SMAN 3 GELAR PAMERAN LUKIS LINTAS GENERASI


Ada yang berbeda pada suasana malam Minggu di area Museum Probolinggo kemarin (12/11). Suasana malam Minggu itu menjadi berbeda karena di tempat tersebut tengah berlangsung Pameran Seni Lukis Lintas Generasi yang diadakan oleh SMA Negeri 3 Kota Probolinggo. Pameran yang dilaksanakan selama 3 hari di aula depan Museum Probolingo tersebut menampilan 35 lukisan.

Dari ketiga puluh lima lukisan tersebut, dua puluhnya adalah lukisan karya para siswa sendiri. Sementara 15 sisanya adalah karya perupa senior yang memang sudah malang melintang di khasanah dunia lukis tanah air, khususnya Jawa Timur.

Menurut Ketua Pelaksana Pameran, Reni Windi Astuti, yang juga merupakan guru mata pelajaran Bahasa Inggris, menyampaikan bahwa tujuan pelaksanaan kegiatan pameran lukis ini adalah sebagai salah satu media pembelajaran bagi para siswa.

“Tujuan kami adalah agar siswa, terutama siswa yang punya bakat dan hobby melukis ini, punya wadah dan punya kesempatan, lukisannya dapat diapresiasi oleh masyarakat. Selain itu, tentunya sebagai salah satu media pembelajaran. Disinilah alasan kami menggandeng pelukis-pelukis senior. Agar mereka memiliki pengalaman yang nyata, riil, tentang gelaran pameran lukis.” Jelas Reni panjang lebar kepada Suara Kota.

Salah satu lukisan yang paling menyedot pehatian pengunjung malam itu adalah lukisan karya Supricasso. Lukisan abstrak seniman asal Kota Batu ini berjudul Figur. Dengan konsep “Apa yang aku pikirkan dan kursakan, kuungkap secara langsung dalam kanvas.”, di atas media kanvas seluas 100 x 120 cm, menggunakan cat acrilic, Supri secara abstrak melukis seorang perempuan yang sedang bersimpuh, badan condong membuka ke arah kanan sambil mengatupkan kedua telapak tangan, layaknya orang menghatur hormat.

Selain Supri, lukisan karya seniman lainnya yang menarik perhatian pengunjung adalah milik Alfian. Perupa senior asal Kota Malang ini berjudul Siaga#1. Dalam bidang kanvas seluas 90 x 120 cm ini, Alfian mengekspresikan persoalan bangsa saat ini yang cenderung mempersoalkan persoalan yang mudah dan remeh temeh padahal tanpa sadar kekuatan kapitalis telah mengintai dan merongrong bangsa ini. Ide tersebut diekspresikan ke dalam sebuah figur yang mirip salah satu pentolan grup musik Tanah Air, Kaka “Slank”, dengan tubuh yang pernuh tatto.

Mengapa memilih museum sebagai tempat pagelaran pameran? Rupanya pemilihan museum sebagai tempat dilangsungkannya pagelaran pameran juga disesuaikan dengan tujuan yang ingin diraih oleh siswa-siswi SMAN 3 ini.

“Museum adalah pusat budaya yang ada di kota, salah satu spot atau pusat kegiatan masyarakat juga. Agar pengunjungnya banyak,” Jawab Reni.

“Selama ini saya rasakan sendiri apresiasi masyarakat untuk lukis masih minim. Karena biasanya, seni lukis kan kesannya eksklusif. Dilaksanakan di galeri-galeri atau di hotel hotel berbintang. Atas alasan itulah, untuk semakin mendekatkan seni lukis ke masyarakat, kami mengadakannya di museum.” Tutur Reni.

Pameran lukis yang pelaksanaan pembukaannya dijadikan satu dengan adanya gelaran Manggo Jazz yang juga dilaksanakan di halaman Museum Probolinggo kemarin (11/11), menurut Reni, diharapkan agar seni lukis di Kota Probolinggo bisa memiliki wadah dan ada pameran lukis yang bisa berlangsung secara kontinyu.

“Harapannya, tentu saja agar komunitas seni lukis yang ada di Kota Probolinggo ini bisa memiliki wadah, ada pameran-pameran seperti ini yang bisa berlangsung secara kontinyu sehingga bisa jadi pembelajaran bagi masyarakat untuk lebih mencintai seni.” Pungkas Reni mengakhiri wawancara dengan Suara Kota. (tby)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: