Menakar Kembali Fungsi dan Peran Museum Probolinggo


Oleh: Stebby Julionatan *)

Museum / muséum / (n) gedung yang digunakan sebagai tempat untuk pameran tetap benda-benda yang patut mendapat perhatian umum, seperti peninggalan sejarah, seni dan ilmu; tempat menyimpan barang kuno. (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Siapa yang tidak ngemani ketika melihat bangunan yang dulunya bermanfaat bagi orang banyak (baca: gedung serba guna), namun ketika berubah fungsi menjadi sebuah museum malah terkesan terbengkalai, dikelola dan diurus sekenanya dan tak jarang jadi ajang “bercinta” atau pesta miras bagi anak-anak muda yang tak punya cukup uang untuk pergi ke tempat hiburan malam.

Padahal kalau kita mengacu kembali pada pengertian museum, museum memang tempat yang layak untuk mendapat perhatian umum, namun bukanlah “perhatian” karena belasan remaja diciduk oleh Satpol PP pada Kamis malam (1/12) kemarin.

Mengapa museum menjadi tidak menarik? Mengapa museum hanya menjadi sekedar “rumah tua”, tempat pajangan benda-benda yang tak kalah tuanya dengan bangunan itu sendiri?

 

JAMAN SUDAH BERUBAH, MUSEUM PUN HARUS BERUBAH

Perkembangan jaman, terutama kemajuan teknologi dan percepatan informasi membuat dunia ini bergerak dengan ritme yang sangat cepat. Mulai dari dunia anak-anak, yang bisa kita lihat melalui percepatan ritme gerak dan dinamika di film-film kartunnya, sampai dunia dewasa, dengan kecepatan mereka meng-update status FB, adalah bukti bahwa dunia yang kita kenal sekarang sudah berubah dengan demikian cepatnya.

Menjawab hal tersebut, agar tidak ketinggalan jaman dan ditinggalkan para pecintanya, museum pun perlu berubah. Museum perlu melakukan perubahan. Museum masa kini hendaknya tak hanya berkutat pada tampat penyimpanan belaka, tetapi juga harus memiliki unsur rekreasi (baca: hiburan) dan ada keuntungan yang diperoleh oleh pengunjung.

Simak beberapa pengertian museum berikut:

“Museum dalam pengertian yang sederhana terdiri dari sebuah gedung yang menyimpan kumpulan benda-benda untuk penelitian studi dan kesenangan.” Douglas A. Allen, Ahli Permuseuman Amerika.

“Sebuah Museum dalam pengertian modern ialah sebuah lembaga yang secara aktif melakukan tugas, menjelaskan dunia, manusia dan alam.” A.C. Parker, Ahli Permuseuman Amerika.

“Museum adalah sebuah lembaga yang mengumpulkan, mendokumentasikan, merawat, memamerkan, dan menjelaskan benda-benda pembuktian dan informasi yang ada kaitannya untuk keuntungan pengunjung.Museum Association of Great Britain.

Dari beberapa pengertian museum di atas, tentunya dapat disimpulkan bahwa fungsi museum, “harusnya”, adalah sebuah lembaga yang secara aktif melakukan tugas mengumpulkan, merawat dan mendokumentasikan benda-benda purbakala yang dapat dijadikan bukti dan informasi serta memberikan manfaat bagi studi penelitian, kesenangan dan membawa keuntungan bagi pengunjungnya.

Pertanyaannya, adakah museum kita, Museum Probolinggo sudah melakukannya?

Kalau untuk mengumpulkan, merawat dan mendokumentasikan mungkin sudah tak perlu diragukan lagi. Membawa manfaat bagi studi penelitian, saya rasa juga sudah cukup. Tapi, untuk dua manfaat sesudahnya, kesenangan (baca: sebagai sarana rekreasi) dan membawa keuntungan bagi pengunjungnya, nanti dulu, sebab kedua hal tersebut masih terasa di awang-awang dan perlu kita pikirkan secara bersama.

Bolehlah kita bertanya kepada anak-anak kita (baca: murid-murid sekolah dasar) yang baru dua kali berkunjung ke Museum Probolinggo. Bagaimanakah perasaan mereka? Apakah mereka bosan atau berkesan dan ingin kembali lagi keesokan harinya? Pastinya, tanpa perlu dikode, tanpa berlu disogok, secara jamak, mereka akan mengangguk mantap pada option pertama. Mengalami rasa kebosanan.

Murid-murid SD tersebut merasa bosan karena apa yang telah mereka lihat saat mereka pertama kali berkunjung ke sana, tetap dan akan selalu nampak begitu saja saat mereka kembali di kesempatan kali kedua atau ketiga kalinya. Mereka bosan dengan barang-barang koleksi dan juga fasilitas yang ditawarkan oleh museum yang hanyalah itu-itu saja. Apalagi, godaan itu (baca: penyebab kebosanan mereka) ditambah dengan gempuran banyaknya wahana permainan yang lebih menawarkan banyak kesenangan, tantangan dan “keuntungan” bagi mereka.

Inilah yang sejatinya harus menjadi pemikiran bersama. Di tengah gempuran banyaknya wahana permainan yang lebih menawarkan kesenangan, keberadaan museum sebagai sarana pendidikan haruslah juga dipikirkan. Jangan sampai anak-anak tersebut nantinya hanya tahu bersenang-senang saja dan senantiasa menegasikan nilai pendidikan dan nilai sejarah yang bisa mereka dapatkan dari mengunjungi museum.

MUSEUM HARUS MENJADI HOT TAK HANYA CUTE

Menyitir tulisan Prof. Renald Kasali yang dimuat di harian Jawa Pos, 28 November 2011 mengenai bagaimana UMKM harusnya bertindak, yang beliau analogikan dengan dua type lelaki, dimana seorang lelaki yang lebih mementingkan tampang (cute) lebih sulit mendapatkan pasangan ketimbang lelaki dengan tampang biasa-biasa saja tetapi usahanya untuk mendapatkan pasangan terbilang gigih (hot).

Dalam artikel tersebut, Prof. Rheinald Kasali mengajak pembacanya untuk menyimak fenomena bahwa UMKM yang lebih mementingkan display (cute) ketimbang serangan terhadap pasar (baca: promosi) tentunya akan lebih kesulitan mendapatkan pacar (baca: order/pesanan dari konsumennya).

Jika analogi itu kembali dikaitkan dengan keberadaan museum, tentunya museum pun perlu melakukan beragam promosi, menjadi hot, jemput bola dan mendobrak pasar agar mendapatkan banyak pengunjung.

Bekerjasama dengan sekolah-sekolah yang melibatkan kunjungan para siswanya atau bekerjasama dengan forum-forum seni dan kepemudaan yang ada di Kota Probolinggo untuk menggelar event di Museum Probolinggo, dapat digunakan sebagai salah satu pilihan dalam meningkatkan kunjungan ke museum.

MUSEUM HARUS MENJUAL CERITA

Bolehlah kita sedikit belajar dan berkaca pada museum-museum yang dikelola oleh pihak swasta. Meski berbayar, dan biasanya biaya tiket masuknya pun tidaklah murah, tapi museum ini senantiasa dipadati oleh pengunjung. House of Sampoerna di Surabaya bisa menjadi salah satu contohnya. Museum yang terletak di kawasan Jembatan Merah ini tidak hanya menjual benda-benda rongsokannya (baca: barang-barang kuno) belaka, namun juga cerita fantastik di balik benda-benda rongsokan tersebut. Belum lagi, ditambah dengan fasilitas city tour menggunakan mini bus ber-AC yang nyaman dan juga pemandu wisata yang cantik yang akan mengajak para pengunjungnya berkeliling ke tempat-tempat bersejarah yang ada di kota Surabaya.

Atau Museum Lukis Antonio Blanco di Bali, dimana kita, sebagai pengunjung pastinya tidak hanya disuguhi beragam lukisan karya Antonio Blanco yang memang sudah sangat fenomenal, tapi juga kisah di balik perjuangan sang maestro lukis itu untuk diterima dan mengembangkan seni lukis di Bali, termasuk minuman khas bali sebagai fasilitas welcome drink-nya. Terlampau banyak contoh-contoh museum yang lain yang bisa dijadikan contoh.

Apa sebenarnya rahasia mereka?

Menjual cerita. Museum masa kini haruslah menjadi museum yang tak hanya menampung barang-barang kuno tapi juga museum yang “menjual cerita”. Sehingga, meski museum tersebut nantinya menjadi museum yang berbayar, yang harga tiketnya bisa dibilang tidak murah, namun jumlah pengunjungnya per tahun tak hanya berjumlah 777 pengunjung saja. (berdasarkan data jumlah pengunjung di Museum Probolinggo tahun 2011 diluar jumlah kunjungan wisatawan asing yang membonceng cruiser Spirit of Nature di akhir Nopember kemarin)

Tentu, kita tak bisa memungkiri upaya yang telah dilakukan oleh Dispobpar yang telah bekerjasama dengan kapal pesiar untuk meningkatkan jumlah penunjung museum. Tapi tentunya kita tak hanya berharap pada pengunjung musiman saja kan? Yang kita harapkan adalah meningkatnya jumlah pengunjung yang datang secara berkala. Maka, sudah selayaknyalah kita memiliki para penjaga museum yang juga mampu menjadi seorang entertain, seorang juru dongeng bagi para pengunjung yang datang.

MUSEUM HARUS BERTEMA

Hal lainnya yang bisa kita pelajari adalah bahwa museum-museum (museum-museum yang dikelola oleh pihak swasta, berbayar dan selalu syarat pengunjung itu) adalah museum-museum yang bertema.

Cerita-cerita seputar kunjungan beberapa pejabat Pemkot Probolinggo ke Belanda yang pernah dimuat secara berkala di harian Radar Bromo mengenai study banding mereka untuk museum haruslah dapat diaplikasikan. Dalam laporan berkala itu, salah satu keunggulan museum-museum yang ada di negeri Kincir Angin adalah karena mereka memiliki museum-museum yang bertema.

Sekarang kalau kita kembali ke Museum Probolinggo, kalau kita memandang dari luar, Museum Probolinggo tampak seperti museum transportasi. Di sana ada pesawat, ada lokomotif kereta api, ada perahu layar dan rencananya dalam waktu dekat ini akan ditambahkan dengan tank, tapi begitu kita masuk ke dalam, nuansanya langsung berubah 180 derajat. Barang-barang yang dipamerkan di dalamnya adalah barang-barang kuno yang meliputi uang logam dan keris, miniatur kesenian rakyat, foto-foto, beberapa kendaraan, bangku sekolah dan baju adat yang kesemuanya merepresentasikan keberagaman masyarakat Probolinggo sebagai masyarakat Pendalungan. Jadi di manakah letak tematiknya? Mau dibawa kemana sejatinya museum ini?

KEMBALI KE PERSOALAN AWAL

Maka tak salah jika di awal November, Komisi A DPRD berkunjung ke Museum Probolinggo untuk menakar kembali beberapa persoalan yang ada, tentang minimnya jumlah pengujung museum. Kiranya saya berharap bahwa artikel ini dapat menjadi masukan, menjadi bahan pertimbangan untuk menakar kembali peranan museum bagi masyarakat modern desasa ini. Khususnya peranan Museum Probolinggo bagi warganya. Bahwa sejatinya, gedung serba guna yang sudah terlanjur diubah fungsinya menjadi museum ini bukan lagi sekedar program kadung seperti yang pernah disampaikan oleh Drs. Endro Suroso, M.Si., eks Kepala Dispobpar Kota Probolinggo, tapi adalah progam yang patut didukung bersama oleh seluruh warga masyarakat Kota Probolinggo.

*) penulis adalah pemerhati pariwisata.

Advertisements

6 Responses to “Menakar Kembali Fungsi dan Peran Museum Probolinggo”

  1. salam kang,,

    Saya orang asli probolinggo saja belum pernah masuk museum, biasanya lewat doank 😀

    Ya, seperti ulasan di atas. Orang2 sini mungkin masih menganggap museum itu sesuatu yang “kuno” jadi orang enggan ke sini. Mungkin selain ada tema yang menarik, penambahan unsur pemanfaatan teknologi juga perlu,,

    🙂

  2. @warsito: alamat MUSEUM PROBOLINGGO ada di Jl. Suroyo No. 17. Museum Probolinggo berisi apa saja (baca: benda-benda bersejarah) yang memiliki kaitan erat dengan perkembangan kota kita tercinta ini.

  3. gak ada yaa…komunitas yang menelusuri sejarah kota Probolinggo ??? sekarang kan sudah ada museum, kalo ada komunitasnya kan museum tidak hanya buat kongkow ato pacaran tapi ada yang aktif memanfaatkan museum.

    • sebagai generasi muda, nggak sebaiknya kamu hanya bertopang dagu… mengkritik dan bertanya saja: “ada nggak yaaa???”. LAKUKAN! PERBUATLAH! itu ciri GENERASI MUDA SEJATI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: