Geliat Penulis di Probolinggo, Berhasil Terbitkan Novel dan Rajin Ikut Lomba *)


Penulis masih menjadi profesi yang eksklusif di negeri ini. Betapa tidak, jumlah penulis masihlah sedikit bila dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia. Dari yang sedikit tersebut, Probolinggo ternyata memiliki penulis-penulis yang telah menerbitkan karyanya. Baik dalam bentuk novel, cerpen maupun puisi.

Rifqi Riva Amalia, PROBOLINGGO

Bagi Stebby Julionatan, menuangkan pemikiran melalui tulisan bukanlah hal asing. Sejak kecil, ia mengaku suka menulis di buku harian. Baik mengenai pengalaman pribadi maupun hasil imajinasi. Pengakuan atas karyanya, pertama kali ia peroleh ketika berhasil memenangkan lomba penulisan di SMP tempatnya bersekolah.

Sejak itu, ia semakin rajin menulis. Kebiasaan menulis diakuinya semakin menggila manakala dirinya berkenalan dengan Siti Khotijah. Seseorang yang ia akui sebagai pendukung terbesarnya dalam menulis, selain ibunya sendiri.

Atas saran dan kritik dari dua motivator tersebut, Stebby terus membuat cerpen, puisi dan novel. “Saya tak memiliki kepercayaan diri yang besar untuk mengirimkan karya saya ke media cetak. Pembaca pertama saya, ya Bu Siti, Mama dan teman-teman,” ujarnya.

Karena puisinya kerap dikritik kurang bagus, ia lantas ingin membuktikan kemampuannya. Dengan puisi berjudul Kunanti Hujan di Pucuk Musim Kemarau, Stebby berhasil memenangkan penghargaan sebagai penulis muda berbakat 2007 versi sebuah situs sastra. Dari sana, ia lantas mendapat undangan mengikuti Festival Penyair Nusantara II di Kediri.

“Waktu itu, saya sudah punya tabungan tulisan cukup banyak. Satu dari banyak tulisan itu, kemudian saya kirimkan ke penerbit Gramedia. Sayangnya ditolak,” ceritanya.

Penolakan itu tak lantas membuatnya putus asa. Ia pun mencoba mengirimkan karya yang sama ke penerbit besar lainnya, Balai Pustaka. Tak kunjung mendapat jawaban, Stebby tak lantas berhenti berusaha, meski tidak lagi ngoyo.

Karena kesibukan pekerjaan, ia sempat tak memberi perhatian penuh pada hasil karya yang ia tulis pada medio 2002-2003 itu. Hingga tahun 2010, dalam even Semipro ia bertemu dengan salah satu perwakilan penerbit Bayumedia. Dengan dukungan dari Pemkot Probolinggo, institusi tempatnya bekerja, Stebby akhirnya berhasil menerbitkan novel pertamanya, LAN.

“Bisa dikatakan, novel LAN adalah hasil kerjasama apik dari kerja keras dan keberuntungan. Mengingat saya bukan tipe orang yang rajin mengirimkan karya ke media,” imbuhnya.

LAN beredar perdana pada bulan Maret di jaringan toko buku Togamas. Novel yang bergenre surealis ini membidik pasar remaja . Bercerita mengenai perjalanan cinta Erlan dan Maria, LAN dikaui Stebby cukup diminati pasar.

“Meski sampai saat ini saya belum menerima royalti,” ucapnya sambil tergelak.

Cerita berbeda dituturkan Eric Shandy Admadinata. Penulis muda dari Paiton ini rajin mengirimkan tulisan ke media. Meski sering di tolak, ia tak pernah berhenti mencoba lagi dan lagi. Eric sendiri mengaku lupa, berapa jumlah tulisan yang telah ia kirimkan.

“Biasanya saya kirim (tulisan) untuk mengikuti lomba. Banyak yang gagal. Tapi ada juga yang kemudian diterbitkan,” ungkap alumni SMAN 1 Paiton ini.

Pada Desember 2010, tiga tulisan Eric lolos untuk diterbitkan dalam tiga buku yang berbeda bersama karya penulis lainnya. Ketiga buku itu masing-masing berjudul Ibuku Adalah, Writers 4 Indonesia dan Para Guru Kehidupan. Seja itu, semangat Eric untuk menulis makin menjadi-jadi.

Ketika salah satu penerbit independen, Leutika Prio mengadakan lomba penulisan novel Eric juga mengirimkan karyanya. Meski gagal, Leutika Prio, diakui Eric memberi kemudahan untuk menerbitkan novel yang berjudul Dokter Sampah itu. Dan di pertengahan Maret 2011, novel perdana Eric diluncurkan.

Mengenai kegagalan yang sering ia hadapi, Eric berpendapat bahwa kegagalan itu bukan masalah besar baginya. “Intinya, saya ingin menguji, sampai sejauh mana kemampuan saya dalam mengasah pena,” imbuhnya.

Menyusul Dokter Sampah, karya Eric yang lain yang telah diterbitkan adalah kumpulan cerpen Cinta Pedas, Arias-Hasfa Publishing. Selain itu, beberapa karyanya juga diterbitkan dalam antologi Hewan Peliharaan, Pelangi, Kisah Masa Lampau, Bayi Sehat dan Curahan Hati untuk Tuhan. (qie)

FLP, Ajang Berbagi Ilmu dan Motivasi

Forum Lingkar Pena diakui sebagai organisasi kepenulisan terbesar di tanah air. Jaringannya tersebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia. Probolinggo, memiliki FLP sejak tahun 2008. Meski belum launching secara resmi, organisasi ini telah memiliki sejumlah kegiatan untuk memberdayakan penulis dan calon penulis.

Ketua FLP Probolinggo, Rofa Rahmawati mengatakan, “Organisasi ini didirikan untuk menyemangati diri sendiri agar rajin menulis.” Untuk itu, lanjut Rofa, FLP kerap mengadakan pertemuan sebagai ajang sharing bagi anggotanya.

Dalam pertemuan tersebut, sesama anggota saling memberikan saran dan kritik atas karya yang dibawa. Di awal pendiriannya, FLP juga pernah mengumpulkan anggotanya untuk mengikuti diklat kepenulisan. Tak tanggung-tanggung, pemateri dalam diklat ini adalah Sinta Yudisia, penulis yang telah melahirkan banyak buku best seller.

Seusai diklat,FLP rutin membuat pertemua satu bulan sekali. Beberapa anggota FLP juga mulai rajin mengirimkan karyanya ke media. “Setelah itu, ada anggota yang berhenti karena melanjutkan sekolah ke kota lain. Ditempat yang baru, mereka bergabung dengan FLP yang ada disana. Meski tidak semuanya,” ujarnya.

Setelah sempat vakum, FLP kemudian berupaya mengaktifkan kembali anggotanya. Amalia Dewi Fatimah yang membidani kaderisasi FLP mengaku memanfaatkan jejaring sosial Facebook. Baik untuk menyampaikan informasi lomba kepenulisan maupun berbagi teknik menulis.

FLP juga aktif menaring anggota baru di sekolah-sekolah. Pada Mei 2011, FLP mengadakan kelas menulis sepekan dua kali, selama satu bulan penuh. “Pesertanya 13 orang penulis pemula. Mereka memiliki latar belakang beragam. Ada yang pelajar, PNS sampai karyawan,” imbuh Rofa.

Setelah itu, FLP Probolinggo mengadakan lomba penulisan cerpen yang diikuti oleh 88 peserta. Mayoritas peserta berasal dari luar kota. Amalia mengatakan bahwa, panitia sebenarnya telah mewajibkan setting cerita terjadi di Probolinggo. Tujuannya, agar banyak penulis Probolinggo yang turut serta.

“Meski demikian, dari kegiatan ini kami tetap bisa menjaring bibit-bibit baru penulis di kota ini,” ujarnya.

Dari sekian banyak anggota, ada empat anggota FLP Probolinggo yang karyanya telah diterbitkan. Salah satunya Amalia. Sebelum mendirikan FLP Probolinggo, Amalia telah memiliki karya yang diterbitkan oleh penerbit mayor. Sebut saja kumpulan cerpen Bidukku Berlayar Kembali dibawah bendera Gema Insani Press. Melaui FLP Probolinggo, Amalia lantas membagikan pengalamannya kepada anggota yang lain.

“Dalam waktu dekat kami resmi launching dan masuk jaringan FLP Nasional. Dengan jaringan yang kuat, kami berharap mampu memunculkan penulis-penulis yang bisa menerbitkan buku yang menjadi best seller nasional,” pungkas Rofa. (qie)

Terbit Indie, Biaya Sendiri

Tak salah kiranya bila penulis harus memiliki stok kesabaran yang melimpah. Baik untuk membangun karya tulis maupun ketika berusaha menembus ketatnya persaingan di penerbit besar. Amalia Dewi Fatimah, pegiat FLP yang karyanya diterbitkan GIP mengatakan, dibutuhkan waktu tiga sampai empat bulan untuk sebuah karya sampai di meja editor. Itu pun belum tentu diterima.

“Penerbit-penerbit besar biasanya memiliki ketentuan tersendiri mengenai bentuk pengiriman naskah. Hard copy atau soft copy. Pun demikian dengan jangka waktu yang diperlukan untuk mengulas naskah. Apakah naskah ini layak diterbitkan atau tidak,” jelasnya.

Ketika naskah dianggap layak diterbitkan, penerbit biasanay meminta revisi agar naskah sesuai dengan visi misi yang diusung penerbit. Hal ini, diakui Amalia bisa menggerus idealism penulis, meski tak banyak. “Penerbit meminta revisi setelah memiliki gambaran pasar,” imbuhnya.

Selanjutnya penulis tinggal terima jadi. Terkait proses edit, disain sampul hingga proses distribusi diambil alih oleh penerbit. Penulis tinggal menunggu royalti dan membantu promosi bila diperlukan. Keuntungannya, penulis bisa berkonsentrasi untuk menghasilkan karya berikutnya.

Tak jauh berbeda, Stebby Julionatan mengungkapkan bahwa penerbit mayor lebih memudahkan penulis dalam promosi. Ia mengaku tak repot memikirkan mengenai teknis penerbitan. Selain itu, penerbit mayor biasanya telah memiliki hubungan erat dengan jaringan toko buku di Indonesia. “LAN milik saya dijual di jaringan toko buku Togamas. Ini memudahkan pembeli untuk memiliki novel saya,” kata penulis yang mengidolakan Dewi Lestari dan Budi Darma ini.

Meski mengaku harus membayar 20 persen dari biaya promosi, Stebby mengaku diberi kelonggaran untuk memenuhi kewajibannya tersebut.

Sementara itu, Eric Shandy Admadinata memilih jalur indie untuk menerbitkan novelnya. Melalui cara ini, seorang penulis memang bisa menerbitkan karyanay lebih cepat. Namun, penulis harus merogoh kocek pribadi untuk membayar biaya terbit. Cakupa biayanya beragam. Mulai 400 ribu hingga Rp 2 juta-an. Tergantung paket yang ditawarkan penerbit.

“Meski demikian, penulis indie memiliki kesempatan karyanya diterbitkan secara nasional bila behasil menjual 300 eksemplar lebih,” kata Eric.

Amalia menambahkan, kelemahan diterbitkan indie juga terletak pada kualitas cetak. Terkadang, cetakan tidak terjilid rapi. Berbeda dengan penerbit mayor yang pasti menjaga kualitas cetakannya. (qie)

*) tulisan ini terbit di Radar Bromo (Jawa Pos Group), Kamis, 21 Juli 2011, halaman 34.

Advertisements

6 Responses to “Geliat Penulis di Probolinggo, Berhasil Terbitkan Novel dan Rajin Ikut Lomba *)”

  1. Baru tau klo ini km ketik ulang. 🙂

  2. Bisa dihubungi via telfon..?

  3. Bisa gak q jual karya ku di sini, drpada numpuk drmh..???

    • kalau jual ga bisa, mbak… maaf saya ga terima jual beli karya. tapi… kalau mau sharing-sharing karya silahkan. sampean bisa gabung ke group KOMUNLIS di FB. di sana adalah tempat saya dan teman2 sesama penulis sharing2 produk dan karya kami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: