SAVE GILI…


 

O mon ajeling, odikna oreng Majengan
Abental ombak, sapok angin, salenjengan

Oalah… ngak riyah erasa’agih ebental ombak?, pikirku.  Kami terpental-pental dan menjadi kuyup karena cipratan-cipratan obak di atas perahu motor.

Hari ini, Minggu, 19 Juni 2011, selepas ibadah Minggu, aku dan @azamrahman kembali melanjutkan petualangan dan perjalanan kami. Kali ini tujuan kami adalah Pulau Gili. Pulau seluas 68 ha yang terletak sekitar 50 mil lepas dari pantai utara Kota Probolinggo, atau sekitar 45 menit perjalanan mengunakan perahu motor dari Tanjung Tembaga ini, didiami oleh sekitar 7.600 jiwa. Sebagian besar warganya adalah etnis Madura, dan hampir 90% penduduknya menggantungkan hidup mereka pada hasil-hasil laut, sebagai nelayan.

Kenapa namanya Gili Ketapang?

This slideshow requires JavaScript.

Pulau ini dipercaya oleh masyarakatnya memiliki kekuatan gaib, tenaga gaib, yang bergerak lamban ke arah laut. Kabarnya, semula pulau ini menjadi satu dengan daratan Desa Ketapang. ketika Gunung Semeru meletus, terjadilah gempa bumi yang sangat dasyat sehingga sebagian daratan Desa Ketapang terpisah ke tengah laut. Sebagian daratan yang terpisah ke tengah laut itulah menjadi pulau yang bergerak. Oelh sebab itulah masyarakat setempat menyebut pulau itu dengan nama “Gili Ketapang”, berasal dari bahasa Madura yang artinya mengalir, sedangkan Ketapang adalah asal nama desanya.

Kami berangkat pukul 11.30 dari Pelabuhan Tanjung Tembaga, Probolinggo. Hanya dengan Rp 4.000,-, kami tiba di sana, di Dermaga Gili pukul 12.45.

Lokasi pertama yang kami tuju adalah Goa Kucing. Goa ini pun tak luput dari legenda dan kepercayaan masyarakatnya. Dinamai Goa Kucing karena kabarnya setiap tanggal 1 Suro, dari dalam tempat ini akan keluar banyak kucing. Tapi, jujur saja, sampai kali ketiga ini saya datang ke sana, dan memang belum di tanggal 1 Suro seperti tanggal yang ditetapkan sih, saya tak melihat ada satu ekor kucing pun yang keluar dari goa itu.

Selanjutnya adalah perjalanan menyisir pulau… dari arah masjid di Goa Kucing, kami mengitari pulau ke arah barat. Ke sebuah daerah yang menurut kami seperti semenanjung dengan teluk berpasir putih yang sangat indah.

Dari jauh, lokasi yang biasanya hanya kami lihat dari atas kapal tersebut memang tersebut memang sepertinya indah. Sangat indah. Pantainya bersih berpasir putih, lautnya biru jernih, udara yang segar, ditambah dengan paduan langit yang siang itu memang cerah dan mendukung. Tapi apa yang terjadi ketika kami dekati? Ternyata, begitu kami menyaksikannya dari dekat, kesan kami langsung berbalk 180* terhadap tempat itu. Keadaannya kontras, kotor sekali. Sampah berserakan di mana-mana. Laut itu tidak biru bersih melainkan banyak tercemari oleh sampah berupa gombal (kain/pakaian bekas) dan plastik ataupun botol bekas pembungkus makanan. Sungguh miris. Sangat merobek hati dan sayang sekali. Lokasi yang sangat indah tersebut, rusak parah akibat sampah.

Ayo… kini saatnya kita selamatkan P. Gili. Para pakar Kalpataru, di manakah hatimu untuk pulau ini? Apakah yang bisa kita konsep dan berikan bagi pulau ini, bagi rakyat Pulau Gili? Kini saatnya kita selamatkan P. Gili. Save Gili 2011!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: