SDN KEDUNGASEM IV, BELAJAR UNTUK MENGUBAH POLA PIKIR


SDN Kedungasem IV boleh jadi adalah sekolah yang ada di kawasan pinggiran Kota Probolinggo, tapi soal memotivasi para siswanya dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) yang bakal digelar bulan April mendatang, sekolah ini punya banyak terobosan yang “tidak pinggiran”.

Kalau dua minggu lalu (28/2), sekolah bertingkat yang terletak di jalan Lumajang tersebut mengundang Bardun Nadzip, SE., seorang pakar hipnoterapi dari Shamany Foundation untuk menggelar hipnomotivasi –salah satu cabang hipnoterapi, maka Senin kemarin (14/3), sekolah yang baru 3 minggu ini dipimpin oleh Agus Lithanta, S.Pd. M.Pd., mengundang Ali Wahyono, S.Sos., penyandang tuna daksa, untuk didaulat sebagai pembina upacara dalam upacara bendera yang senantiasa dilaksanakan di sekolah-sekolah setiap hari Senin.

Dalam upacara bendera yang digelar sekitar pukul 07.00 WIB dan diikuti oleh seluruh warga sekolah SDN Kedungasem tersebut, Ali Wahyono dalam amanatnya menyampaikan pentingnya belajar.

“Di tengah segala keterbatasan yang kakak miliki, proses belajar yang kakak harus jalani sungguh tidak mudah. Tapi itu harus terus kakak lakukan hingga ke jenjang pendidikan tinggi agar kakak bisa mengubah hidup kakak.” Ujar alumnus FISIP UNEJ tahun 2001 ini, yang membiasakan sebutan kakak untuk dirinya, kepada murid-murid SDN Keduangasem IV.

“Kalau biasanya waktu adalah uang, tapi sekarang, bagi adik-adik, haruslah menjadi waktu adalah ilmu.” Lanjut Ali yang kali ini lebih dikhususkan kepada siswa-siswi yang duduk di kelas VI.

“Setiap manusia memiliki keterbatasannya. Tapi dengan adanya keterbatasan itu, janganlah dibuat sebagai hambatan. Melainkan harus kita gunakan sebagai suatu kelebihan kita, sebagai kekuatan.” Tegas Ali dalam upacara yang dihadiri juga oleh anggota Paguyuban dan Komite Sekolah.

Kenapa Ali Wahyono? Apa yang membuat seorang Ali Wahyono ini begitu berbeda hingga pilihan sebagai pembina upacara itu harus jatuh ke tangannya padahal kita tahu di luar sana banyak para penyandang tuna daksa yang bernasib seperti Ali? Kepada Suara Kota, Kepala Sekolah SDN Kedungasem IV, Agus Lithanta menjelaskan bahwa Ali Wahyono mungkin adalah satu-satunya dari sekian banyak penyandang tuna daksa yang mempunyai pola pikir yang sangat unik.

“Beliau adalah sosok yang unik. Saya ingat pada pertemuan pertama saya dengan beliau, saya langsung terpukau dengan pola pikir beliau yang unik. Mas Ali Wahyono ini pernah bilang kepada saya bahwa tak mengapa meski seandainya ia sekolah tanpa mendapatkan ijasah. Atau ijasahnya tak diambil. Sebab bagi beliau, belajar adalah untuk mengubah pola pikir.” Jelas Agus yang ditanggapi dengan anggukan penuh haru oleh Ali.

“Meski kondisinya seperti ini, Mas Ali ini tidak ingin hidupnya bergantung pada rasa kasihan orang lain. Beliau ingin membuktikan bahwa meskipun cacat, beliau penyandang tuna daksa, beliau dapat berprestasi seperti anak normal pada umumnya. Buktinya dia bisa melanjutkan pendidikannya sampai ke perguruan tinggi dan meraih titel sarjana.” Lanjut Agus Lithanta.

“Dan semangat inilah yang ingin saya tularkan kepada murid-murid saya. Istilahnya, kalau Mas Ali saja bisa, kenapa murid-murid saya, siswa dan siswi SDN Kedungasem IV, tidak bisa berprestasi sama bahkan lebih baik dari Mas Ali.” Ujar Agus menjawab tentang harapannya sekaligus menutup wawancara pagi itu dengan Suara Kota. (stebby)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: