INVESTASI KESEHATAN MELALUI PENCANANGAN ZERO SEVERE MALNUTRITION 2015


Investasi tidak hanya terbatas pada pembangunan infrastuktur yang berupa fisik belaka namun juga pada peningkatan sumber daya manusia (SDM), baik dari segi pendidikan maupun kesehatan. Dan di Indonesia, salah satu kendala penghambat pertumbuhan investasi SDM yang ada adalah permasalahan gizi buruk pada balita. Akibat gizi buruk, banyak balita yang mengalami penurunan tingkat kecerdasan, terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan serta menurunkan produktivitas.

Secara langsung gizi buruk pada balita disebabkan oleh kurangnya asupan makanan dan infeksi penyakit. Sedang secara tak langsung, penyebab gizi buruk adalah ketersediaan pangan, sanitasi, pelayanan kesehatan, pola asuh, kemampuan daya beli keluarga, pendidikan dan pengetahuan.

Mencuatnya kembali pemberitaan mengenai balita gizi buruk yang ditemukan dan meninggal di media massa akhir-akhir ini, menunjukkan sistem surveilans dan penanggulangan dari berbagai instansi terkait belum optimal. Gizi buruk masih merupakan masalah yang perlu penanganan serius dari berbagai pihak termasuk pemerintah. Untuk menjawab tantangan itulah, Pemerintah Kota Probolinggo, Senin kemarin (28/2), menggelar pencanangan Respon Cepat Penanggulangan Gizi Buruk Menuju Zero Severe Malnutrition (ZSM) Tahun 2015 di Puri Manggala Bakti, Kantor Walikota Probolinggo.

“Penyebab gizi buruk tidak hanya didominasi oleh keluarga miskin, namum juga masyarakat kelas menengah ke atas, ibu-ibu yang cantik-cantik ini, yang memiliki pengetahuan yang kurang tentang gizi dan kesehatan balita.” Terang Ketua Panitia Pelaksana Kegiatan ZSM, dr. Budi Purwohadi, Sp.PD, M.MKes. kepada Suara Kota.

Sebagaimana yang lebih lanjut dijelaskan oleh dr. Budi Purwohadi bahwa kurangnya pengetahuan itu, antara lain: pemberian ASI pada balita yaitu minimal 6 bulan semenjak masa kelahiran bayi, balita tidak mendapatkan makanan pendamping lainnya selain ASI, balita tidak segera mendapatkan penanganan kesehatan kalau sakit, menjadi perokok pasif karena orang tuanya (biasanya ayah) adalah perokok berat serta kepedulian orang tua dalam memanfaatkan layanan kesehatan berupa imunisasi dan posyandu secara baik dan maksimal.

Kegiatan yang bertujuan untuk menangani kurangnya asupan gizi secara dini pada balita gizi buruk yang ada di Kota Probolinggo melalui tatalaksana yang tepat dan cepat ini dicangangkan oleh Wakil Walikota Probolinggo, Drs. Bandyk Soetrisno, M.Si.

Acara yang dimulai sekitar pukul 08.30 WIB ini juga dihadiri oleh   anggota Forum Komunikasi Pimpinan Daerah, Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Wakil Ketua Tim Penggerak PKK, Ketua Dharmawanita Persatuan, para pimpinan SKPD, para donatur serta 366 ibu dan balita yang menderita gizi buruk di Kota Probolinggo.

“Prioritas pembangunan Pemkot (Probolinggo, red.) adalah Pendidikan dan Kesehatan. Pendidikan yang baik menunjang kesehatan yang baik. Begitupun sebaliknya, kondisi kesehatan yang baik pada balita, tentunya dapat menunjang generasi muda penerus bangsa ini untuk meraih pendidikan yang gemilang.” Ungkap Walikota Bandyk Sutrisno dalam sambutannya.

Berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan Pemerintah Kota Probolinggo melalui Dinas Kesehatan, antara lain: revitalisasi posyandu dalam meningkatkan cakupan penimbangan balita, penyuluhan dan pendampingan pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) atau Pemberian Makanan Tambahan (PMT), peningkatan akses dan mutu melalui tata laksana gizi buruk di Puskesmas Perawatan dan Rumah Sakit serta penanggulangan penyakit menular dan pemberdayaan masyarakat melalui keluarga sadar gizi (Kadarzi).

“Saya dapat laporan, dari 38 kota/kabupaten yang ada di Jawa Timur, Kota Probolinggo masuk dalam level atau peringkat 10 dari bawah dalam tingkat kesehatan masyarakat. Tentunya ini PR (pekerjaan rumah, red.) yang harus segera dirampungkan.” Harap Wawali Bandyk Sutrisno di hadapan para peserta dan undangan yang hadir.

Nantinya, 366 balita yang ditengarai mengidap gizi buruk ini (baik yang termasuk dalam kategori marasmus, kwasiorkor dan marasmik kwasiorkor) akan mendapatkan bantuan PMT berupa susu selama 90 hari.

Saat disinggung mengenai PR yang sempat diungkapkan Wawali Bandyk Sutrisno pada sambutannya tersebut, dr. Budi Purwohadi menjelaskan bahwa kegiatan ZSM ini adalah salah satu upaya mendongkrak angka level kesehatan masyarakat tersebut.

“Level kesehatan masyarakat tersebut dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Provinsi (Jawa Timur, red.). Macam-macam kriteria yang masuk di dalamnya, ya imunisasinya, ya seperti ini, gizinya, juga termasuk di dalamnya. Dan kegiatan seperti ini, ZSM ini adalah salah satu upaya untuk mendongkrak level kesehatan masyarakat yang ada di Kota Probolinggo,”

“Ke depan, program ini diharapkan tidak hanya berhenti di sini saja, tapi merupakan program yang keberlanjutan sehingga tercipta infrastruktur sumber daya manusia di Kota Probolinggo yang hebat,”

“Katakanlah kita “bermimpi” bahwa di tahun 2015 nantinya angka balita gizi buruk di Kota Probolinggo menjadi nol, menjadi zero. Dan tentunya kegitan ini tidak bisa dilakukan sendiri, perlu dukungan dari warga masyarakat, dari ormas (organisasi masyarakat, red.), dari LSM, dan dari para donatur yang ada.” Jelas dr. Budi Purwohadi mengakhiri wawancaranya dengan Suara Kota. (stebby)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: