DIKNAS KEMBANGKAN INKLUSIF DI TINGKAT LANJUTAN


Testimonial yang disampaikan oleh Arizki Pradana Kusuma, penyandang tuna netra, Kamis pagi itu (30/10) di Aula Dinas Pendidikan Kota Probolinggo, pastinya menggugah hati siapa saja yang hadir. Pengalamannya sebagai ABK (Anak Berkebutuhan Khusus), yang kesulitan dalam mencari sekolah saat melanjutkan sekolah, dari sekolah dasar ke sekolah lanjutan pertama, tidaklah mudah. Tidak semua sekolah (baca: SMP) mau menerima keadaannya. Karena menurut pendapat jamak saat itu, ABK tidak akan mampu untuk mengikuti ritme pendidikan (termasuk juga pergaulan) yang ada di sekolah reguler, tentunya selain rasa malu dari pihak sekolah jika diketahui keberadaan murid-murid ABK di sekolahnya.

“Dengan DANEM 42 pastinya saya bisa diterima di SMP 1. Tapi tidak semua sekolah mau menerima keberadaan saya. Saya bilang ayah saya bahwa saya tetap mau sekolah. Dimanapun itu. Terserah, mau negri atau swasta. Kedua orang tua saya sempat merasa putus asa saat mencarikan saya sekolah. Bahkan saya mau dipondokkan saja. Akhirnya, entah apa karena ini keberuntungan, ayah saya secara tidak sengaja bertemu dengan Pak Suroto, Kepala Sekolah SMP 10 ketika itu, mendengar cerita ayah saya, dan akhirnya menerima saya,” ungkap Rizki.

“Jenjang melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA pun tak kalah sulitnya. Saat itu, saya yang melanjutkan di SMPLB YPAB Surabaya untuk menguasai beberapa keterampilan yang saya perlukan, berniat kembali ke Probolinggo untuk melanjutkan pendidikan. Hal yang sama terjadi, sampai harus melakukan pendekatan politik. Tapi untungnya, keberuntungan juga kembali berpihak kepada kami. Saya diterima bersekolah di SMA 1 Dringu.” Lanjut Rizki.

Nyatanya, keterbatasan tidak pernah membatasi mimpinya. Rizki, yang awalnya divonis mengidap alergi cahaya saat masih duduk di bangku kelas 4 SD, dan berangsur-angsur mengalami kebutaan akibat penyumbatan saluran air mata, tentunya dibantu pula dengan kegigihan dari kedua orang tuanya untuk senantiasa memperjuangan hak putranya dalam mendapatkan pendidikan, saat ini telah bergelar sarjana Pendidikan Luar Biasa di Unesa-Surabaya, telah lolos dalam tes CPNS di Pemkab Probolinggo dan bekerja sebagai tenaga pendidik di sebuah sekolah dasar seperti impiannya selama ini.

Tak semua ABK punya tekad dan mental seperti Rizki. Dan tidak semua orang tua mampu menjadi seperti orang tua Rizki yang selalu mensuport kemajuan pendidikan anaknya hingga ia mampu menjadi seorang anak yang mandiri. Kebanyakan dari mereka tiba-tiba mandeg setelah anak mereka lulus dari sekolah dasar.

Tidak ingin banyak anak bernasib sama seperti Rizki, Dinas Pendidikan Kota Probolinggo kembali fokus mengupayakan terciptanya pendidikan untuk semua, khususnya bagi para ABK. Sebagaimana tertuang dalam UUD Pasal 32 pasal 1 dimana hak untuk memperoleh pendidikan adalah hak seluruh Warga Negara Indonesia. Sebagaimana termaktum pula pada dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, bukan hanya semata pendidikan tapi pendidikan yang bermutu. Mereka berhak memperoleh kesempatan yang sama dengan anak yang lainnya dalam memperoleh pendidikan.

Untuk alasan itulah Dinas Pendidikan mengundang seluruh kepala sekolah, dari tingkat SD sampai SMA, dalam Sosialisasi Pendidikan Inklusif. Sosialisasi yang kali ini bekerja sama dengan Ikatan Ortopedagog Probolinggo (IKOP), diikuti oleh 52 orang kepala sekolah –baik sekolah negri maupun swasta, 14 Pengawas dan 8 orang Kasi dan Kasubag Dinas Pendidikan.

“Memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua anak (termasuk anak berkebutuhan khusus) mendapatkan pendidikan yang layak sesuai dengan kebutuhannya; Membantu mempercepat program wajib belajar pendidikan dasar; Menciptakan sistem pendidikan yang menghargai keanekaragaman tidak diskirminatif serta ramah terhadap pembelajaran.” Lapor ketua Panitia, Asin kepada Kepala Dinas Pendidikan, Endro Suroso.

Dalam Sosialisasi yang terbagi ke dalam 3 sesi tersebut, kembali hadir Drs. Sudjarwanto, M.Pd., dosen sekaligus Pembantu Dekan I, yang tahun lalu juga hadir sebagai pemateri dalam sosialisasi inklusi untuk guru-guru sekolah dasar. Kali ini, Sudjarwanto didaulat untuk menyampaikan materi mengenai Permendiknas No. 70 Tahun 2009 tentang “Pendidikan Inkulusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa” dan Peraturan Gubernur Jatim No. 6 Tahun 2011 tentang “Penyelanggaraan Pendidikan Inklusif Provinsi Jawa Timur.”

Setelah Sudjarwanto, pemateri selanjutnya adalah Dra. Hj. Ummu Tukmiyati, M.PdI, Duta Pendidikan Inklusif yang berbagi pengalamannya dalam mengajar ABK.

“Bagi saya, dunia mengajar adalah lahan amal. Siapapun muridnya,” Ummi mengungkapkan alasannya pertama kali dalam mengajar ABK. “Saya iklas. Saya mencintainya. Mengajar dengan cinta.”

“Pendidikan inklusi pun sejatinya ada pada ajaran setiap agama. Ajaran untuk saling mengasihi, tanpa memandang perbedaan yang ada.” Jelas guru mata pelajaran Bahasa Inggris di SMAN 10 Surabaya, yang juga merupakan satu dari beberapa sekolah inklusif yang ada kota pahlawan itu.

Dengan dilaksanakan sosialisasi ini tentunya Diknas berharap kesiapan sekolah untuk menyelenggarakan program pendidikan inklusif.

“Ada dua macam harapan kami. Pertama, tersosialisasinya Permendiknas Nomor 20 Tahun 2009 di bidang PK-LK serta Peraturan Gubernur Nomor 6 Tahun 2011. Kedua, munculnya kesiapan sekolah-sekolah di Kota Probolinggo untuk menyelenggarakan program pendidikan inklusif, terutama bagi Kepala Sekolah, Komite Sekolah, Guru, Peserta Didik dan Orang Tua.” Ungkap Endro Suroso mengenai keberlanjutan sekolah inklusi di Kota Probolinggo.

Sesuai rencananya, tahun depan Diknas akan segera mempersiapkan sekolah inklusi lanjutan, yakni masing-masing satu sekolah untuk tingkat SMP, SMA dan SMK. (tby)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: