BERGESEK UNTUK MEMERCIK


(sebuah catatan dalam bedah buku ke-2 LAN di Lapangan Tennis Indoor Bayuangga)

Tentunya karena telah berjalan untuk yang kedua kalinya, maka bisa dikatakan bahwa acara kali ini berlangsung lebih santai dan lebih cair dari biasanya. Dan tentunya lebih sedikit undangan. Hehehe… Namun, seperti apa yang salah seorang sahabat pernah berkata, kita senantiasa harus bergesek untuk selalu memercik maka akan selalu ada hal baru yang akan saya (dan juga mungkin bagi Anda yang datang ke acara tersebut) dapatkan dalam setiap gelaran acara semacam ini:

Bedah Buku LAN

suasana Bedah Buku ke-2 LAN

1. LAN itu STEBBY JULIONATAN ya? Adanya keraguan dari pembaca, terutama dari yang mereka mengenal saya secara pribadi, bahwa LAN (ERLAN) adalah STEBBY JULIONATAN.

Berkali-kali pertanyaan seperti ini ditujukan kepada saya. Malah tak sedikit putusan yang senantiasa langsung ditujukan kepada saya dari pembaca LAN, bahwasannya LAN (ERLAN) adalah STEBBY JULIONATAN. Nggak… nggak. Nggaak bisa. Pokoknya Erlan itu ya Stebby Julionatan, begitulah vonis mereka terhadap saya. Memang tak dapat saya pungkiri bahwa karya seni, apappun itu bentuknya, yang dalam hal ini adalah sastra, adalah wujud refleksi dari penulisnya. Dan refleksi bukanlah pencerminan. Maka ia tidaklah sama dan serupa, tidaklah nyata, tegak dan sama besar namun ia bisa berubah warna dan bentuk, tegak atau terbalik, sama besar, lebih besar, maupun lebih kecil. Sampai di titik ini, ketika masih banyak orang yang menuntut seperti itu, entah siapakah yang salah, pembaca ataukah Stebby Julionatan-nya?

2. Masukan mengenai idealisme yang keras… ataukah mengubah sekmentasi pasar (berkaitan dengan terget pembacanya yang saya katakan adalah anak SMA)

Bagiku tak ada salahnya untuk sedikit bersahabat dengan pembaca, juga dengan pasar. Tak ada salahnya untuk menekan egoisme dan idealisme pribadi, demi menyenangkan orang lain. Yang penting pesannya bisa sampai, itulah kalimat yang saya tandaskan. Untuk masalah yang satu ini, mengenai ragam dan teknik penceritaan yang ternyata juga berkaitan dengan sekmentasi pasar mana yang ingin saya tuju, saya harus bersetuju dengan pembaca. Well, memang ada kalanya bagi seorang penulis untuk mengerjakan tulisannnya untuk memenuhi ambisi pribadinya, dan adakalanya juga ia menulis juga untuk orang-orang di sekitarnya. Dan untuk selanjutnya, sebagai salah satu bab yang saya comot dan saya janjikan untuk menjadi sekuel LAN, saya akan mencoba untuk hadir lebih cair dan lebih hangat kepada para pembaca. Saya akan bercerita menggunakan cara bertutur tokoh itu dibandingkan dengan cara bertutur saya yang rumit bin njelimet. . Bagi saya, semuanya cuma masalah menyampaikan pesan, masalah jembatannya, masalah membangun jembatan. Mmm… kalau selama ini mungkin untuk memenuhi ambisi saya sendiri, saya membangun jembatan yang indah dan megah, jembatan yang berdiri di atas menara gading ilmu sastra, maka tak ada salahnya kalau akhirnya saya membangun jembatan kayu yang ramah dan hangat, jembatan yang siapapun saja orangnya bisa berjalan di atasnya tanpa beban.

3. Adakah waktu dan ruang khusus untuk menulis? Mengingat Stebby Julionatan sekarang adalah orang yang sangat sibuk terutama dengan kehidupan teman-teman di radio yang bisa dikatakan riuh.

Jujur saya akui, awalnya, bahwasannya kehidupan di radio yang riuh bukanlah ladang yang tepat untuk mencipta, dan mungkin sampai kini iya, masih seperti itu. Hahaha…. Tapi seiring berjalannya waktu kini tidaklah lagi. Seperti yang sudah saya sempat katakan di depan tadi, bahwasannya “bergesek untuk memercik”. Orang-orang di radio, kawan-kawan saya di radio, atau katakanlah “kehidupan” di radio memang bukanlah kehidupan yang menawarkan suasana yang nyaman bagi Anda, penulis pemula, untuk menulis, tapi mereka adalah “kehidupan” yang luar biasa untuk mencari ide. Saya tak perlu susah-susah untuk berlari kemanapun seperti yang selama ini saya lakukan, cukup diam dan mengamati mereka satu-per-satu. Merekalah yang akhirnya menciptakan karakter-karakter dalam benak saya. Jadi, bagi saya sekarang, tak ada yang salah dengan keriuhan itu. Mereka hadir dengan berkah mereka sendiri terhadap saya. Well, dulu mungkin “ya”. Dulu mungkin saya adalah orang yang merasa membutuhkan waktu kusus, suasana yang tenang, mood yang baik untuk menghasilkan karya. Tapi sekarang tidak lagi. Saya bisa bekerja di mana saja, kapan saja, pada saat apapaun, baik itu tenang maupun riuh redam. Karena saat ini, ide-lah yang menghampiri saya, dan bukan sebaliknya.

Akhirnya, memang seperti apa yang telah disampaikan oleh salah seorang kawan saya di awal tadi, bahwasannya berkarya itu bagaikan proses pemurnian emas yang tak bisa sekali proses, juga tak bisa estafet. Harus diendapkan dahulu pada tiap tahapannya, baru digesek lagi hingga memercik. Selamat memercik, kawan! Semoga!

NB: terima kasih untuk Penerbit Andi, Toko Buku Togamas Probolinggo dan pastinya Kantor Perpustakaan dan Arsip Kota Probolinggo yang menjadikan semua ini mewujud dengan “sempurna”

3 Responses to “BERGESEK UNTUK MEMERCIK”

  1. Dalam The Pleasure of the Tex, Roland Barthes mengatakan: PENGARANG TELAH MATI. Penulis tidak lagi mempunyai tempat dalam teks ketika untuk pertama kalinya ia dibaca orang lain. Tidak usah risau dengan interpretasi pembaca, karena itu hak mereka. Biarlah Erlan jadi siapa saja. tak ada yang terpeleset, tidak ada yang salah. terus saja menulis..semangat!!

  2. Sammy Handoko Says:

    …begitulah sebuah karya, Ia akan berbicara dengan ragam bahasa yang mengundang 1001 interprestasi bagi pembaca.Bahasa lisanpun tak’kan bisa membantahkan atas tafsir pembaca, biarlah Ia mengalir apa adanya yang terilhami pada ruh-ruh abjad sastramu.Semakin karyamu tergesek oleh tafsir rupa-rupa olehnya, Ia akan mewujud sebagai karya yang “lulus” sebagai pembawa pesanmu.The best messenger.Nikmatilah!
    Sammy Handoko, penulis novel The Lover’s by Inspirazone Publisher

  3. Ternyata….🙂 Jadi untuk yang berikutnya akan lebih LAN dibanding Stebby ya… hihi… Gutlaaak, thanks sharingnyaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: