Maka Sebenarnya, Hidup Ini…Milik Siapa? – Resensi Novel “LAN” karya: Stebby Julionatan


*) oleh: Ratna Satyavati

Judul : LAN
Genre : Novel
Penulis : Stebby Julionatan
Penerbit : Bayumedia dan Pemkot Probolinggo
Cetakan : 1, 2011
Jumlah Halaman : vii + 201 halaman.

“Betapa bahwa satu-satunya jalan untuk menempuh kehidupan milik sendiri adalah dengan ‘kematian’…”

Begitulah bunyi tagline dari novel perdana karya Stebby Julionatan ini.

Pada awalnya, jujur, saya tak terlalu tergugah dengan tagline dari novel ini. Sebab beberapa kali sebelumnya saya pernah membaca tagline serupa pada artikel filsafat yang sayapun telah lupa melihatnya dimana.

“Kehidupan yang sejati adalah Kematian”. Bernada serupa, bukan?

Namun setelah kurang lebih membaca hingga halaman ke-20an, saya mulai merasa semacam tertarik dan tergelitik oleh sosok Erlan, tokoh utama dari novel ini, yang pada usia yang relatif muda, yaitu 17 tahun tergolong memiliki pemikiran yang ‘berbeda’ dibanding remaja pada umumnya.

Pertemuan ‘ajaib’nya dengan Maria, gadis pindahan dari negeri Dewa-Dewi, Yunani, telah mengantar Erlan pada perjalanan menempuh seribu makna tentang cinta, hidup, dan keberanian mengarungi hidup itu sendiri.

Betapa Stebby Julionatan a.k.a Bonx, sang penulis, mampu menyajikan kisah ini dengan bahasa yang sederhana namun bermakna. Plot-plot dan settingnya juga menarik dan ‘manusiawi’, yakni berlatarkan kehidupan sosio-kultur Probolinggo, tempat penulis bermukim. Hanya saja buat saya sebenarnya akan lebih menarik jika penulis memasukkan dialek Jawa Timur atau Probolinggo ke dalam novel ini.

Membaca LAN, selain kisah Erlan dan Maria, Bonx juga akan mengajak kita mengarungi kisah-kisah ‘hidup’ dan ‘cinta’ dari ruang dan waktu yang beragam. Contohnya kisah Philip dan Nurahmi yang menjadi bagian favorit saya.

Pada bagian inilah sejatinya nurani saya pribadi merasa disentuh secara ironis namun romantis dan halus.

Melalui kisah Phillip dan Nurahami, telah tertuturkan sebuah potret kisah cinta yang ‘satir’, yang mana dikisahkan bahwa sungguhlah manusia mampu menjadi sedemikian egois dengan mengatasnamakan Tuhan dan agama, serta kebenaran yang diyakini secara ‘sempit’.

Phillip dan Nurahmi,mengisahkan tentang dua sejoli berbeda bangsa, berbeda agama, berbeda ras, dengan berlatarkan kehidupan jaman perang kemerdekaan RI.

Phillip yang anggota serdadu Belanda, dan Nurahmi yang berprofesi sebagai perawat dari Korps Kemerdekaan, tanpa terencana dan tanpa diduga bertemu di tengah panasnya kondisi perang pada masa itu.

Tentu saja, berbagai pihak menentang, berbagai pihak menyudutkan.

Namun cinta mereka yang disimpan dalam diam dan diam-diam tetap berjalan dan tetap bersemi diantara kobaran api dan dentuman meriam perang kemerdekaan.

Lalu apakah mereka berakhir bahagia? Apakah mereka lantas bersama?

Disinilah sepertinya tagline novel LAN yang dipilih oleh Bonx mengurai maknanya. “”Betapa bahwa satu-satunya jalan untuk menempuh kehidupan milik sendiri adalah dengan ‘kematian’…”

Betapa hidup dan berbagai macam tuntutan sosial, paradigma, dan juga norma-norma, secara tak terhindarkan memanglah sangat mengambil peranan di dalam segala pilihan yang mesti diambil oleh manusia di dalam kehidupan ini.

Namun apakah lantas manusia boleh menjadi begitu ‘egois’ dan ‘picik’ karenanya? Apakah manusia juga lantas berhak menjadi ‘hakim’ bagi manusia yang lain?

Tersebab itulah saya menamai judul resensi ini, ” Maka Sebenarnya, Hidup Ini…Milik Siapa?”

Milik Tuhankah?

Milik Manusia-kah?

Atau hidup ini tak termiliki oleh siapa-siapa?

Jika hidup ini milik Tuhan, mengapa banyak manusia yang seakan memahami benar apa itu ‘kebenaran hakiki’, sehingga lantas merasa berhak untuk menghakimi dan menghentikan jalan manusia yang lain dalam mencari makna hidupnya masing-masing?

Jika hidup ini milik manusia, antas dimanakah keberadaan dan fungsi Tuhan?

Jika hidup ini tak termiliki oleh siapa-siapa, maka siapakah saya, anda, dia, dan mereka?

Selamat membaca novel LAN, dan selamat mencumbui kegelisahan anda selanjutnya, untuk kemudian menemukan makna-makna yang tercecer di dalamnya;

Bukan lagi mengenai siapa dan mana yang benar, namun terlebih untuk apa dan untuk siapa anda berada di dunia ini serta disaat anda menjelang kematian kelak.

“If you don’t stand for something, you will fall for anything” -Malcom X-

[ stvt. 28. 07. 2011 – in H-2 of yours, Bonx😉 ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: