REINKARNASI TAK HARUS DITANDAI DENGAN KEMATIAN TUBUH oleh Sonea Harry


Judul Buku : LAN
Penulis : Stebby Julionatan
Penerbit : Bayumedia Publishing
Edisi : Cetakan 1 – Januari 2011
Tebal : 202 + viii halaman
ISBN : 978-602-97763-7-9

Menjadi dewasa memang tidaklah gampang. Ada proses yang harus dilalui oleh seorang anak manusia, menjadi remaja, anak di usia tanggung. Mungkin hal itulah yang ingin disampaikan oleh penulis dalam novel ini. I’m not a boy not yet a man. Selain perubahan fisik, menjadi seorang anak usia tanggung menuntutnya untuk menjalani proses pencarian jati diri. Dan pencarian jati diri ini tentu tidaklah mudah, ada banyak masalah, kendala dan persinggungan dengan berbagai pihak yang harus dihadapi dengan cara yang dewasa.

Di awal bab, dibuka dengan pertemuan Erlan dan Maria, ketika Erlan bingung tidak menemukan angkutan umum yang akan mengantarnya pulang. Maria yang diam-diam memperhatikan Erlan sejak kedatangannya ke Indonesia untuk mengikuti pertukaran pelajarr, menghampiri Erlan dan menawarkan tumpangan kepadanya. Namun ternyata pertemuan yang singkat itu, mampu membuat keduanya jatuh cinta. Ternyata itu bukan pertemuan pertama bagi mereka. Di kehidupan mereka terdahulu, mereka pun pernah bertemu (baca: berulang kali bertemu, bahkan sengaja dipertemukan dan lalu dipisahkan).

“Inilah harga yang harus kami bayar, bahwa satu-satunya jalan menempuh kehidupan milik sendiri adalah dengan kematian.” Kematian (baca: reinkarnasi) tidak selalu identik dengan kematian fisik. Reinkarnasi, proses kematian menuju pada sebuah kehidupan kembali, bisa juga berlangsung pada pikiran manusia. Untuk mengalami, untuk belajar mengenali, dan untuk tahu tentang siapa diri mereka sebenarnya, ternyata memang mereka, Erlan dan Maria, berulang-ulang kali harus mati. Di sini kita seakan diingatkan sebuah istilah Zen “kosongkanlah cawanmu”. Penuh itu kekosongan dan kosong adalah sebuah kondisi yang penuh. Dengan kata lain, jika kita ingin belajar, atau katakanlah mencari siapa sebenarnya jati diri kita, maka selayaknya kita bersikap seperti seorang anak kecil yang polos, yang belum mengetahui apapun, sehingga kita bisa memahami segala sesuatunya, pelajaran yang diberikan Hidup dengan lebih baik.

Bagi pembaca awam, kesulitan yang akan segera kita temui saat membaca novel ini adalah pada bab-bab yang dimasukkan oleh penulis seperti bagian (baca: sub-bab) dari bab pertamanya, Di Sudut Pikiran. Dari Bab II hingga Bab IX, terkesan seperti cerita, kumpulan cerpen, yang berdiri sendiri dan keluar dari tataran alur novel ini. Tapi ketika kita kembali cermati di Bab XV, Kebenaran Itu Kini Terungkap, baru kita memahami benang merah yang ditawarkan penulis saat Erlan berusaha menyelamatkan Maria yang tengah tenggelam.

Selain itu pemakaian gaya bahasa yang digunakan oleh Erlan, Maria, Galih dan tokoh-tokoh lainnya yang ada dalam novel tersebut, terkesan mendahului usianya. Memang tidak aneh, ketika ada seorang remaja yang berpikir dan berpenampilan mendahului usianya, namun itu hanya 1001 saja. Apalagi bagi remaja yang termasuk ke dalam kriteria Z Generation (sebuah istilah yang digunakan oleh William Strauss dan Neil Howe untuk mewakili lahirnya sebuah generasi), bahasa yang umumnya mereka gunakan cenderung lebih alay bin narsis.

Secara umum, LAN merupakan novel yang wajib untuk dibaca, apalagi bagi yang menyukai karya sastra dengan genre surealis dan tema pencarian jati diri seperti ini. Disamping itu ada sebuah kebanggaan tersendiri ketika melihat salah satu dari sekian banyak anak muda di Kota Probolinggo yang dengan begitu bangganya memperkenalkan kota kita tercinta ini ke dalam sebuah karya sastra. (Ne’)

*Peresensi adalah pembaca dan penikmat buku

dipublikasikan di majalah Link Go.

Advertisements

12 Responses to “REINKARNASI TAK HARUS DITANDAI DENGAN KEMATIAN TUBUH oleh Sonea Harry”

  1. Eddy & Lulu Says:

    dag Stebby we willen jou graag sponseren zodat je aan een nieuw book kunt werken,als tante lulu terug in Indonesie is zal ze jou financeel bij staan voor je nieuwwe book.

  2. settingnya di Probolinggo?
    bagus juga ambil setting kota kecil gini.

  3. Menarik. Mungkin buku ini dapat kami jadikan bahan diskusi (meskipun tidak terkait dengan filem).

    Salam,
    Kelompok Diskusi Filem A.I.G.?

    • terima kasih A.I.G.? untuk kesediaannya menjadikan buku saya sebagai bahan diskusi kalian. salam kenal ya… :)) dan sekalian nih, saya juga mohon ijin juga untuk mencantol blog anda di daftar link saya… terima kasih sebelumnya ya…

  4. I want to post quick hello and want to say appriciate for this good article…

  5. Nur Halimahtus Sa'dia Says:

    steb, aku udah baca LAN

    • sip… sekarang tinggal komentarnya…

      • Nur Halimahtus Sa'dia Says:

        1. cari editor baru, byk ejaan yg salah, ganggu bgt
        2. krg panjang n lebar ceritanya, terkesan terburu2 mengakhiri cerita, otomatis krg tebal..
        3. kamu bikin aku membayangkan kota2 itu, gmn kehidupanx, jd berfantasi sndr
        4. jauh2 dari pisau belati n tali ya
        hehe… tar kl krg blh q tambah

  6. kalau dilihat dari covernya yang abstrak sekilas isinya sepertinya bagus dan teman saya ini punya daya imajinasi yang sangat bagus dalam merangkai kata-katanya ditiap-tiap bab novel yang ditulis, novel bagus banget walaupun tebalnya hanya 201 lumayan menemani saya di weekend kali ini dan menambah koleksi buku saya lagi.

  7. Rere Retno Anjani Says:

    I already received your book anyway, and I was read it. Hahaha… What a adorable story’s! My tummy got numb, when I read about Galih, ouw Dear… Defenitely adorable… but some makes me cry, Bro. I think you’re to make people flouded up their emotions.when they read these book.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: