AKSI TEATRIKAL WARNAI SUASANA PERINGATAN HARI PAHLAWAN DI SDN KEDUNGASEM 6


Pagi itu (10/11), di tempat yang berbeda, juga berlangsung peringatan Hari Pahlawan. Kalau Pemerintah Kota Probolinggo mengadakan Upacara Peringatan Hari Pahlawan secara konvensional, maka lain halnya dengan peringatan Hari Pahlawan yang terjadi di SDN Kedungasem IV. Guru dan siswa, segenap warga sekolah, di sebuah sekolah dasar yang terletak di Jalan Raya Lumajang itu melaksanakan Upacara Peringatan Hari Pahlawan Ke-66 Tahun 2011 tersebut dengan cara yang unik. Mereka melaksanakan upacara dengan menggunakan pakaian ala pejuang.

Tak hanya itu, upacara yang bertujuan mengajak para siswa untuk semakin memaknai peringatan Hari Pahlawan ini, juga diwarnai dengan aksi teatrikal.

“Kita memang sengaja mencari sesuatu yang baru. Sesuatu yang semangatnya dapat dengan mudah diingat oleh anak-anak.” Jawab Agus Lithanta, Kepala Sekolah SDN Kedungasem IV, kepada Suara Kota, saat ditanya mengenai alasan dibalik gagasan unik tersebut.

Aksi teatrikal yang melibatkan beberapa orang siswa kelas 5 tersebut pun berlangsung sangat seru. Sambil memerankan bagaimana heroiknya perjuangan Arek-Arek Suroboyo dalam merobek dan mengibarkan bendera Merah Putih di Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit), salah seorang siswa membacakan sebuah narasi:

“Allahu Akbar… Allahu Akbar… Teman-temanku semua, pada hari ini, tanggal 10 November 2011 kita memperingati Hari Pahlawan,”

“Sepuluh November merupakan tonggak sejarah perjuangan bangsa Indonesia, khususnya Arek-Arek Suroboyo dalam melawan penjajah Belanda yang membonceng tentara sekutu. Hanya dengan bersenjatakan bambu runcing dan pekik Allahu Akbar, Arek-Arek Suroboyo berjuang melawan Belanda. Dengan Komando Bung Tomo, mereka dapat membuat gentar dan mengusir para penjajah Belanda.”

Rupanya tak hanya sampai di situ, gelora semangat kepahlawanan yang ditunjukkan oleh siswa-siswi SDN Kedungasem 4 pun masih berlanjut. Mereka pun lantas membubuhkan tanda tangan mereka di atas kain putih sepanjang 5 meter. Total, terkumpul 229 tanda tangan dari segenap warga sekolah yang ada di sana yang dimaksudkan sebagai wujud apresiasi mereka terhadap salah satu pahlawan nasional yang paling terkenal dalam peristiwa 10 November tersebut, Bung Tomo.

Lantas apa penerapannya dalam keseharian anak-anak ini? Ditanya seperti itu, Agus Lithanta pun menjelaskan bahwa sikap-sikap kepahlawanan seperti: kejujuran, toleransi dan rela berkorban dapat senantiasa diaplikasikan oleh para anak didik dalam keseharian mereka.

“Tidak mencontek, mereka saling membantu apabila ada kawan mereka yang lagi tertimpa kesusahan, menghibur kalau ada yang menangis, semangat berjuang dan belajar meskipun mereka hidup di tenga keluarga yang tak bekecukupan, ya sebab kita tahu bahwa para pahlawan itu dengan bambu runcing saja mampu mengalahkan para penjajah yang bersenjata canggih, dan pastinya masih banyak lagi nilai-nilai patriotisme dan nasionalisme yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” Jelas Agus Lithanta.

“Dan pastinya kesemuanya ini adalah sarana pendidikan untuk semakin memupuk dan mempertebal karakter dan kepribadian bangsa mereka.” Pungkasnya menutup wawancara siang itu dengan Suara Kota. (tby)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: