E I K O S *)


RADAR BROMO, MINGGU 19 FEBRUARI 2012

Ibu:

Apakah dunia akan tampak tak sama jika kau terlahir tanpa seorang Ayah? Apakah aku bukanlah rumahmu ketika tak ada lelaki di samping fotoku? Apakah rahimku tak cukup hangat, hingga kau tiba tersedak, tersentak dan membentak, mengapa aku tak bersama lelaki itu?

“Ibu, di manakah ayah?” tanyamu di suatu siang, saat aku menjemputmu sepulang sekolah. Saat itu kau masih kanak-kanak, yang berlari-lari menggenggam gulali dengan seragam berwarna putih-putih. Dan aku masih bisa berkata kepadamu bahwa ayahmu sedang di luar kota. Ia bekerja. Mencari uang untuk makan kita. Aku dan dirimu.

Esoknya sepulang sekolah kau kembali dengan pertanyaan yang sama. Dalam pelukku kau berkata: “Ibu, di manakah ayah? Ayah teman-temanku yang bekerja di luar kota, pulang dan menjemput mereka dari sekolah. Kapan ayah pulang.”

Tak terasa air mataku mengalir.

“Ibu, kenapa engkau menangis?”

“Besok, Nak. Besok dia pulang.” Jawabku.

Saat itu aku gelisah. Entah, ini sedih ataukah luka. Apakah yang harus kujawab pada putriku ini? Adakah harus kujawab bahwa ayahnya adalah Kata yang dihembuskan ke dalam rahimku? Berbiak di dalam cinta dan kesesakan, dari Nazaret ke Bethlehem. Haruskah kujawab bahwa ia terlahir dari Api persembahan yang kukitari sebanyak tujuh kali? Hingga tanya itu tak perlu lagi kujawab. Selamanya.

Ketika itu…

Putri:

Aku ingat, ketika aku masih berseragam putih merah, di sekolah, guruku pernah bercerita tentang seorang putri yang lahir dari dalam timun. Itulah diriku, timun yang dibelah oleh ibuku dan beroleh aku. Hadiah dari seorang Raksasa. Hingga sebuah bahaya lantak mengintaiku, menyergapku dalam pusaran keheningan, Raksasa itu menuntut balik haknya untuk mendapatkanku. Seperti hari ini.

Ibu, mana terasi, jarum dan garamku?

Ibu:

Anakku, bagaimana caraku untuk mengingatkanmu? Menyadarkanmu? Sementara suaraku harus terkunci rapat-rapat tentang asal-usulmu. Serupa Ariel yang harus berkorban menukar suara untuk mendapatkan kakinya. Anakku, tidakkah kau mampu membaca perandaku? Gelagatku yang mengapung-ngapung di atas lautan batinmu.

Aku mendapatkanmu dari melambungkan balon-balon berwarna biru di angkasa, dan bangau membawamu dalam lampin, di depan pintu rumahku. Tapi rupanya kau serupa kera yang terlahir dari batu. Yang melompat-lompat nakal dan penuh keliaran. Harapku, semoga segera datang seorang biksu yang mengajakmu ke Barat.

Aku mencintainya. Mencintai ayahmu. Tapi aku tahu aku tak bisa bersamanya. Banyak hal. Ia, yang sanggup menghantar cinta lewat matanya, tentu tak mungkin begitu saja menghantar legalitas lewat buaiannya. Sebab kepastian itu sudah ia miliki dengan perempuan lain. Istrinya. Keluarganya.

Cukup aku. Diriku, Anakku. Dan cintaku. Kamu.

Tak cukupkah jika aku menjawab, “Kalau ada aku yang tak membuangmu, mengapa kamu harus menangisi ia yang telah membuangmu?”

Putri:

“Tak cukupkah jika aku menjawab, Kalau ada aku yang tak membuangmu, mengapa kamu harus menangisi ia yang telah membuangmu.” Suatu hari ia berkata seperti itu ketika aku masih saja merengek menuntut sebuah pasti.

Aku pun membentaknya. Lalu gelisah setelahnya.

Tidak, Bu. Itu tidak cukup. Aku ingin pasti. Aku ingin wujud. Aku ingin ia hadir. Tak seperti angin, aku ingin memastikan bahwa cucuk lambung itu benar-benar ada di tubuhnya.

Rasanya, mulai detik itu aku sudah tak pernah lagi bertanya kepadanya. Semakin dewasa, aku semakin hening dari tanya. Di satu sisi aku marah dan kecewa, sedang di sisi lain aku tak ingin membuatmu bersedih dan gelisah. Ibu, Mengapa engkau begitu kaku membekap semua rahasianya?

Ibu:

Pria yang sekarang kau cintai itu, itulah ayahmu.

Putri:

“TIDAAAAAAAKKKKK!!!!” Aku tak percaya. Mengapa kau baru mengatakannya sekarang, Ibu? Di saat aku sudah merasa lelah dengan semua ketidakpastian dan derita kehilangan?

Kenapa tak dari dulu? Kenapa tak sejak awal, kau melarangku dengan larangan yang keras hingga aku bisa menjauhi dan memasang hindar kepadanya? Ah, mungkin juga telah kau lakukan, tapi telingaku saja yang sudah begitu tebal. Lalu, kenapa bukan kau yang bersamanya hingga aku tak perlu selalu kebinggungan menelisik foto-foto di ruang tamu kita untuk mencari sosok lelaki itu? Mencari rumah, lalu jatuh cinta pada tatapan itu? Menjauhkan pikir, menuruti segala kehendak rasa.

“Tak mungkin.” Hanya itulah jawabmu.

Cinta… siapakah yang salah? Mulanya aku hanya merasa bahwa ia adalah wujud yang sesuai untuk dapat mengalihkan gelisahku dari sebentuk ayah, dan sesosok rumah. Hingga kuberniat menerjang segala prahara. Usia… status sosial… stigma… norma… dan pastinya bisik-bisik tetangga. Juga nasehatmu, Ibu.

Bagaimana cinta bisa begitu saja menipu? Mengapa cinta selalu saja mejadi sejarah menyesatkan? Lelaki tua, yang sudah mempunyai istri, juga anak seumuran diriku, menghamparkan jerat cintanya kepadaku, adalah ayahku. Adalah lelaki yang telah menanamkan benihnya di rahim ibuku. Cinta… apakah aku yang salah? Arrgghh, mengapa norma tak pernah bersahabat dengan cinta?

“Ibu, aku hamil.” Kataku.

Ibu:

Kuhamparkan peluk kepadanya.

Putri:

Kuterbangkan balon-balon biru ini ke udara untuk menyapamu, Ayah. Berharap bahwa aku sekarang sedang tertidur dan bermimpi. Menikmati dongeng-dongeng ibuku bahwa aku adalah putri yang dibungkus lampin. Diterbangkan oleh bangau-bangau dari arah Tenggara dan diletakkan di depan rumahnya.

Ibu, akulah putri yang memilih lahir dari tanakan doa-doamu. Maafkanlah aku, Ibu. Aku mencintaimu. Ibu… dalam rahimmu aku berpulang.

Probolinggo, 23 Desember 2011.

*)EIKOS = RUMAH

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: