GEMA INSAN: “SEBENARNYA PILIHAN ADA DI TANGAN KITA, NAMUN KITA SENANTIASA TIDAK MEMILIH.”


Oleh:
Stebby Julionatan, Staff Humas dan Protokol Kota Probolinggo.

Tahun 2010, siapa yang tak kenal dengan kehebohan kasus video porno “mirip” artis? Kasus video porno “mirip” artis Luna Maya, Cut Tari dan Ariel Peterpan memang sangat meresahkan masyarakat. Sejak merebaknya video porno “mirip” artis tersebut, banyak orang termasuk anak-anak dan remaja dibuat penasaran. Rasa keingintahuan mereka yang tinggi, utamanya terhadap hal-hal yang berbau artis idola mereka, membuat anak-anak dan remaja ini ingin melihat secara langsung video porno “mirip” artis tersebut. Warnet-warnet dikabarkan marak dipenuhi pengunjung , termasuk anak-anak dan remaja ini.

Keresahan masyarakat terhadap dampak negatif perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) tentunya bukan semata urusan video porno dan pemblokirannya. Ada banyak kasus “serupa tapi tak sama” yang nyata-nyata juga merupakan dampak negatif penggunaan TIK di tanah air. Kita tentu masih ingat tentang e-mail panjang Prita Mulyasari yang berisi keluh-kesahnya terhadap pelayanan RS. OMNI Internasional hingga mengakibatkan kasusnya berbuntut panjang pula, ada juga kasus sumpah serapah artis Luna Maya di akun jejaring sosial Twitter miliknya dan yang tak kalah kontroversialnya lagi adalah analogi “mirip Yesus” Menkominfo Tifatul Sembiring saat dia berpendapat tentang kasus video porno “mirip” artis tersebut.

Penyebaran foto/video pribadi, penyebaran virus (termasuk adware, spyware, malware), berita bohong (hoax), kekerasan online, pencurian data (hacking), pembobolan rekening (phishing), penyebaran data pribadi yang berujung pada kasus penipuan dan penculikan maupun sebagaimana yang tertulis pada UU ITE Pasal 27 yakni segala bentuk pendistribusian dokumen elektronik yang memiliki muatan melanggar kesusilaan, perjudian, penghinaan atau pencemaran nama baik dan memiliki muatan pemerasan atau ancaman terhadap seseorang atau kelompok adalah beragam contoh dampak negatif kemajuan TIK.

Terkadang memang menjadi sangat rancu hingga menimbulkan celah overperspektif saat UU ITE harus bertabrakan dengan hak kebebasan berekspresi sebagaimana tercantum dalam Pasal 28 UUD 1945 maupun Undang-Undang Perlindungan Konsumen (dimana dijelaskan bahwa hak dari konsumen untuk menyampaikan keluh kesah mengenai pelayanan publik, red.) seperti yang dialami oleh Prita mulyasari, Luna Maya maupun Menkominfo Tifatul Sembiring.

Komunikasi Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Memang ketika kita berkomunikasi termediasi dengan TIK sedemikian rupa, maka kegamangan rentan terjadi. Kita lebih banyak “berbicara” melalui perantara e-mail, twitter, facebook dan messenger ketimbang menggunakan lidah dan mulut untuk menghasilkan ucapan yang terdengar. Kita pun terasa lebih nyaman “berucap” dengan ujung jari, melalui keyboard laptop ataupun keypad BlackBerry, ketimbang harus menunjukkan bahasa tubuh (wajah) saat berkomunikasi.

Hal demikian mengakibatkan kita kehilangan total 93% faktor penting saat berkomunikasi, menurut sebuah penelitian seorang profesor dari UCLA, yaitu 38% faktor intonasi suara dan 55% faktor bahasa tubuh. Itulah faktor bahasa non-verbal yang hilang ketika kita berkomunikasi di dunia maya saat ini. Lantaran hanya bermodalkan pada sisa 7% yaitu bahasa verbal, maka wajarlah bila kita pahami bahwa apa yang sekedar terdengar atau tertulis dalam sebuah komunikasi ataupun ekspresi, bukanlah persis sesuai dengan apa yang dimaksud atau dituju oleh penyampai pesan.

Komunikasi bermediasi komputer (computer-mediated communication) dan Internet, disadari atau tidak, merekonstruksi cara pemahaman orang terhadap simbol-simbol komunikasi. Kini kita lebih percaya kesahihan bahasa verbal yang tertulis di facebook, twitter ataupun e-mail ketimbang lebih dahulu mencoba mencerna konteksnya.

Dulu, ketika proses komunikasi masih sesederhana tatap muka (face-to-face), konteks dapat dipahami dari bahasa non-verbal. Dengan memahami konteks, kita bisa lebih memiliki kelapangan hati dalam memahami kondisi si penyampai pesan. Apakah dia sedang bahagia, marah ataupun tertekan, bisa menjadi justifikasi kita untuk menilai utuh sebuah pesan yang disampaikan. Sekarang, kita seakan tidak peduli lagi. Pesan yang disampaikan seseorang kita nilai dingin sebagaimana pesan itu tertulis atau tersampaikan. Maka kini kita merasa lebih mampu menilai kepribadian dan niat seseorang hanya dari pesan tertulisnya, yang notabene hanya mewakili 7% faktor komunikasi, ketimbang mencoba menggali dan memahami konteks yang mengakibatkan adanya pesan tersebut.

Dalam pendekatan ilmu komunikasi bermediasi komputer, ditegaskan pula bahwa karena ketiadaan interaksi sosial secara fisik (tatap muka),  maka masing-masing pelaku komunikasi akan menciptakan sendiri kesan stereotipe dan persepsi ideal dari figur lawan berkomunikasinya. Inilah yang kemudian disebut sebagai sebuah bentuk hyperpersonal, ketika komunikasi yang sifatnya “personal” dipersepsikan sedemikan rupa oleh pihak lain, ketika tersampaikan melalui internet (e-mail, facebook, twitter, messenger, dan sebagainya). Bahkan persepsi yang timbul kemudian, bukan tidak mungkin menjadi makin kabur dari kenyataan yang sesungguhnya.

Gema Insan (Gerakan Nasional Internet Sehat dan Aman).

Guna menghalau semakin meluasnya berbagai dampak negatif dari penggunaan internet di tanah air dan juga mendukung perkembangan TIK Nasional, Kementerian Komunikasi dan Informasi bersama 3 Kementrian lainnya (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Agama, dan Kementerian Pendidikan Nasional), berbagai instansi pemerintah yang terkait, kalangan perguruan tinggi, komunitas TIK, para pemerhati dan sejumlah pakar yang peduli terhadap dampak negatif penggunaan internet mancanangkan Gerakan Nasional Internet Sehat dan Aman (Gema Insan) dalam Rakornas Kementrian Kominfo Tahun 2010 yang berlangsung di Jakarta pada tanggal 25 – 26 Oktober 2010.

Tujuan gerakan ini adalah untuk mensosialisasikan kepada masyarakat mengenai penggunaan internet secara sehat dan aman. Program sosialisasi ini menjadi salah satu agenda penting Kementerian Kominfo mengingat pertumbuhan internet di Indonesia telah melaju dengan sangat pesat dan menjadi bagian dari gaya hidup bagi sebagian besar penduduk Indonesia.

Kalau kita tilik dari data statistik yang ada saat ini, pengguna internet di dunia telah mencapai 1,9 miliar pengguna, yang berarti 28% dari keseluruhan penduduk dunia. Sedang di Indonesia sendiri, pengguna internet, baik sambungan tetap maupun mobile, mencapai 45 juta orang dan 64% di antaranya adalah anak-anak dan remaja yang berusia antara 15-19 tahun.

Dengan semakin meluasnya pemanfaatan TIK di berbagai sektor kehidupan masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja, tak bisa kita pungkiri telah menyebabkan semakin terbukanya peluang bagi penyalahgunaan TIK yang biasa kita kenal dengan istilah kejahatan dunia maya atau cybercrime.

Sejarah Internet Sehat di Indonesia

Gerakan Internet Sehat di Indonesia sebenarnya sudah muncul sejak 8 tahun silam. Di tahun 2002, Donny B.U, seorang wartawan IT detik.com yang juga seorang aktivis komunitas IT telah memprakarsai gerakan advokasi Internet Sehat “versi rakyat” (http://www.internetsehat.org) yang pro pada kebebasan berekspresi di internet secara aman dan bijak dengan pendekatan self-censorship dan pemberdayaan masyarakat.

Melalui organisasi non-provit yang ia didirikan bersama rekan-rekannya, ICTWatch memfokuskan diri pada publikasi media baru, penelitian, aktivitas kampanye sosial dan segala hal yang berkaitan dengan TIK. Bahkan di tahun 2009 lalu, lewat gerakan advokasi Internet Sehat yang berbasis kerakyatan ini, ITCWatch melalui Donny B.U telah mendapat pengakuan internasional pada Workshop OpenNet Initiative di Penang, Malaysia yang dihadiri pula oleh para pakar, peneliti dan juga aktivis TIK dari Universitas Toronto di Kanada, Sekolah Tinggi Hukum Havard-Amerika, Universitas Oxford dan Universitas Cambridge di Inggris.

DNS Nawala.

Pengamanan terhadap konten-konten negatif yang beredar via internet tersebut memang bukan pekerjaan yang mudah. Bukan seperti pekerjaan membalikkan telapak tangan. Guna mendukung gerakan Gema Insan tersebut, dari aspek teknis operasional Kominfo telah membentuk ID SIRTII (Indonesian Security Incident Response Team on Information Infrastructure) yang bertujuan melakukan sistem keamanan teknologi informasi, misalnya untuk mengawasi saat ada serangan atas data elektronik yang tidak dikehendaki.

Selain itu, Kominfo bersama dengan komunitas-komunitas lainnya, seperti perbankan, juga telah menggalakan adanya Computer Emergency Response Team, untuk mencegah kalau misalnya ada website dari kementerian yang tiba-tiba dirusak oleh orang yang tidak bertanggung jawab agar bisa untuk segera ditanggulangi dan diperbaiki.

Kemudian juga menyelenggarakan lomba INAICTA (Indonesia ICTAward) yang merupakan ajang lomba karya cipta kreativitas dan inovasi di bidang TIK berskala nasional, dimana lomba tersebut menumbuhkan konten-konten positif dengan membuat filter yang menyaring konten negatif.

Termasuk salah satunya adalah bekerjasama dengan AWARI (Asosiasi Warung Internet Indonesia) maupun PT Telkom Indonesia dalam Nawala Project (DNS Nawala) yang merupakan salah satu layanan sistem atau program aplikasi penyaring konten-konten negatif berdasarakan Domain Name System supaya seluruh pengguna PC maupun warnet-warnet di Indonesia hanya menyalurkan website-website yang positif saja dan membendung webesite-website yang negatif.

Bahkan tak tanggung-tanggung, dalam usahanya untuk menggalakkan gerakan Gema Insan, Kementrian Kominfo menggandeng 2 artis berbakat tanah air yakni Igor Saykoji dan Oki Setiana Dewi, pemain film Ketika Cinta Bertasbih sebagai Duta Gerakan Nasional Internet Sehat dan Aman.

Akhirnya, Pilihan Ada di Tangan Kita.

Karena sifatnya himbauan dan gerakan advokasi, maka baik pemerintah, pihak swasta, maupun organisasi masyarakat tidak dapat menerapkan sanksi bagi pengguna internet yang tidak memanfaatkan DNS Nawala atau software lain yang berfungsi membendung website-website negatif tersebut. Hal itu benar-benar menjadi pilihan bagi pengguna internet.

Di Probolinggo sendiri, seperti yang sempat diutarakan oleh Bayu Aji Widodo, Kepala PT. Telkom Indonesia cabang Probolinggo, pemanfaatan DNS Nawala masih sangat minim. Terutama untuk pengguna-pengguna personal. Untuk pengguna-pengguna kelompok atau komunitas, PT. Telkom Indonesia cabang Probolinggo masih dapat memberikan himbauan dan menjalin kerjasama dengan pihak-pihak tersebut, utamanya lembaga-lembaga pendidikan untuk menggunakan DNS Nawala yang dapat diunduh dan digunakan secara gratis oleh masyarakat.

Minimnya penggunaan DNS Nawala atau software sejenisnya ini disebabkan oleh dua hal: Pertama, ketidaktahuan user (pengguna internet) akan adanya dan cara penggunaan DNS Nawala dan software serupa lainnya. Kedua, adanya keengganan pada diri pengguna internet untuk berinternet sehat dan aman, karena memang dapat dipastikan setelah mereka mengaktifkan DNS Nawala atau software serupa lainnya ini, user tersebut tidak lagi dapat mengakses website-website bermuatan negatif. Yang terbaru, kita tidak mungkin lagi dapat mendownload foto-foto syur Debby Ayu saat ia berlari telanjang tanpa sehelai benang pun yang melekat di tubuhnya dalam film 13.

Seb enarnya pilihan ada di tanggan kita, namun kita senantiasa tidak memilh. Tentunya seluruh gerakan internet sehat, baik yang merupakan program dari pemerintah maupun gerakan advokasi yang berbasis kerakyatan, tak akan berhasil bila kita semua tidak mendukungnya. Taruhan kita untuk memenangkan “permainan” ini sangat berat. Yang kita pertaruhkan adalah akhlaq dan moral generasi muda Indonesia. Maka, keberhasilan gerakan ini sepenuhnya ada di tangan kita semua, seluruh masyarakat Indonesia. Dari sekian banyak layanan atau software penyaring yang ada, tak akan ada manfaatnya kalau kita sendiri tidak memulainya dari diri kita dan lingkungan yang ada di sekitar kita. Pertanyaannya sekarang, apakah diri kita sendiri mau berubah? (stebby)

[tulisan ini telah dimuat di majalah Link Go (Limited Edition 2010) terbitan bulan Desember 2010: Mari Dukung Gerakan Nasional Internet Sehat dan Aman.]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: