GELAS, LIPSTIK DAN BIBIRMU


: sebuah renungan akan karya dan berkarya.

HR-16034.indd

 

Dalam sebuah obrolan mengenai karya, karya saya yang berwujud puisi, dengan salah seorang teman kantor, dia mengatakan bahwa karya saya tidak fokus.

“Seandainya kamu akan bercerita tentang gelas, kamu cuma menggambarkan bibir gelasnya saja. Lalu hilang entah kemana, “ ujarnya. “Tak lagi berbicara gelas. Tiba-tiba kau sudah berbicara soal cerah pernak-pernik gelas atau taplak meja. Kau bercerita tentang kaki kayu meja yang berdiri menyangga letak meja itu.”

 

Maka seperti biasa saya mengucapkan terimakasih untuk segala masukannya itu. Tanpa mendebatnya.

“Bukankah karya sejatinya saya ciptakan untuk menggenapi kecemasan dan pergumulan diri sendiri. Dan kalau pun ada yang suka, saya anggap itu sebagai bonus. Jadi memang saya sejatinya tak perlu pula sibuk-sibuk mendebatnya.” Pikirku dalam hati.

Tapi lama-lama saya tak juga kuasa. Saya tergoda. Saya kali ini benar-benar tergelitik untuk memberikan statement, melontar pendapat saya mengenai karya dan berkarya. Tentu, terkhusus bagi karya-karya saya sendiri, karya-karya yang sudah saya hasilkan yang katanya ga’ fokus itu tadi.

Begini, anggap saja kita tetap menggunakan saja analoginya: GELAS.

Dan pernahkah kamu melamun, pikiranmu mengawang-awang tersebab awalnya hanya melihat sesuatu atau sebuah benda saja?

Well, kita mulai saja, saya akan berbicara tentang gelas, gelas di hadapan saya. Maka tak bisakah ketika saya mulai membicarakan gelas, maka (tersebab kenangan) saya mulai teringat pada lipstik yang pernah menempel pada gelas itu, maupun pada bibir-bibir gelas lainnya yang mirip dengan gelas yang ada di hadapan saya saat ini. Noda lipstik berwarna merah yang seksi dan menggoda. Lalu kemudian, saat saya sudah mulai fokus pada noda lipstik yang menempel pada bibir gelas pikiran saya, saya mulai teringat pada bibirmu. Bibir yang penuh dan tak kalah seksinya dengan warna noda lipstik tadi. Lalu mendadak dari bibirmu, maka segenap ingatan, pikir, kenangan bahkan fantasi saya mulai menangkap sosokmu secara utuh. Keseluruhan bentuk tubuhmu yang benar-benar seksi, menggoda dan menggiurkan untuk ditiduri. Kau tahu? Kesemuanya itu hanya berasal dari gelas. Dari bibir gelas.

Burukkah karya saya??

Tentu semuanya kembali kuserahakan kepadamu, para pembaca saya.

Dan pastinya, terberkatilah gelas itu. Terberkatilah bibir gelas yang menyimpan noda lipstikmu dan menghadirkan sosokmu secara utuh. Tabarakallah!

[3 Agustus 2011] di jam pulang kerja setelah apel sore…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: