalunkan kembali jari-jari ini di atas keyboard yang telah lama tak ku sentuh berlama-lama. Serasa kembali kepada dunia yang telah hilang dari hidupku ini.

Ada beberapa hal yang perlu dipertegas tentang aku dan buku ini. Demi buku itu aku rela menghabis satu jam untuk duduk di ruang santai tempat bimbingan sampai semua orang bertanya. “Nunggu apa dek?”. Aku hanya nyengir saja menanggapi pertanyaan yang sama yang diulang berkali-kali itu.

Demi buku itu juga aku rela pulang jam sembilan malam supaya dapat menyelesaikannya tanpa harus dibawa pulang kerumah. Karna akan terjadi Perang Dunia Ketiga bahkan Keempat kalau aku sampai berani membawa pulang buku sastra itu kerumah.

Dan yang terakhir, demi buku itu juga aku rela duduk di kursi selama bermenit-menit dan meluangkan waktu tidur siang ku yang sangat berharga. Hanya untuk mencoba menulis Kisah Ketiga Belas buku itu.

Entah apakah kisah yang kuhasilkan menarik atau tidak. Yang pasti aku telah mengeluarkan apa yang ada di otak ku. Sudah mengerjakan apa yang ingin ku lakukan. Dan sudah berhasil mendapat kesenangan yang telah lama tak muncul di hati ini. Karna dunia ini telah lama ku tinggal dan telah lama ku simpan jauh di dasar file-file di dalam laptop ku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: