DOKTER SAMPAH, TEKAD YANG TERLAHIR DARI KONDISI


Stebby Julionatan*)

JUDUL BUKU : DOKTER SAMPAH
PENULIS : ERIC KERONCONG
PENERBIT : LEUTICAPRIO
EDISI : CETAKAN I, MARET 2011
TEBAL : 144 + vi halaman
ISBN : 978-602-9079-44-9

Sampah senantiasa menjadi masalah utama di daerah perkotaan yang masih sulit untuk dicarikan solusinya, di samping masalah mengenai kemacetan tentunya. Dan berpijak dari kehidupan para pemulung –pengepul hasil sampah yang tinggal di Kampung Sampah, Eric Keroncong memulai ceritanya. Cerita tentang anak-anak pemulung (Ardi, Poniman dan Selamet) yang harus berjuang untuk sekolah dan mewujudkan cita-cita mereka. Memang tokoh sentral dalam novel ini lebih berpihak banyak pada sosok Ardi, sosok pemuda yang dikenal cerdas dan memiliki tingkat intelegensi di atas rata-rata kawan sebayanya, yang bercita-cita sebagai seorang dokter. Dan memang, berkat tekad dan kerja kerasnya untuk melanjutkan pendidikannya tanpa peduli apapun rintangannya (meski terkadang memang menemui jalan buntu dan sempat berputus asa), seperti bisa langsung ditebak, Ardi akhirnya berhasil meraih cita-citanya itu. Menjadi seorang “Dokter Sampah”. Begitu pula yang terjadi dengan kawan-kawannya, pendidikan pula yang mengantarkan kawan-kawan Ardi menjadi orang yang berhasil dan mampu mewujudkan cita-cita mereka. Poniman yang akhirnya sukses dengan proyek taman bukunya dan Selamet yang sukses menjadi juragan besi tua di Kampung Sampah.

Seringkali tekad kuat seseorang dapat membalik sebuah keadaan. Itulah kekuatan utama novel ini. Tekad yang kuat untuk terus melanjutkan pendidikan sampai berhasil. Bukankah pendidikan memang dapat membalik keadaan (baca: status sosial) seseorang?

Namun sayang, di balik kekuatan utamanya sebagai novel yang menginspirasi, rupanya “Dokter Sampah” tak pula lepas dari kelemahan. Kelemahan pertama yang paling menonjol adalah secara judul. Saya tidak melihat kesesuaian antara judul “Dokter Sampah” dengan isi cerita. Di awal, ketika membaca judulnya, saya berharap kisah Ardi lebih kepada perjuangannya, lebih kepada kerja kerasnya sebagai seorang pemulung yang akhirnya bisa meraih cita-citanya menjadi seorang dokter. Namun hal itu terpatahkan di Bab 13 “Bisa Sekolah Lagi”, malah di Bab 14 “Keluarga Baru Ardi”-lah yang menjadikan keberuntungan Ardi menjadi begitu ekstrim dan menimbulkan beragam pertanyaan di benak saya, “Lho kok lain? Lho kok melenceng dari semangat awalnya yang menjunjung tinggi arti “perjuangan”? Enak sekali nasib Ardi kalau begitu, yang dengan mulusnya langsung menjadi anak angkat Pak Handoko dan bisa hidup ongkang-ongkang di rumah mewah milik keluarga Handoko?” Mungkin saya memang bukan penyuka tipe cerita seperti ini. Tipe cerita yang seperti sulap. Simsalabim, maka jadilah. Tak terasa lagi perjuangan Ardi yang sejak awal memang sudah disuguhkan dan dipilin oleh penulis, dan yang memang saya harapkan berlangsung terus sampai di akhir cerita, sampai ia menjadi seorang dokter. Kalaupun itu sebuah keberuntungan, tentunya bukanlah keberuntungan yang serta-merta terjadi begitu saja. Dan akhirnya sampai membuat saya nyinyir dan berkesimpulan, bukan “Dokter Sampah” dong kalau akhirnya harus seperti ini. Ardi adalah seorang “Dokter Derma” bukan “Dokter Sampah” sebab ia menjadi dokter bukan dari hasil perjuangannya memulung sampah melainkan hasil dari derma keluarga Handoko yang kasihan kepadanya.

Secara ide cerita, novel “Dokter Sampah” ini menghadirkan cerita yang tergolong sederhana, cerita yang tak banyak mengerutkan kening pembaca, teknik penulisan yang dipakai Eric Keroncong pun juga tergolong sederhana dan mudah diikuti meskipun di sana-sini masih sering ditemukan kejanggalan pemakaian kata dan kalimat, hingga malah menciptakan arti yang sebaliknya (baca: merusak pemahaman, bukan ambiguitas khas karya sastra). Itulah ragam kelemahan berikutnya yang saya temukan.

Misal di halaman 11 tertulis,
Ardi yang menjadi peringkat pertama di Sekolah Dasar Swasta Kampung Sampah itu prestasinya terlihat menonjol. Selain itu Ardi juga jago dalam pelajaran IPA. Sudah beberapa kali sekolah Dasar Swasta Kampung Sampah meraih medali emas di event bergengsi tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi, bahkan sebentar lagi pria berwatak kalem itu akan mengikuti seleksi lomba MIPA di tingkat provinsi.

Kalau mengikuti alurnya harusnya lomba MIPA itu bukan lagi tingkat provinsi, melainkan tingkat nasional. Sebab Ardi sudah membuktikan selama bertahun-tahun sebelumnya bahwa dia telah berhasil memenangkan lomba serupa dari tingkat kecamatan sampai provinsi. Mengapa harus berlomba di tingkat provinsi lagi kalau sebelumnya sudah pernah menang di tingkat provinsi?

Lalu muncul sebuah pertanyaan baru yang sangat berkaitan dengan “teori logika”: Kalau Ardi dikatakan pintar, memiliki kepandaian dan intelegensi di atas rata-rata kawan sebayanya, kenapa Ardi harus masuk sekolah swasta (Sekolah Dasar Swasta Kampung Sampah)? Bukannya dengan bersekolah di sekolah swatsa, biaya yang akan dikeluarkan Ibu Siti, Ibunda Ardi, akan menjadi lebih besar kalau dibandingkan dia bersekolah di sekolah negeri? Dan bukankah di Indonesia, murid-murid yang pintar justru berebut dan berbondong-bondong untuk bisa masuk sekolah negeri? Nah lho. Memang saya menyadari bahwa selalu ada perkecualian. Selalu ada chaos dalam setiap order. Namun, kembali saya kaitkan dengan tori logika, perkecalian ini terjadi untuk etnis-etnis tertentu (baca: etnis China) ataupun siswa-siswi berprestasi yang beragama tertentu (baca: Katholik atau Kristen) yang biasanya memang sengaja masuk di sekolah-sekolah swasta favorit demi sebuah pengakuan dan juga prestige dari komunitasnya. Sayangnya kecerobohan penulis juga berlaku saat Ardi masuk di sekolah menengah pertama lanjutan. Kenapa harus masuk SMP swasta yang notabene biaya pendidikannya bisa dipastikan bakal menjerat leher Ibu Siti ketimbang dia bersekolah di sekolah negeri?

Kelemahan bahasa yang serupa juga saya temukan di halaman 37,
Pertemuan yang sangat singkat itu dimanfaatkan Ardi untuk saling melepas rindu selama dua pekan lamanya berada di rumah mewah tanpa fasilitas lengkap. Dibimbing oleh pengajar profesional setiap pagi hingga menjelang tidur. Waktu istirahat hanya tiga jam dalam sehari. Sangat membosankan. Namun, Ardi menganggap itu adalah pengalaman termahal dalam sejarah hidupnya.

Sekali lagi saya memakai “teori logika” matematika yang sederhana. Hal yang aneh di sini, “Rumah mewah tanpa fasilitas yang lengkap.” Bukankah se-nggak-enggak lengkapnya fasilitas yang ada di rumah mewah tempat Ardi dikarantina dalam mengikuti Olimpiade MIPA itu lebih lengkap dari fasilitas yang ada di rumah Ardi? Mengapa dia menjadi bosan di sana? Tentunya, seharusnya ia menjadi lebih senang dan bahagia dengan segala “keterbatasan fasilitas” yang dikatakan Eric Keroncong ada di rumah itu. Karena itulah surganya. Surga yang menawarkan paket belajar tanpa terganggu oleh kesibukannya sebagai pemulung dan juga surga yang menawarkan paket fasilitas yang lebih lengkap dari yang ada di rumahnya.

Kelemahan mengenai deskripsi tokoh yang kurang kuat, meski di awal sangatlah rancu dan membingungkan saya sebagai pembaca, tidaklah terlalu mengganggu. Yang lebih mengganggu bagi saya justru kurangnya ekplorasi penulis dalam memanfaatkan bahasa lokal yang dapat memberikan kesan kepada pembaca mengenai kedekatan hubungan antara Ardi dan Pak Kumis (hal.2). Bab 1, dalam Prolog “Sampah Membawa Berkah”, di situ diceritakan pertemuan kembali antara Ardi dan Pak Kumis, Kepala Desa Kampung Sampah yang digambarkan sangat dekat dengan Ardi dan telah menjadi pengganti ayah Ardi yang telah meninggal. Saat Ardi bertemu kembali dengan Pak Kumis, bukankah orang yang sudah saling kenal lama akan menggunakan bahasa atau dialeg lokalnya sehari-hari untuk berkomunikasi? Di sini Eric Keroncong kurang kuat menggambarkan kedekatan Ardi dan Pak Kumis. Harusnya setelah Pak Kumis menyadari keberadaan Ardi, percakapan mereka bukan lagi menggunakan Bahasa Indonesia yang baku melainkan menggunakan bahasa Madura, bahasa sehari-hari yang biasa digunakan oleh masyarakat di Kampung Sampah.

Kekuarangkuatan pembangunan karakter yang saya maksud, dan sayangnya menimpa dan langsung tampak pada karakter tokoh utama, adalah saat saya tak menemukan apa yang membuat Ardi begitu getolnya bercita-cita menjadi seorang dokter. Alasan kuat di balik cita-cita luhurnya itu. Saya juga sudah sempat langsung menanyakan kepada penulisnya, kepada Eric Keroncong. Namun penjelasan yang ia sampaikan tidaklah memuaskan saya. Tak tertulis di bab manapun dalam buku ini. Menurutnya, Ardi ingin menjadi dokter karena ingin menolong orang-orang yang sakit di kampungnya dengan budged biaya yang rendah, Ardi tak ingin menjadi “kacang yang lupa pada kulitnya”, Ardi ingin membaktikan dirinya pada kampungnya, Kampung Sampah. Sebuah penjelasan yang terlalu sederhana dan ambil gampangnya saja menurut saya.

Terlepas dari semua kekurangannya, konflik yang dibangun saya rasa cukup pas, tak berlebih, bahkan mampu mencapai klimaksnya. “Dokter Sampah” adalah bacaan yang cocok untuk mengisi waktu luang dan merenung tentang arti perjuangan. Bahwa sejatinya, perjuangan itu tidaklah mengenal kata BERHENTI.

*) Peresensi adalah Penulis Muda Berbakat 2008 yang baru saja meluncurkan novel pertamanya, LAN.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: