LARUNG SESAJI, WUJUD PELESTARIKAN BUDAYA LOKAL


“Menjaga kelestarian budaya lokal.” Ucapan itu tidaklah main-main. Kali ini rupanya Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata (DISPOBPAR) Kota Probolinggo benar-benar ingin menunjukkan tekad dan konsistensinya yang pernah mereka sampaikan dalam acara Sarasehan Budaya Pendalungan yang digelar di Museum Probolinggo pada hari Kamis kemarin (9/12), yakni sebagai sebuah lembaga pemerintah / instansi yang peduli terhadap kelestarian budaya lokal. Dan di antara ragam budaya lokal yang tersebar di khasanah pendalungan yang dimiliki oleh Kota Probolinggo yang kali ini mendapat perhatian khusus dari DISPOBPAR adalah pelaksanaan / prosesi Larung Sesaji yang tiap tahunnya digelar oleh Pirukunan Purwo Ayu Mardi Utomo (PAMU).

Pirukunan yang bersekretariat di jalan Ir. H. Juanda 27 ini menggelar Larung Sesaji dalam rangka peringatan 1 Suro (Pahargyan 1 Muharram 1432 H Condro Sengkolo 1 Suro Tahun 1944 Be) sebagai salah satu kekayaan budaya dan estetika simbolis masyarakat yang berakar pada nilai dan norma sosio kultural antara manusia dan Sang Pencipta yang syarat akan makna dan nilai mulia. Prosesi Larung Sesaji yang digelar pada hari Sabtu, 11 Desember 2010,sekitar pukul 14.00 WIB di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Mayangan, Kota Probolinggo tersebut berlangsung dengan sangat meriah.

“Kegiatan ini untuk memperingati tahun baru Islam dan tahun Jawa. Untuk melestarikan budaya nenek moyang. Nilai-nilai spiritual yang sudah ada sejak dulu dan hampir punah. Larung sesaji itu punya banyak makna. Ada nilai adi luhung yang terkandung di dalamnya.” Ujar Siman, Ketua Panitia Pelaksana dalam pelaksanaan Larung Sesaji tahun ini.

Ratusan masyarakat, yang sebagian besar adalah masyarakat di sekitar wilayah Pelabuhan Mayangan, rela berjubel-jubel untuk menyaksikan jalannya prosesi dari lokasi start (sebelah barat Kantor Pelabuhan) menuju area ritual di sisi dermaga pelabuhan. Bahkan di antara masyarakat yang berjubel di tempat tersebut, tampak pula beberapa mahasiswa dari Universitas Brawijaya, Malang yang sedang melaksanakan study tour di wilayah Pelabuhan Mayangan.

Tari Gampyong menjadi tarian pembuka pada prosesi Larung Sesaji. Rangkaian kesenian yang ikut mengiringi prosesi Larung Sesaji kali ini antara lain adalah kuda kencak dan reog yang ditampilkan oleh anak-anak, juga kesenian musik Seronen. Sementara itu, jenis sesaji yang dilarung pada kegiatan ini adalah hasil bumi semacam buah, sayuran, kepala sapi dan kepala kambing, polo pendem, ketan hingga beragam perlengkapan dapur.

Larung ini juga disebutkan sebagai bentuk selamaetan untuk keselamatan dan keseimbangan. “Istilahnya, harus santun terhadap alam karena kita tahu sendiri bahwa alam, akhir-akhir ini, sudah mulai begini (baca: murka, red.). Kami berharap supaya budaya Jawa dapat dilestarikan.” Lanjut Siman.

Tentunya harapan Siman tersebut bersinergi dengan harapan Pemerintah Kota Probolinggo. Sebagai salah satu budaya lokal, tentunya pemerintah berharap agar generasi muda Kota Probolinggo mampu menjaga agar warisan budaya ini tidak punah dan tergerus oleh roda jaman. “Putra Daerah” selaku generasi penerus kesenian dan kebudayaan, diharapkan mampu untuk tetap mengenali budaya dan jati diri bangsanya melalui warisan kebudayaan dan kesenian yang ada..

Secara khusus, geliat pelestarian kebudayaan di Kota Probolinggo saat ini dilakukan guna menginventarisir dan menjadikan gelaran budaya Larung Sesaji ini menjadi salah satu ikon kebudayaan Kota Probolinggo yang dapat “dijual” di kancah regional dan nasional, bahkan tak menutup kemungkinan di dunia internasional, serta memiliki implikasi positif bagi berkembangnya kepariwisataan di Kota Probolinggo.

Sementara itu Ketua PAMU, Ki Bambang Guco Suripono menjelaskan makna dari sesaji yang dilarung ke laut. “Karena setap jenis sesaji punya lambang-lambang. Misalnya kenapa tahun ini ada tambahan kepala kambing di samping kepala kepala sapi yang biasa kita larung setiap tahunnya.”

“Nyai Lanjer, penguasa Laut Utara, tahun ini meminta tambahan kurban kepala kambing. Di sini (jenis sesaji, red.) juga ada ubo rampe atau barang dapur untuk kehidupan berumah tangga. Ini adalah syarat untuk ruwatan.” Jelas Ki Guco kepada Suara Kota.
Sebelum ritual puncak Larung Sesaji dilaksanakan, selama tiga hari tiga malam, di rumah Ki Guco dilaksanakan rentetan acara menyambut bulan Suro. Diantaranya yaitu gebyar seni Reog Suranantan dan seni tari lainnya, macapatan, khataman Al-Qur’an dan ruwatan masal, hingga pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

Sesaat setelah acara seremonial di pelabuhan, Ki Guco memimpin ritual yang disebut sebagai Ujub Sesaji Larungan menyampaikan harapannya kepada pemerintah dan masyarakat yang datang di tempat itu. “Kami berharap kegiatan budaya yang bisa menjadi daya tari wisata ini semakin mendapat perhatian dari pemerintah. Melalui Larung Sesaji, kami berharap Probolinggo diberi keamanan dari segala bencana, ketabahan dan kesejahteraan.” Pungkas sesepuh PAMU ini. (stebby)

Advertisements

One Response to “LARUNG SESAJI, WUJUD PELESTARIKAN BUDAYA LOKAL”

  1. Pelaksanaan Larung Sesaji Bumi Segoro merupakan wujud rasa syukur pada Eyang Widhi,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: