JIKA KAU TIDAK TURUT AMBIL BAGIAN DALAM PERUBAHAN MAKA JANGAN MENGGERUTU JIKA TAK SEDIKITPUN PERUBAHAN YANG TERJADI ATAS DIRIMU (sebuah renungan dalam acara Launching dan Bedah Buku (Novel) LAN kemarin)


21 Mei 2011

Ini hari penting dalam hidupku.

Launching dan Bedah Buku (Novel) LAN yang aku selenggarakan di SMA Negeri 1 Probolinggo dengan Mas Indra Tjahyadi sebagai bintang tamunya.

Secara umum kalau kunilai sendiri, sukses lah. Sambutan para praktisi, masyarakat dari dunia pendidikan (baik guru maupun adik-adik pelajar), temen-temen dari media, semuanya baik. Dengan kata lain, LUAR BIASA! Hahahaha… Cuma begitu sampai rumah, komentar Mama bertolak belakang. “Aku sangat menyesal sekali datang ke acara tersebut. Ucis ga bisa menggiring peserta. Ga’ tau konsep bedah buku seperti apa. Rugi rasanya mengeluarkan biaya yang sebegitu besarnya kalau acaranya cuma begitu saja. Mas Indra Tjahyadi tak berbicara sama sekali.” Beliau menyalahkan MC yang katanya ga tau konsep acara. Tentu saja langsung kubantah. Karena menurutku, dalam acara tersebut, akulah bintangnya bukanlah Indra Tjahyadi. Indra Tjahyadi seumpama pohon besar, sebagai pokok tempat sulur-sulur anggurku merambat, begitulah kuibaratkan. Bukan sebaliknya. Ekspektasi orang datang ke acara tersebut bukan melihat Indra Tjahyadinya, tapi Stebby Julionatannya. Lagian dalam hati kupikir, pernahkah mamaku datang ke sebuah acara bedah buku lain, selain ini, sehingga sok teu bagamana seharusnya konsep acara launching dan bedah buku digelar?! Tidak. Apakah ini uang beliau yang aku gunakan untuk menggelar acara launching dan bedah buku?! Tentu saja tidak.

Segera saja ku-SMS senimannya sendiri. Tanya langsung pada pakarnya seperti apa sih konsep acara bedah buku yang benar bersi beliau, dan inilah jawaban Indra Tjahyadi:

“Suasananya kurang cair, Steb. Itu karena tempatnya. Memang lebih asyik klo d kafe. Pmbukaan Stebby bca nvl itu dkit. Trs diskusi. Tp td udah asyik kok. Hanya mungkin lbh santai dkt lgi.”

Malem, pas aku siaran, lewat media chatting facebook, Eric Keroncong juga memberikan kritikan. Katanya kok narasumbernya diem tok? Maka kembali aku jawab dengan santai, “Kenapa kok tadi kamu juga diem saja.” “Soalnya ga enak, Mas. Lagi bad mood.” Jawabnya. Nah, inilah buruknya mental kebanyakan orang Indonesia, memberikan masukan, pada saat acaranya sudah habis. Mencoba megambil kesempatan dan peluang saat segalanya sudah sampai pada titik nadir. “Mengapa kau tak mengatakan waktu di sana, mengapa kamu tak turut mengambil kesempatan saat acaranya masih berlangsung?” Apakah bad moodnya audience itu menjadi kesalahan saya ataupun kesalahan MC?

Coba kita renungkan bersama… (ambil saat hening) ketika yang terjadi di pagi hari itu lebih kepada banyaknya antusiasme dan pertannyaan peserta yang tertuju padaku dan proses kretatif di balik  LAN ketimbang bagaimana pendapat Indra Tjahyadi mengenai novel tersebut, sementara Eric berharap suasana bedah bukuku itu seperti pada saat mahasiswa melakukan uji proposal, ada debat dan pembantaian yang dilakukan oleh audience dan Indra Tjahyadi di sana. . Well, untung saja di awal MC sudah bertanya kepada beliau mengenai hal itu.

Inilah yang kukatakan tidak ambil bagian dalam perubahan. Adakah audience yang melakukannya atau bertanya atau menyanggah atau berkomentar pada saat acara tersebut masih berlangsung?

Dalam acara tersebut, seorang Indra Tjahyadi tak dihadirkan untuk seorang Stebby Julionatan semata, tapi untuk keseluruhan audience yang hadir di sana. Tujuannya satu, untuk memotivasi mereka yang hadir. Kalau seorang Indra maupun Stebby bisa mekalukannya, berarti kalian juga bisa. Jujur, kalau saja Indra hanya dihadirkan untuk tujuan dan keperluan Stebby Julionatan semata, ya aku tak perlu capek-capek dan menghabiskan “banyak biaya” seperti yang dikatakan oleh ibuku, yang telah aku ceritakan di awal paragraf tadi, dengan jalan menghadirkannya di tempat “terhormat” seperti yang terjadi pagi itu. Aku tinggal mengangkat telepon saja, memencet nomornya dan mengobrol secara pribadi seperti yang senantiasa aku lakukan dengan beliau. Pembantaian model skripsi seperti yang diharapkan Eric ya sudah senantiasa dan sering kali terjadi di antara kami.

Dan akhrinya, agar perdebatan ini tak semakin pelik, maka kutanya juga kepada Eric, mengenai ekspektasinya yang berlebihan: Pernahkah ia datang ke sebuah acara bedah buku sebelumnya? Ia hanya menggeleng dan memberikan jawaban “Belum pernah.”

Mmmmm… yowes. Pantas saja.

Intinya, inilah kesimpulanku tentang acara launching dan bedah buku yang terjadi pagi ini:

JIKA KAU TIDAK TURUT AMBIL BAGIAN DALAM PERUBAHAN MAKA JANGAN MENGGERUTU JIKA TAK SEDIKITPUN PERUBAHAN YANG TERJADI ATAS DIRIMU.

Well, untuk yang sudah datang dan mungkin mengalami ketidakpuasan yang sama tentang bagaimana komentar Indra Tjahyadi terhadap novel saya, silahkan klik pada tautan di bawah ini:

https://bonx.wordpress.com/2011/05/09/foucauldian-ala-lan-oleh-indra-tjahyadi-2/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: