ceracau tentang MLM, MEDIA, PROMOSI dan KEBIJAKSANAAN yang bisa kita petik dari sana…


Sejak aku sakit, makin banyak saja (untuk tidak mengatakan cuma satu atau berkata banyak sekali) MLM kesehatan yang menawarkan produknya dan mengajak bergabung, seperti yang juga terjadi pada malam ini (19/11). Kali ini seorang kawan, sebut saja “Bogel”.

 

“Memang ada yang salah dengan MLM, ya Mas? Atau ada pengalaman buruk?” Tanyanya saat aku mengatakan prinsipku untuk tidak bergabung dengannya.

 

“Tidak,” jawabku. “Ini hanyalah masalah prinsip. Sama seperti mangapa aku bercita-cita menjadi PENULIS dan bukan menjadi seorang POLISI atau TENTARA.” Selebihnya adalah alasan politis yang tak mungkin kau pahami hanya dengan sekali bertukar pikiran seperti ini, batinku dalam hati.

 

Kembali lagi dia mengulangi pertanyaan yang sama. “Orang pintar kan tak selalu minum Tolak Angin.” Jawabku menyebut sebuah merk jamu pengusir masuk angin.

 

Media dan iklan (termasuk juga promosi) rupanya telah sedemikian berkuasanya membangun standar ganda dalam kehidupan manusia. Mengubah pola pikir kita. Mirip dengan apa yang pernah dikatakan oleh sastrawan senior Indonesia, Arswendo Atmowiloto: Sebetulnya yang berkuasa di dunia ini bukanlah penguasa yang memanggul senjata, tetapi mereka yang bergerak di bidang media dan iklan. Mereka… para pembuat iklan ini adalah orang-orang yang senantiasa menanamkan standar baru, pembuat trend (trendsetter), dalam kehidupan manusia. Mereka yang berkata bahwa cantik itu adalah mereka yang berkulit putih seperti sapi perah… tubuh langsing tipis bak tripleks, dan pintar adalah mereka yang meminum Tolak Angin. Bukan Antangin atau Enterostop meskipun sama-sama terdaftar sebagai obat menghilangkan kembung di perut.

 

Hingga berbondong-bondonglah seorang di antara seorang yang lain melakukan segala cara ala artis-artis Korea (tersebab di sana rupanya Operasi Plastik adalah hal yang wajar dan lazim untuk dilakukan, dan orang tua juga tak segan-segan memberikan hadiah berupa operasi plastik bagi putra-putri mereka yang berulang tahun), untuk membuat mereka cantik. Termasuk juga dengan melakukan beragam pola diet untuk mendapatkan tubuh yang langsing, bahkan dengan hal-hal ekstrim, dari sedot lemak hingga menjadi penderita bulimia.

 

Ini pun sama… Bogel mengatakan kepadaku bahwa akulah yang pesong. Isi kepalakulah yang kosong melompong. Seorang inferior yang kaku dan tidak bisa sama sekali diajak maju. “Berarti pola pikir sampeanlah yang salah, Mas. Pola pikir yang ga bisa diajak maju.”

 

“Pola pikir orang-orang yang hanya ingin melalui hidup dengan alur yang sudah ada. Ga kreatif. Tiada antusias untuk menata masa depan lebih baik.” Masih katanya.

 

Sebentar-sebentar… pikirku mulai bekerja. Me-loading.Memang, terkadang kita hidup dengan tujuan yang sama. Mencari kebahagiaan di dunia dan di akhirat… menjadi SEHAT, tapi bukankah kita tidak berhak dan tidak dituntuk tuntuk saling menyalahkan, saling menegasikan satu di antara yang lain, kalau cara yang lain, cara mereka salah kan?! Kalau boleh aku mengaitkannya dalam kehidupan beragama, apakah aku yang setiap Minggu, pukul 8 pagi ini pergi ke Gereja, berhak menyalahkan mereka yang setiap Jum’at sembayang ke Masjid, atau mereka pergi ke Pura untuk memperingati hari Sarasvati, atau mereka yang pergi ke Vihara, ke Klenteng atau bahkan ke tempat-tempat suci dan keramat lainnya karena mereka beribadah dan berdoa dengan cara yang berbeda dengan saya?? Dan aku berhak menghakimi bahwa mereka tidak berhak masuk ke dalam Surga-Nya karena mereka tidak melakukan ritual yang sama sepertiku?

 

Aku tidak membenci MLM. Silahkan saja kawan. Itu jalan Anda. Itu bisnis Anda. Toh, kalau misalkan aku membencinya, aku nggak bakalan pernah bergabung dalam bisnis MLM model apapun, ataupun seperti sekarang ini, aku tidaklah akan (meski itu tak sering kulakukan) memberi barang-barang, produk-produk dari kawan-kawanku yang ikutan MLM. Toh saya pernah melakukannya.

 

Ini hanya masalah prinsip saja. Prinsip dimana aku masih lebih mempercayai dokter pribadiku yang sudah ahli di bidannya dibanding si Bogel. Prinsip dimana aku ingin menjadi Penulis, dimana seluruh hidupku (baca: modal), sudah kuserahkan sepenuhny pada jalan Pena ini, ketimbang menjadi pedagang MLM.

 

“Iya, sama sama mau ke papua, pilihannya mau naik pesawat ato naik kapal laut, ato malah naik perahu getek????” Aku masih terdesak oleh opininya.

 

Dia menyindirku bahwa akulah orang yang naik getek. Tak mengapa, aku tersyenum saja. Bukankah demikian yang dikatakan berhikmat… mampu bertoleransi dan memiliki pemahaman yang terbuka terhadap apapun. Masing-masing memiliki keindahannya sendiri. Mungkin memang bagi mereka yang naik pesawat akan merasa cepat sampai. Hanya tiga jam dari Juanda tanpa perlu menderita pegal-pegal di bunggung. Tapi mereka yang naik pesawat, tidak bisa merasakan “keindahan dan kebesaran” yang disajikan oleh lautan. Hanya mereka yang naik geteklah yang merasakaannya. Memandang indahnya senja, terbitnya mentari di kala fajar, malah bisa mampir-mampir sejenak ke beberapa pelabuhan yang indah-indah. Begitulah kita, semakin berhikmat kita, sejatinya kita dituntut untuk tidak saling menegasikan. Pintar tidaklah harus selalu minum Tolak Angin, bukan?!

 

Dan pastinya, seseorang yang memiliki pola pikir yang maju juga tidak harus selalu bergabung dengan MLM. sekian dan terima kasih.

 

Hormat saya,

 

 

Stebby Julionatan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: