ESCAPE FROM PROBOLINGGO (still (still) in days 02)


 

Semarang Night Tour…

Masih di hari kedua pelarian kami, tujuan kami berikutnya adalah SEMARANG…

KOTA TUA SEMARANG
GREJO MBLENDUK (GEREJA GPIB “IMMANUEL” SEMARANG)
LAWANG SEWU
dan SANG TUAN MALAM

Berbekal hanya Rp 2.500,- lagi, dari depan Museum Kereta Ambarawa kami kembali ke Terminal Bawen. Dari sana naik bus lagi, tapi kali ini bukan bus executive yang kami naiki, bus bomelan biasa yang harga tiketnya hanya Rp 4.000,-/orang. Dengan  jarak tempuh yang lumayan aduhai jauhnya dari Ambarawa ke Semarang, boleh dikata busnya ini murah bangeettsss ya….

Hmmm… kami melewati ruas-ruas jalan yang besar-besar, kami melewati terowongan, lalu kami melewati jalan tol, dan WOW… ternyata Semarang tuh besar juga ya?! Hahaha… Maklum lah kami kan anak udik yang ga pernah tau Kota Semarang, yang padahal kan harus bisa ditaksir dan dinalar sendiri, kalau di Jawa Timur itu, Surabaya sebagai ibukota provinsi gedhenya seperti apa, pastinya Semarang sebagai ibukota provinsi Jawa Tengah juga ga jauh-jauh beda dari itu lah. Smile

Berniat turun di Terminal Terboyo, tapi atas sebuah informasi yang kami dapat dari seorang teman, Andre, yang nantinya dia juga akan menyertai perjalanan kami berkeliling Semarang, juga Ambarawa, kami akhirnya turun di sebuah perempatan yang tak kuketahui namanya apa, depan sebuah ruko. Well, intinya jarak tempuh dari perempatan itu hingga Tugu Muda mungkin sekitar 6 km.

IMGP8561

Kami langsung berburu hotel dan makan malam….

Untuk makan malam kami memilih tempat ini:

IMGP8568

IMGP8562

Letaknya ga jauh dari Tugu Muda. Tinggal jalan kaki saja sudah sampai kok. Well, aku memesan Bakmi Nyemek sementara @azamrahman memesan Bakmi Goreng.

IMGP8564

Untuk hotel, kami akhirnya memutuskan untuk menginap di Hotel Merbabu. Biaya per malamnya Rp 250.000,- untuk Standart Room. Letaknya juga ga jauh dari tempat dimana kami menyantap habis bakmi khas Semarang ini. Berhadapan dengan Novotel***, hotel kami bersebelahan dengan Paragon Plaza. Mmmm… jadi ya asyik saja, kalau mau nge-mall ga usah jauh-jauh. Smile

Malamnya, selepas isya, dengan semangat yang masih tersisa, kami melanjutkan perjalanan kami ke “Grejo Mblenduk”. Tapi rupanya, dalam perjalanan mencari Grejo Mlenduk, yang notabene orang Semarang -yang kami tanyai di sepanjang jalan, sendiri kebingungan dan malah banyak yang ga tau apa itu Grejo Mblenduk dan di mana letaknya, dan malah hampir membuat kami tersasar, kami menemukan, melewati yang namanya sentra Pecinan Semarang.

IMGP8570

IMGP8573

IMGP8574

Melewati ruas jalan itu aku jadi teringat dengan Len-jelenan, kawasan kuliner yang ada di kotaku, Probolinggo. Andai saja, Len-jelenan itu dikonsep seperti ini, pikirku. Kira-kira apa ya bedanya dengan Len-jelenan yang membuat kawasan pecinan ini ramai dan menarik? Mungkin, karena memang ini bukanlah sebuah komunitas yang dikonsep. Ini adalah realitas asli masyarakat Semarang yang mewujud. Mereka tinggal di sini, mereka berkomunitas di sini, dan mereka juga akhirnya berjualan di sini. Tempat ini, menjadi semacam night market yang menyedot wisatawan untuk berkunjung dan berwisata di sana, terutama bagi mereka yang beretnis Tiong Hwa ataupun suka mencicipi jajanan, kesenian juga suasana khas Pecinan. Well, memang ga ada yang salah sih dengan sebuah tempat wisata yang dikonsep. Istilahnya, buatan lah. tapi memang kalau buatan itu ternyata harus memperhatikan banyak faktor terutama bagaimana cara menjualnya. Selling strategy.

Malam hari, kami mendapat seorang company. Seorang kawan yang akan menyertai perjalanan kami selanjutnya. Namanya Arif. Dia anak Jogja, kawannya @azamrahman. Sehingga untuk selanjutnya perjalanan ini tak terasa sepi lagi.

Kawan kami itu pun, malam hari ini mengajak kami ke Lawang Sewu. Namun aku menolaknya. Entahlah, bukan karena aku takut untuk berwisata misteri malam-malam begini. Tapi aku sudah merasakan seluruh anggota tubuhku tak bersahabat. Aku benar-benar butuh istirahat dan kembali ke hotel.

IMG_1659

NB: kalau kamu ke Semarang, jangan lewatkan juga untuk mencicipi jajanan Tahu Pong khas Semarang. Kami menikmatinya di perempatan “antahberantah”. Tak tahu lah sudah kami saat itu ada di mana. Smile

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: