LUDRUK REMAJA “PANJI LARAS”


 

Sama halnya dengan Jaran Bodhag, sejarah lahirnya Ludruk Remaja “Panji Laras” pun tak lepas dari sejarah perkembangan kesenian Jaran Kencak dan Ludruk “Djiwa Baroe” (1930). Kesenian ludruk khas remaja Kota Probolinggo yang baru berdiri di tahun 2009 ini merupakan salah satu warisan kesenian tradisi Mbah Wiryo.

“Panji Laras berdiri sekitar 2 tahun lalu. Sekitar tahun 2009. Kesenian ini muncul atas prakarsa Khotib (M. Khotib, pimpinan sanggar seni Panji Laras, red.) yang ingin mewadahi kreatifitas para remaja Kota Probolinggo, khususnya bagi mereka yang ingin mengenal ludruk sebagai kesenian daerah.” terang Ki Pedhet, generasi ketiga ludruk tradisi “Djiwa Baroe” yang siang itu (7/6) ditemui di kediamannya oleh Suara Kota.

 

LUDRUK REMAJA

“Maka dari itu saya, istilahnya berterima kasih sekali pada orang satu ini, (sambil tersenyum dan menyenggol Khotip dengan bahunya), bersyukur ada seniman yang satu ini. Kami, pelaku seni yang sudah tua, yang sudah merasa capek untuk kembali berjuang di jalur kesenian, seperti menemukan wadah baru. Pijakan baru.” selorohnya.

Meskipun tergolong baru, namun rupanya keseriusan anak-anak muda yang tergabung dalam Ludruk Remaja “Panji Laras” tidaklah main-main. Pertengahan bulan Maret lalu, Panji Laras langsung menggondol penghargaan untuk 2 kategori sekaligus. Melalui lakon “Salah Siapa?” yang menceritakan tentang kebodohan orang tua yang menekan talenta dan bakat putra-putrinya dalam berkesenian, Panji Laras mampu menjadi yang terbaik dalam Festival Ludruk Pelajar 2011 gelaran Disbudpar Jatim untuk kategori Group Terbaik dan Aktor Terbaik yang diraih oleh Yudi.

Sebenarnya apa yang membedakan ludruk tradisi dan ludruk remaja selain perbedaan usia para penampilnya?

Kepada Suara Kota, lebih lanjut Ki Pedhet menjelaskan bahwa tak banyak perbedaan antara ludruk tradisi dan ludruk remaja. Lakon-lakon dan penokohan yang dibawakannya pun masih sama. Masih seputar cerita-cerita rakyat seperti Sarip Tambak Oso, Sawunggaling ataupun Minak Jinggo. Perbedaan besarnya yang terasa hanyalah permasalahan ada dan tidak adanya waktu khusus untuk berlatih. Ludruk tradisi tak membutuhkan waktu khusus untuk berlatih sedangkan ludruk remaja perlu.

“Dulu kami itu mainnya tobongan (semacam mengamen, atau berkeliling, red.), sehingga latihannya ya sambil jalan. Ya waktu nobong itu. Tapi kalau remaja sekarang kan harus sekolah. Banyak tanggung jawab dan kesibukannya. Jadi ga mungkin seperti kami dulu. Jangan lah.” Jelas Ki Pedhet sambil terkekeh.

Rencanaya dalam event Semipro 2011 yang bakal digelar dari tanggal 25 Juni – 2 Juli 2011 mendatang, Ludruk Remaja “Panji Laras” bakal membawakan lakon JokoBerrek Kulmak Sosro Negoro (Sawunggaling) yang menceritakan tentang perjalanan JokoBerrek saat menjalani pelarian dari Belanda. (tby)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: