ESCAPE FROM PROBOLINGGO (Days 01)


 

Probolinggo – Solo (2 Juni 2011)

Bersama salah seorang temen kantor  sahabat, @azamrahman, hari ini kami berangkat ke Solo. Tentu… tujuan kami tak hanya Solo, kami juga berencana mengunjungi kota-kota lain yang ada di sekitar Solo, seperti Ambarawa dan Semarang. Mumpung libur, pikirku. Kapan lagi kalau nggak liburan panjang, cuti bersama seperti sekarang ini.

Keberangkatan siang ini kulakukan setelah melewati rangkaian ritual Hari Kenaikan Yesus Kristus di Gereja. Huufft… tapi apa mau dikata, bayangan tentang liburan yang akan kami lakukan, memang jauh lebih menggoda ketimbang ibadah. Sampai-sampai, selama ibadah di gereja yang terbayang adalah perjalananku menyusuri jalur Solo-Ambarawa-Semarang, menyusuri tingkap-tingkap kebun kopi di Ambarawa menggunakan jasa kereta wisata kuno bertenaga uap yang katanya masih bisa digunakan oleh para wisatawan yang datang, pokoknya… telah terbayang olehku menyusuri kembali kenangan-kenangan masa kecil Oma (Oma Tien, nenekku), seperti yang dulu senantiasa beliau susup dan sisipkan di sela-sela beragam dongeng pengantar tidur di dalam benakku, di masa-masa kecilku.

Bagaimana sampai ga terbayang-bayang dan membikin pikiran melayang-layang, kalo sebenarnya rencana liburan ini sudah cukup lama dibicarakan bersama dengan kawan-kawan kami yang lain??@famydecta dan @anggonoadja. Sejak gelaran MPS2 Episode 2 Tahun 2011 lalu (15/5), kami sudah memiliki rencana ini. Waktu itu gagal gara-gara @famydecta memiliki urusan lain, masalah lain, yang tak dapat ditunda hingga kami semua harus membatalkan keberangkatan kami. Mosok rek, saiki kudu gagal maneh?

 

bernapak tilas di Ambarawa...

 

Aku teringat…

Hingga begitu berartinya Ambarawa, seorang penyair senior Indonesia, Soebagyo Sastrowardoyo, punya puisi indah tentang Ambarawa.

AMBARAWA 1989

Sebelum tidur istriku menyulam
di bawah lampu temaram. Sebuah bunga
biru dengan latar kelabu yang akan diberi
pigura dan digantungkan di dinding.

Aku menyempatkan diri mengikuti
berta terakhir di koran yang belum
sempat dapat kubaca pagi hari.

Kami sudah lupa bahwa di kota ini
pernah terjadi revolusi dengan kekejaman
dan kematian. Keluarga lari mengungsi
ke gunung dan aku turut bergerilya
mengejar Belanda. Berapa peluru sudah
kutembakkan di malam buta menyerang
musuh yang menghadang dengan senjata.

Pikiran tegang selalu oleh cemas
dan curiga.

Kini peperangan hanya terjadi di roman
petualangan yang kubaca dan yang kulihat
di layar TV, jauh entah di negeri mana.

Nampak tak nyata dan hapir tak bisa dipercaya.

Ah, biarlah kedamaian berlanjut begini. Semua –bunga, dinding, lampu, kursi, istri- terliput dalam kabut puisi. Suling mengalun menembus malam. Aku tak tahan lagi melihat darah.

Hmmm… sungguh ibadah yang kabur. Sungguh… hari (yang pas) untuk kabooeerr… Smile

Kami berangkat dari Stasiun Probolinggo pukul 11.50 WIB. Meleset 27 menit dari jadwal yang tertera di tiket kami: SRITANJUNG, Economy Class, PROBOLINGGO 11.23 – SOLOJEBRES 18.10, TANPA TEMPAT DUDUK, Harga: Rp 24.000,-/orang. (Syok kan sama harganya? Murah banget kan?!) Nah trus kalo begini, jam berapa nih ya kita bakal sampai di Solo? Allahualam. Hanya Tuhan yang tahu dan berkehendak. Smile

 

tiket kereta SRITANJUNG

Well, kembali ke soal judul blog ini, ESCAPE FROM PROBOLINGGO, kenapa tiba-tiba aku kok bilang “escape”? Ga ada apa istilah lain yang lebih baik? Judul yang lebih baik?? Apa ngga’ takut kalau kembali lagi disomasi oleh Radar Bromo gara-gara judul blog??? Smile

Mmmm… kalau boleh bercerita sedikit, (bukannya banyak juga gpp ya?! kan ini emang blog pribadi gw. hehehe…) memang karena perjalanan kali ini adalah benar-benar “escape”. Benar-benar “MELARIKAN DIRI”. Sehingga kalo dibayangkan n mungkin bisa dibuat film, lebih mirip ama ESCAPE FROM SOBIBOR-lah ketimbang TOUR DE JAVA ala Oma Magda, kakak Omaku yang tinggal di Belanda, yang senantiasa melakukan perjalanan keliling Indonesia setiap liburan musim panas tiba.

Well, kami berdua benar-benar melarikan diri dari ruwetnya aktifitas dan rutinitas kantor yang ga’ ketulungan ribet bin ruwetnya. Terlebih bagiku, yang memang terikat kontrak mati dengan radio dan aktifitas siarannya yang tiada henti. SmilePelarian kami adalah pelarian yang benar-benar melibatkan penyusunan serangkaian strategi yang matang, rencana rahasia, beragam tipuan dan kebohongan yang busuk hingga misi kami sukses, kami bisa berangkat seperti sekarang ini.

 

on the TRAIN...

 

Pukul 13.46 WIB, sebelum memasuki stasiun kereta Wonokromo, kereta yang kami tumpangi mengalami kecelakaan. Menabrak seseorang. Aku sempat turun dan memfoto korbannya.

 

sekitar daerah WONOKROMO

 

di bawah KERETA...

 

Tak banyak yang tau kenapa tiba-tiba orang tersebut sudah berada di bawah kereta kami. Dan… sampai kereta kami ini kembali berangkat, kami tak ambil pusing untuk mengetahui, kami belum mengetahui identitas korban tabrakan kereta tersebut dan apa motifnya hingga sampai tertabrak atau sengaja menabrakkan diri ke kereta. Kalau salah seorang petugas kereta sih, korbannya ini orang gila. Mungkin juga ada benarnya. Silahkan tebak sendiri, ini korbannya:

 

KORBAN tabrakan kereta

 

Akibat peristiwa itu, maka sekitar pukul 22.33 WIB, kami baru tiba di Stasiun Solojebres. Berbekal sedikit panduan dan mengikuti gerak kata hati, kami akhirnya menemukan pusat jajanan Gladak.

 

IMGP8417

 

Sebelumnya aku mengira bahwa Gladak ini mirip Len-Jelenan di Probolinggo, atau paling ngak Malioboro-nya Jogja lah… tapi rupanya kami harus sedikit kecewa. Di sini lain. Di sini penjualnya cuma satu orang. Mmmm… kalau ditinjau dari lokasinya, lokasi atau katakanlah jembatannya emang lumayan bagus sih: Jembatan atau “gladak” yang terletak di seberang Balai Kota Surakarta. Tapi tentu saja, bagi kami atau mungkin juga bagi kebanyakan pendatang atau wisatawan yang baru saja bermain ke Solo, pusat jajanan khas Gladak itu masih terkesan suram, terkesan petheng. Miiskin sekali lampu atau penerangan yang digunakan oleh PKL yang berjualan di sana, ya? *think

 

GLADAK di pagi hari...

Akhirnya pilian kami untuk makan malam tertuju pada Depot Timlo Pak Sur yang masih terletak di sekitar areal Gladak. Jalan Gatot Subroto No. 200 Solo, tepatnya. (sekedar info: Timlo adalah makanan khas Surakarta)

IMG_1541

Pusingnya mencari tempat makan di lokasi yang baru, rupanya sama dengan pusingnya mencari tempat peristirahatan. Hotel Wigati yang disarankan oleh kawannya @azamrahman rupanya tak bisa dihubungi. Nada sibuk melulu. Entah, mungkin karena sambungan teleponnya lagi dipakai untuk pacaran oleh si petugas hotel yang shift malam. Akhirnya kami memutuskan untuk stay di Hotel Trio.

Hotel Trio memang dari depan tampak horor, ditambah lagi pas kami chcek in kan suasananya malam, sudah sekitar pukul 10 malam, jadi rasanya, kalo kata orang Jawa, singup. Tapi nyatanya, hotelnya bagus, kok. Suasananya etnik-etnik kejawen, gitu. Pas banget buat foto-foto. Per malam untuk kelas standart hanya seharga Rp. 150.000,-. Dah plus breakfast dengan kondisi kamar yang ber-AC dan air panas dingin. Well, untuk Anda yang berencana ber-backpacker ke Solo seperti kami, silahkan dicoba sendiri deh hotel ini. Smile

HOTEL TRIO
Jl. Urip Sumoharjo No. 26 Solo
(0271) 632547

HOTEL TRIO, tampak depan...

IMG_1544

(bersambung…)

One Response to “ESCAPE FROM PROBOLINGGO (Days 01)”

  1. holy cow!!!! apakah pantas korban kecelakaan yg begitu mengenaskan dipotret dan disebarluaskan??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: