ESCAPE FROM PROBOLINGGO (Days 02)


 

Solo City Tour (3 Juni 2011)

06.00 WIB, sebelum menikmati sarapan pagi, kami berkeliling menikmati landscape kota Solo yang ada di sekitar hotel.

Koridor Busway Trans Batik Solo

IMG_1555

IMGP8424

 


Pasar Gede

IMGP8429

IMGP8426

IMGP8428

Gladak

IMG_1568

 

Balai Kota Surakarta

IMG_1572

TROTOAR...

IMG_1599

IMG_1591

IMG_1583

IMG_1594

IMGP8435

 

Bank Indonesia Cabang Surakarta

Gedung BI Surakarta

 

Gereja Katolik St. Antonius

IMGP8443

Why Solo?

Kenapa Solo? Mungkin alasan terbesarnya adalah kami sudah bosan dengan suasana liburan di Jogja. Ingin mencari suasana baru. Apalagi dengan figur Jokowi, Walikota Surakarta, yang pernah kami saksikan di salah satu program stasiun televisi, Mata Najwa di Metro TV, kami semakin punya hasrat keinginan yang kuat untuk mengetahui di mana tapak-tapak beliau pernah menjejak dan berpijak.

Alasan lainnya, sama-sama masih bersumber dari televisi (ah, kenapa ya kali ini televisi bisa memberikan banyak efek yang baik bagi saya?), kala itu acaranya Farhan yang hadir di TV One, entah apa aku lupa apa nama programnya, yang terpenting adalah saat itu Farhan mengunjungi Solo, ke salah satu kampung batik yang ada di sana, Kampung Batik Lawean. Di sana, Farhan berkunjung ke salah satu galery batik yang terkenal, milik Ibu Nina Tanjung, istri politikus dan juga mantan menteri Akbar Tanjung… ROEMAHKOE.

 

10.00 WIB, next destination… @Roemahkoe, Kampung Batik Lawean.

IMGP8471

Di Solo terdapat 2 kampung batik, yakni: Kampung Batik Lawean dan Kampung Batik Kauman. Kampung Batik Laweyan sendiri terletak di sepanjang jalan dr. Rajiman. Dari hotel kami yang terletak di Jalan Urip Sumoharjo, letaknya cukup dekat. Hanya sekitar 15 menit perjalanan menggunakan Bus Damri B. Dengan tiket seharga Rp 3.000,-/ orang, kami turun pas di depan gapura kampung batik.

Dari gapura itu ke arah Roemahkoe juga tak jauh. Cuma berjarak beberapa rumah saja, kami sudah sampai di sana.

IMGP8535

Rumahkoe ini dulunya adalah rumah milik pedagang batik terkaya di Solo yang dibangun pada tahun 1938. Rumornya sih, Roemahkoe ini dulunya juga adalah markas besar BOEDI OETOMO dan merupakan Kamar Dagang Islam pertama di Solo. Kini… Roemahkoe telah disulap menjadi sebuah penginapan, sebuah hotel, berarsitektur art deco berkamar 13.

Suasana kuno akan langsung menyergapku. Beberapa foto kuno suasana kota Solo maupun foto-foto orang Solo pada masa awal abad ke-20 dipampang tersebar di sudut-sudut hotel ini.

Selain menginap, jawab pelayan hotel yang kami usili dengan berbagai pertanyaan, para tamu juga senantiasa dimanjakan dengan beraneka macam menu masakan khas Solo. Tak hanya yang biasa, bahkan menu kesukaan Raja Pakubuwono X pun, separti: Londoh Pindang, Nasi Liwet dan Selat Solo, tersedia di sini. Tamu maupun pengunjung pun bisa belajar membatik, memainkan gamelan atau membaca watak menurut astrologi Jawa (Primbon) bisa juga dilakukan di tempat ini.

Kami sangat beruntung, sebab ketika kami mengunjungi Roemahkoe, di heritage hotel tersebut sedang berlangsung acara yang melibatkan sebuah produsen sabun cuci pakaian dengan pihak keraton dan para pecinta batik dari Jakarta. Bertemulah kami dengan Ibu RAy. Febry H. Dipokusumo. Beliau adalah menantu Raja Pakubuwono XII, alias istri dari adik Raja Pakubuwono XIII. Beliaulah yang menghampiri kami yang sedang kebingungan. Setelah mengetahui identisas dan kepentingan kami, beliau lalu mengajak kami mengobrol. Beliau banyak bercerita mengenai Solo. Sungguh, kami merasa terhormat. Sangat terhormat. Sebab siapalah kami hingga kami dapat bertemu, berkenalan dan mengobrol dengan salah satu orang penting di Roemahkoe dan Kasultanan Surakarta tersebut. Semakin kagum kami terhadap kota kecil ini.

IMGP8473

IMGP8478

“Sedikit berbeda dengan Kasultanan Jogja, sejak NKRI berdiri, maka sistem-sistem dan simbol-simbol hierarki yang ada di Solo juga turut luruh. Turut berdaulat dalam NKRI. Kraton kini berfungsi sebagai lembaga adat, penjaga cagar budaya serta memiliki otoritas yang berbeda dengan pemerintah.” ujar beliau.

IMGP8525

“Kraton tidak serta merta, selalu turut ambil bagian dalam setiap urusan atau kebijakan yang diambil pemerintah Solo. Itu tadi, fungsi keraton adalah sebagai lembaga adat penjaga cagar budaya dan kearifan lokal yang dimiliki oleh Kasultanan Solo.” lanjut beliau.

Kami juga dipersilahkan mengikuti tour batik itu…

Masih di Roemahkoe… di sisi sebelah timurnya persis, berdiri Waroeng Gayeng. Warung yang masih satu management dengan penginapan dan galery batik Roemahkoe ini juga menyediakan aneka jajanan dan kudapan khas Solo. (NB: harga makanan di sini lebih murah daripada yang ada di dalam restaurant)

IMGP8517

Insting kuliner kami segera mengeliat… Aku memesan Mie Godhog, dan Es bu Warni, sedang @azamrahman memesan Sego Setan dan Es Mendem.

IMG_1654

IMG_1648IMG_1652

Nah, selamat mencoba!

ROEMAHKOE, Hotel Heritage:
Jl. Dr. Rajiman no. 501 Laweyan Solo, 57148
Central Java Indonesia
Phone: (62-271) 714024, fax: (62-71) 720097
email: roemahkoe@indo.net.id
http.//www.roemahkoe.info

(bersambung…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: