PROBOLINGGO GELAR KONGRES ABMP PERTAMA DI INDONESIA


Abang becak  abang becak ditengah jalan
Cari muatan untuk mencari makan
Putar putar putar putar  kaki mengayuh
Pergi jauh keringatpun lalu jatuh
Dari pagi hingga matahari terbenam
Barat timur selatan serta utara
Hujan panas tiada merintangimu
Abang becak, abang becak, abang becak…

Penggalan lirik lagu diatas tentu masih Anda ingat bukan? Ya, lagu abang cecak ini tepat sekali menggambarkan bagaimana perjuangan para tukang becak yang tak kenal lelah dalam mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Tak peduli apakah saat itu mentari tengah berada di atas kepala atau ditengah guyuran hujan sekalipun, abang becak terus mengayuh pedal becaknya kuat-kuat agar para penumpangnya bisa sampai ke tempat tujuan dengan selamat.

Abang Becak

Keberadaan tukang becak dalam komunitas perkotaan memang merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari, mengingat kota memiliki daya tarik yang mampu memberikan harapan bagi semua orang untuk mencari nafkah dan menghidupi keluarganya. Dan salah satu peluang kerja yang mudah dilakukan di tengah lingkungan perkotaan adalah menarik becak.

Fenomena ini tentunya berkembang menjadi permasalahan sosial tersendiri sehingga mengakibatkan pemandangan yang kurang menarik di sudut-sudut kota, mulai dari pelanggaran terhadap lalu lintas yang kerap dilakukan oleh tukang becak seperti melawan arus lalu lintas, penggunaan badan jalan untuk parkir maupun parkir diatas trotoar yang sangat mengganggu para pengguna jalan. Dan kondisi ini menjadi buah simalakama bagi pemerintah. Kebijakan menghapus keberadaan abang becak tidaklah tepat sementara pemerintah belum mampu menyediakan lapangan pekerjaan bagi mereka.

Menurut data yang baru-baru ini dikumpulkan oleh Badan Perencanan Pembangunan Daerah (Bappeda), secara keseluruhan jumlah abang becak di Kota Probolinggo mencapai angka lebih dari 5.000 orang yang tersebar di 110 pangkalan / janggolan. Hal ini berarti terjadi kenaikan jumlah abang becak yang cukup signifikan dari tahun-tahun sebelumnya (Tahun 2008: 1.313 orang), mengingat belum ada kebijakan yang membatasi keberadaan abang becak di Kota Probolinggo.

Terlepas dari adanya permasalahan yang ditimbulkan akibat keberadaan abang becak yang menjadi beban kota, patut disadari bahwa keberadaan mereka diperlukan dan perlu penanganan secara bijaksana untuk secara konsiten dilakukan penertiban yang tumbuh dari kesadaran mereka sendiri. Selain itu, keberadaan komunitas abang becak ini merupakan potensi dan peluang bagi upaya pemberdayaan masyarakat melalui upaya reduksi dan kebijakan alih profesi oleh Pemerintah Kota Probolinggo.

Terkait hal tersebut diatas, pada Jum’at dan Sabtu, 11&12 Februari 2011 lalu, Pemerintah Kota Probolinggo menggelar Kongres Abang Becak Merencanakan Pembangunan (ABMP) Kota Probolinggo Tahun 2011. Kegiatan yang bertujuan menampung aspirasi dari para tukang becak ini dihadiri oleh 200 orang perwakilan abang becak yang ada di Kota Probolinggo.

Respon yang sangat baik dari seluruh kalangan rupanya juga melingkupi kongres yang digelar di Gedung Puri Manggala Bhakti Kantor Walikota Probolinggo siang itu. Terbukti, pada kongres yang dimulai sekitar pukul 14.00 WIB tersebut, dukungan dan kehadiran dari BAPPEMAS Provinsi, serta biro kesra Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, seluruh jajaran SKPD, sponsor, donator, BUMN, BUMD, dan kalangan perbankan juga mewarnai dan memeriahkan gelaran kongres.

“Keberadaan abang becak di Kota Probolinggo sendiri secara riel telah menjadi komunitas yang menjadi bagian dari proses pembangunan. Oleh karena itu, dalam rangka meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan dan menumbuhkan kesadaran komunitas becak untuk turut serta merasa memiliki dan menjadi bagian dari proses pembangunan Kota Probolinggo diselenggarakan forum komunikasi yang memungkinkan tumbuhnya pemikiran-pemikiran abang becak untuk berpartisipasi dalam perumusan pembangunan kongres Abang becak Menuju Pembangunan (ABMP) Kota Probolingo Tahun 2011.” Begitulah Laporan Ketua Panitia penyelenggaraan Kongres ABMP 2011 yang disampaikan oleh Kepala Bidang Dalitbang di Bappeda Kota Probolinggo, Aman Suryaman, AP., MM.

Tiba pada Sambutan Walikota, Walikota Probolinggo, HM. Buchori, SH. M.Si. pun memberikan sedikit penjelasan tentang tujuan kongres dengan menggunakan bahasa Madura.

“Saya pakai bahasa Madura saja. Maaf, karena 95 persen para tukang becak ini memakai bahasa madura,” Jelas Walikota Buchori kepada para undangan yang hadir.

“Ada-ada saja kongres! Baru kali ini ada istilah kongres tukang becak. Biasanya, kongres banyak dipakai oleh partai. Mungkin, ini satu-satunya di Indonesia.” Ungkap Walikota Buchori penuh senyum. Bahkan Walikota Buchori pun sampai geleng-geleng kepala sebanyak 3 kali selama memberi sambutan dan membuka Kongres ABMP Kota Probolinggo Tahun 3011 tersebut.

Memang istilah “kongres” biasanya lekat kaitannya dengan partai. Dimana arti kongres menurut Wikipedia.com adalah kumpulan orang, terutama untuk tujuan politik.

Walikota yang pernah mbecak itu mengatakan, dulu nasib para abang becak ini masih bisa dikatakan baik. Dalam sehari masih bisa memuat penumpang sampai 15 kali. Tapi saat ini kondisinya berbeda. “Sekarang jangankan 15 kali, 2 kali saja sudah bersyukur.”

Penyebabnya, masih menurut Walicota Buchori, saat ini banyak masyarakat yang mempunyai kendaraan pribadi sehingga mengurangi jumlah warga masyarakat yang menggunakan becak sebagai sarana transportasi.

“Mangkanah, mangken pol-kompol. Epapolong de’ remah pean nekah bisa alih profesi (Karena itu, sekarang ngumpul. Dikumpulkan bagaimana Anda Bisa alih profesi)” ujar Walikota Buchori yang mengaku pernah melakoni profesi sebagai abang becak pada tahun 1971-1973 tersebut.

“Dhelem acara nekah, pean koduh usul. Napa se koduh elakoneh. (Dalam acara ini, Anda harus mengajukan pendapat. Apa yang harus dilakukan)”

Tak lupa Walikota Buchori juga mengingatkan kepada 200 abang becak yang hadir di siang hari itu untuk tidak lupa beribadah kepada Allah SWT. Sebab menurutnya, meski sudah bekerja keras, tapi lupa pada Allah, maka rejekinya akan seret. “Kalau sudah tiba waktunya lohor (duhur), bektonah sholat (waktunya sholat), ya pulang, (untuk, red.) sholat. Berhenti dulu mbecaknya. Kalau kebersihan diperhatikan dan ingat Allah, insyaallah apapun keinginan kita pasti keturutan”

Walikota Buchori juga meminta kepada para baban becak tersebut untuk tidak pastrah dan mau berubah untuk menjadi lebih baik. “Jangan sampai sampean punya anak juga jadi tukang becak. Cukup pean saja. Kalau bisa sampean alih profesi.”

Dalam kesempatan tersebut memang Walikota Buchori tak henti-hentinya mengingatkan kepada para perwakilan abang becak yang ada di Kota Probolinggo tersebut bahwa mbecak bukanlah jaminan untuk kesejahteraan keluarga. Karena itu Walikota Buchori mengharapkan para tukang becak tersebut untuk bisa alih profesi pada pekerjaan yang lebih baik seperti berjualan tempe ataupun membuka bengkel.

Lebih dari itu, Walikota Buchori berharap gelaran kongres tersebut dapat membawa banyak manfaat. “Jangan punya pikiran, dengan ikut kongres ini sampean bakal dapat uang. Tapi, hasilnya apa. Nanti kalau sampean berminat alih profesi, becaknya akan diambil. Diberi modal dan pembinaan oleh pemerintah tapi, itu tadi, becaknya diambil. Sebab kalau tidak diambil nanti pean akan balik mbecak lagi.”

Menutup sambutannya, Walikota Buchori pun mengapresiasi gelaran kongres yang dipimpin oleh Bappeda itu. Menurutnya, acara tersebut bisa digelar rutin setiap tahun. Dengan catatan, ada penurunan jumlah abang becak. Lebih dari itu, Pemerintah Kota Problinggo juga hendak meringankan beban abang becak dengan mengratiskan para abang becak peserta kongres tersebut dari pajak bumi dan bangunan (PBB).

Ditanya tentang ide yang sempat membuat Walikota Buchori geleng-geleng kepala dalam menyampaikan sambutannya, Kepala Bappeda, Ir Budi Krisyanto, M.Si. menjelaskan bahwa gelaran Kongres ABMP 2011 Kota Probolinggo tersebut terkait dengan visi prtisipatif dan inovatif yang dimiliki oleh Bappeda dan juga program peningkatan kualitas partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

“Dan yang namanya partisipasi masyarakat itu bisa datang dari mana saja. Bisa dari ulama, stake holder, juga dari komunitas abang becak.” Jelas Budi Krisyanto kepada Suara Kota di sela-sela pelaksanaan ABMP 2011 Kota Probolinggo.

“Melalui kongres becak ini, kemudian baru bisa kami (Bappeda, red.) diidentifikasi minat dari para abang becak untuk alih profesi. Seperti apa yang disampaikan Bapak Walikota kemarin dalam sambutannya, alih profesi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan. Dan tentunya bagi 6 SKPD yang tergabung dan berkompeten (BLH, Dishub, Satlantas, Dispobpar, Diskoperindag dan Disnaker, red.) dapat membina para abang becak dengan menindaklanjuti rekomendasi program dan kegiatannya sehingga tercipta kondisi yang kondusif bagi tumbuhnya perekonomian masyarakat”

Saat Suara Kota bertanya mengenai harapan, Budi Krisyanto mengungkapkan bahwasannya setelah gelaran kongres ABMP ini, para abang becak dapat semakin terlibat dalam pembangunan di Kota Probolinggo. Muncul peningkatan peran abang becak dalam hal kebersihan, tertib berlalu lintas, menunjang gerakan sadar wisata dan juga adanya potensi untuk alih profesi.

“Outputnya adalah peran dari paguyuban. Yang meliputi kebersihan lingkungan (BLH), tertib lalu lintas (Dishub & Satlantas), penunjang pariwisata (Dispobpar) dan minat alih provesi (Diskoperindag dan Disnaker)” Terang Budie Krisyanto kepada Suara Kota.

Pembicara dalam kongres yang baru diadakan untuk yang pertama kalinya di Kota Probolinggo ini, diantaranya: Polresta yang menyampaikan ketertiban dan etika berlalu lintas, Dishub menyampaikan keselamatan dalam berlalu lintas, Dispobpar memaparkan tentang pariwisata dan Jamsostek menyampaikan materi kecelakaan tenaga kerja. Sementara Diskopindag menyampaikan pra koperasi dan penguatan modal serta Disnaker menyampaikan tentang alih profesi bagi abang becak mengingat usia yang semakin bertambah mengakibatkan berkurangnya tenaga untuk mengayuh becak.

ABMP 2011 HASILKAN KOMITMEN ABANG BECAK DALAM PEMBANGUNAN KOTA

Kongres Abang Becak Menuju Pembangunan (ABMP) Kota Probolinggo yang berlangsung selama 2 hari (11-12 Februari 2011) kemarin, terlahir 18 harapan dan 17 komitmen abang becak terhadap pembangunan kota yang meliputi permasalahan sosial, kesejahteraan, ketenagakerjaan, perhubungan, lingkungan hidup dan pariwisata.

Melalui diskusi kelompok yang dilaksanakan di mulai pukul 08.30 WIB pada hari kedua pelaksanaan Kongres ABMP, para perwakilan abang becak di Kota Probolinggo yang berjumlah 200 orang itu dibagi ke dalam 6 kelompok, dimana masing-masing kelompok membahas permasalahan sesuai dengan tema, bidang dan materi yang dikajinya, antara lain: Struktur dan Aturan Organisasi; Program Kerja Umum dan Paguyuban Abang Becak; Pemetaan Permasalahan yang Dihadapi dan Tawaran Solusi Bagi Abang Becak; Pemetaan Peran Abang Becak dalam Menjaga Etika Berlalu Lintas; Pemetaan Peran Abang Becak dalamm Menjaga Kebersihan Jalan dan Pemetaan Peran Abang Becak dalam Memajukan Pariwisata di Kota Probolinggo.

Dari Kelompok I terlahir 5 harapan, Kelompok II ada 7 harapan, 6 harapan dari Kelompok III, Kelompok IV menghasilkan 9 komitmen, muncul 4 komitmen di Kelompok V dan Kelompok VI yang merekomendasikan 6 harapan.

Sebagai contoh, dalam pembahasan dan diskusi kelompok yang terjadi di Kelompok V, yang membahas mengenai Pemetaan Peran Abang Becak dalam Kebersihan Lingkungan, menghasilkan beberapa usulan, diantaranya: para abang becak tersebut barharap pemerintah dapat memfasilitasi pengecatan dan adanya keseragaman warna cat becak yang ada di Kota Probolinggo agar becak tersebut nampak lebih menarik bagi para wisatawan dan dapat digunakaan sebagai becak wisata. Ada pula harapan agar disediakan tempat sampah di setiap janggolan. Peningkatan keterampilan para abang tukang becak, khususnya di bidang penguasaan bahasa Inggris juga menjadi salah satu harapan mereka. Selain itu, para abang becak tersebut berharap terbentuknya koperasi bagi tukang becak dan adanya bantuan pendidikan atau pemberlakuan pendidikan murah bagi keluarga para abang becak.

Untuk komitmen, para abang becak yang diketuai oleh Toyan –abang becak yang tinggal di daerah Jrebeng Wetan dan dipandu oleh Ir. Yoyok Imam, MM. dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) kota Probolinggo tersebut, berkomitmen untuk peduli dan menjaga kebersihan lingkungan di sekitar janggolan, menjaga kebersihan taman kota, bahkan mereka juga berkomitmen untuk bersedia mengingatkan para abang becak lainnya dan para pelanggan mereka untuk menjaga kebersihan jalan.

Di bidang lalu lintas, para abang becak yang tergabung di Kelompok VI siap untuk menaati segala peratuaran lalu lintas, mereka juga siap ditindak bila mereka kedapatan melanggar peraturan lalu lintas. Tak hanya itu, para abang becak yang diketuai oleh Mahfud –abang becak yang tinggal di Jalan Lumajang ini juga berkomitmen untuk menjadi contoh bagi abang becak lainnya dalam disiplin berlalu lintas dan sanggup untuk melayani penumpang mereka dengan baik.

Setelah ishoma, diskusi kelompok kemudian dilanjutkan dengan Sidang Pleno. Dalam sidang pleno yang dipandu oleh Sukardi Mitho, Manager Pengelola Banger Telecenter yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Kota Sehat Probolinggo 2011, merumuskan juga pembentukan Paguyuban Abang Becak. Dalam sidang pleno yang berakhir sekitar pukul 15.30 WIB ini akhirnya menetapkan Miskan dari Jrebeng Lor sebagai Ketua Paguyuban Abang Becak dan Sukardi Mitho sendiri sebagai pembina mereka.

Aman Suryaman, yang juga menjabat sebagai Ketua Panitia Kongres ABMP Kota Probolinggo Tahun 2011, dalam laporan penutupannya mengatakan program atau kegiatan paguyuban abang becak hasil kongres yang disepakati adalah adanya pendataan anggota paguyuban tukang becak, pembuatan kartu anggota paguyuban tukang becak, dan pemberian SIM serta STNK gratis bagi 200 perwakilan abang becak peserta kongres.

Selain itu, juga mengikutsertakan abang becak sebagai peserta jamsostek, peningkatan kelengkapan dan keselamatan becak, seperti: lampu reflektor, rem, ban cadangan, ruji, peleng, pompa, spion dan baju jas hujan. “Juga peningkatan usaha di setiap janggolan seperti ada kios rokok, tambal ban dan bengkel.” Imbuhnya.

Hasil kongres ini nantinya diharapkan mendapat respon dari Dinsos Provinsi Jatim Dan BAPPEMAS serta Biro Kesra Provinsi Jatim melalui pengalokasian kegiatan-kegiatan penanganan masalah sosial termasuk abang becak di Kota Probolinggo mengingat Pemkot sangat berkomitmen dalam melaksanakan program-program yang didalamnya meliputi penanganan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat, agar supaya pelaksanaannya nanti dapat berjalan sinergis antara Masyarakat, Pemkot Probolinggo, Pemprov dan Pemerintah pusat. Selain itu, dari kongres ini dapat menghasilkan rumusan rencana program pembangunan Kota Probolinggo serta program kerja paguyuban abang becak yang dapat dilaksanakan demi menciptakan masyarakat Kota Probolinggo yang sejahtera. (stebby/Ne’)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: