TUAN BESAR #Januari50K


MENANTI AHLI WARIS

 

Wajah tuanya masih saja ranggas. Seperti daun pohon mahoni di musim kemarau. Coklat, penuh kerut, mengelinting, tercabik-cabik tak berbentuk dan rapuh. Padahal musim kemarau sudah lama berlalu, sejak langkah kakinya meninggalkan Agustus dan memasuki bulan berakhiran ber-ber-ber. September, Oktober, November dan Desember. Hhmmm… tapi apa mau dikata, orang musim saja juga sudah tak menentu akhir-akhir ini. Bulan yang berakhiran ber-ber-ber juga bisa jadi masih kemarau. Apalagi wajah tuanya?! Wajah tua si Tuan Besar. Well, perayaan pergantian tahun yang juga menandai pertambahan usianya, juga tak nampak sedikitpun menyegarkan wajahnya yang semakin ranggas. Ada apakah gerangan?

Rupanya dia menantikan ahli waris. Begitulah bunyi bisik geremisik orang-orang terdekatnya mengenai sebab musabab wajah ranggas si Tuan Besar.

Hmm… sebenarnya sih salah dia sendiri sehingga sampai umur setua ini masih belum memiliki ahli waris. Ia menikah di usia yang boleh dikatakan cukup tua. Cukup tua untuk mempunyai momongan, sehingga saat anaknya berusia sekitar 30 tahunan, dia sudah berusia sekitar 70 tahunan.

Yang ia cari ketika itu adalah kesiapan. Ia merasa belum memiliki apa-apa untuk dapat meminang kekasih hatinya. Maka tak jarang, selama remaja, selama dia masih muda, ia seringkali ditinggal menikah oleh kekasihnya yang sudah tak sanggup untuk menunggu.

Ya jelas lah ditinggal menikah. Kan perempuan itu seperti madu. Bukan seperti anggur yang kalau disimpan semakin lama rasa dan citarasanya semakin enak, semakin khas. Lha, kalo madu?! Ya, membusuk dan rusaklah madu itu.

Maka di susianya yang sudah hampir mendekati 40 tahun baru ia menikah. Dengan entah. Mungkin dengan orang siapa saja yang dia temui di persimpangan jalan. Sebab dari sudut sini saja, aku dapat merasakan bahwa kehidupan rumah tangga si lelaki tua itu tidaklah bahagia.

Ya, dialah Sang Tuan Besar, yang kini adalah pemilik beragam jenis usaha di Kota Besar ini.

Sepertinya dia gelisah. Aku dapat merasakannya. Pikirku langsung tertuju pada anak lelaki satu-satunya yang ia miliki. Anak semata wayangnya. Pati dia gelisah karena sampai saat ini, sampai saat usia anak lelakinya sudah mendekati 30 tahun, anak lelakinya itu belum menampakkan, sama sekali, keinginannya untuk berumah tangga. Ia malah asyik berhura-hura, foya-foya dengan teman-termanya.

Kawan, kalau kau ikut aku, diundang, datang ke pesta ini, pasti kau akan kagum akan betapa melimpahnya makanan yang ada di ruangan ini. Sepertinya beragam menu yang ada ini bisa dipakai untuk mencukupi perut sebuah panti asuhan selama satu minggu. Berbagai makanan yang kau bayangkan ada di sana, tentu saja dengan jumlah yang melimpah. Kau mau soto… rawon… sate gulai… atau masakan Indonesia lainnya ada di bagian tengah depan ruangan ini. Kau mau nasi goreng… cap jay… mie goreng… atau koloke, ada di bagian sebelah kanan ruangan ini. Kau mau menu-,menu ala eropa macam spagety, bruineboune soup, sop kacang hijau ada di sebelah kiri. Aneka bakaran ikan, ada di sebelah kiri luar. Dan bagian belakang, tengah adalah bagian yang aku suka. Aneka macam kue, mulai dari cake dan kue-kue modern sampai jajanan pasar ada di sana. Sebelah kiri belakang ada ice cream dan clafertart. Dan sebelah kanannya ada tumpukan buah melon, nenas dan semangka yang sudah diiris-iris kecil dan dihias sebagai desert. Tak ketinggalan pula coctail, yang selain ditempatkan jadi satu dengan meja buah itu, namun juga dikelilingkan dan disajikan kepada para tamu oleh para pelayan.

Wow…. sungguh mewah perayaan ulang tahun ini!!! Pasti kau akan berdecak kagum seperti itu. Sepertiku yang saat ini juga tengah mengamati desain ruangan tempat ini yang sangat mengagumkan sambil mengamati para tamu dan para sosialita yang hadir sambil menikmati kudapan di ujung ruangan ini. Tak usah diragukan lagi, ini adalah pesta ulang tahun, yang sekaligus juga merupakan pesta pergantian tahun yang paling meriah yang pernah aku datangi.

Hufff…. ya, pesta ini megah dan meriah, tapi tidak dengan tuan rumahnya. Kembali lagi harus kukatakan, bahwa ia sangat ranggas malam ini.

Lukisan Nyonya Oeng, sebuah hadiah dari pejabat yang juga rekanan bisnisnya pun tampak terbengkalai. Tak nampak ada kebahagiaan saat ia menerima lukisan itu. Ya, dia boleh saja tertawa, dia boleh saja tampak tersenyum-senyum di muka para tamu dan kamera, tapi tidak olehku. Itu semua kamuflase. Padahal, lukisan itu adalah lukisan yang ia idam-idamkan dan ia cari selama ini. Tapi lukisan itu tak tampak bisa membeli hatinya.

Ya, ia ingin bayi. Ia ingin segera menimang cucu. Menimang ahli waris bagi semua kekayaan yang ia punyai saat ini. “Kapankah itu dapat terwujud?” Pikirnya. Atau setidaknya seperti itulah aku menebak-nebak pikirannya saat ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: