BELI SAJA TIDAK DAPAT DITUKAR LAGI, APALAGI TUKERAN…


Judul      : Barang Yang Sudah Dibeli Tidak Dapat Ditukar Kembali
Penulis   : Stebby Julionatan
Penerbit : Bayumedia Publishing
ISBN       : 978-602-9136-73-9
Terbit     : Januari 20112
Tebal      : 80 Halaman
Harga     : Rp. 30.000,-
Peresensi : Amalia Dewi F. *)

Barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar kembali. Aku agak bingung dengan kalimat ini, karena aku mendapat buku kedua Stebby Julionatan ini dengan cara barter, alias tukeran. Beli saja tidak dapat ditukar lagi, apalagi tukeran.

Melihat cover depannya, sekilas sudah bisa ditebak, pasti isinya tentang wanita atau seputar cinta. Cukup terkejut dengan 14 endorsement, untuk buku setebal 80 halaman. Apalagi, ada orang gedhean, seperti Pak Walikota Probolinggo. Sebenarnya tidak mengherankan, mengingat penulis pernah dinobatkan sebagai Kang Yuk 2006.

Diawali dan diakhiri dengan puisi. Ketiga belas kisah di dalamnya, hmm… nyastra abisss. Tidak jauh beda dengan LAN, novel pertama penulis. Bagi penggemar sastra, buku ini sangat cocok untuk dinikmati. Tapi bagi penggemar fiksi seperti saya, saya harus menyediakan waktu ekstra untuk membaca ulang. Mengernyitkan kening berkali-kali, karena kurang memahami bahasa sastra. Namun, dari tutur yang disampaikan, bahasanya cerdas dan bernas. Selalu ada makna-makna tersirat di dalamnya.

Jika mengharapkan konflik yang seru atau alur cerita yang menarik, tidak ditemui dalam buku ini. Penulis lebih cenderung menonjolkan kemampuan bersastranya. Dan, sebagai orang timur, penulis termasuk berani menuliskan adegan sensual dengan terperinci di dalamnya. Bahkan kutipannya, ada di cover belakang. Well, jujur saya gak suka bagian ini. Padahal, kisah kedua begitu memukai saya. Banyak pesan moral tersirat dan layak menjadi perenungan. Kisah kedua adalah kisah kesukaan saya. Adegan sensual sebenarnya bisa dibahasakan dengan lebih halus. Toh buku ini sudah nyastra abisss, jadi tinggal polesan bahasa yang lebih smooth lagi.

Satu lagi, penulis cukup cerdas mengangkat setting kota kelahirannya, Probolinggo. Selalu disebutkan, di akhir cerita. Dan terdapat juga selipan dalam kisah.

Buat penulis, maaf kalau resensinya sotoy. Jujur, ini apa adanya. Karena saya pribadi tahu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran. Yakin, kelak pasti menjadi sastrawan hebat. Selamat berkarya !

*) Peresensi adalah pemilik nama pena Syila Fatar, penulis cerpen Woman in The Mist, yang juga seorang ibu rumah tangga dengan 4 orang putera.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: